Mari membangun Bangsa dengan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 21 Oktober 2011

Kajian Morfologi

Oleh: Yogianto
1. Pengertian Morfologi
Kata merupakan unsur penting dalam memahami suatu bahasa sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, kajian terhadap bahasa dapat difokuskan pada kata dan proses pembentukannya. Cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya disebut morfologi. Ramlan (1985) mengatakah bahwa morfologi merupakan salah satu cabang linguistik yang mempelajari atau mengkaji atau menelaah seluk beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap kelas kata dan makna kata. Atau dengan kata lain, bahwa morfologi mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal, maupun fungsi semantik. Morfologi berkaitan dengan kajian pembentukan kata melalui proses penggabungan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Kridalaksana (1996) mengatakan bahwa morfologi dipandang sebagai subsistem yang berupa proses yang mengolah leksem menjadi kata. Dalam pengertian ini leksem sebagai satuan leksikal, sedangkan kata sebagai satuan gramatikal. Berdasarkan penertian di atas, dapat dikatakan bahwa kajian terkecil dari morfologi adalah morfem dan kajian terbesar adalah kata. Perhatikan diagram berikut ini.
2. Morf, Morfem, dan Kata
2.1 Morf
Morf adalah satuan bentuk terkecil yang sudah mempunyai arti. Pada hakikatnya morf adalah deretan fonem. Karena itu morf-morf kita tuliskan secara fonemis. Dalam bahasa Indonesia kita jumpai kata seperti rumah, berumah, rumah-rumah, di rumah, dan sebagainya. Dengan melihat deretan bentuk itu saja, kita dapat memerikan bahwa ada bagian bentuk yang dapat kita pisahkan dengan mudah, yaitu rumah. Dengan demikian kita dapat menetapkan bahwa / r u m a h/, / b e r /, / d i/ merupakan satuan terkecil yang bermakna. Satuan-satuan itu masing-masing disebut dengan morf.
Satuan meN- yang mempunyai struktur fonologik mem-, men-, meny-, meng-, dan me-, misalnya pada membawa, mendatang, menyuruh, menggali, dan melerai. Bentuk-bentuk mem-, men-, meny-, meng-, dan me-, masing-masing disebut dengan morf, yang semuanya merupakan alomorf dari morfem meN-. Contoh lain, morfem ber-, yang terdiri dari morf ber- pada kata berjalan, morf be- pada kata bekerja, morf bel- pada kata belajar. Morf ber-, be-, dan bel-, ketiganya merupakan alomorf morfem ber-.
2.2 Morfem
Morfem adalah bentuk yang paling kecil yang mempunyai arti yang terdapat dalam pembentukan kata dari setiap bahasa. Sebuah morfem dapat terbentuk dari satu atau dua bunyi atau beberapa bunyi yang mempunyai sebuah unit yang bermakna. Sebuah morfem merupakan segmen terkecil dari bahasa yang harus memenuhi kriteria: (a) sebuah morfem adalah sebuah kata atau bagian dari kata yang mempunyai arti, (b) sebuah morfem tidak dapat dipisahkan ke dalam bentuk yang lebih kecil tanpa mengubah artinya atau tanpa bagian-bagian yang berati, dan (c) morfem dapat muncul pada lingkungan verbal tertentu dengan arti yang tetap. Kata memperbesar, misalnya, dapat dipilah sebagai berikut.
mem-perbesar
per-besar
Jika satuan besar dipilah lagi, maka be dan sar masing-masing tidak mempunyai makna. Satuan seperti mem-, per-, besar disebut morfem. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti besar, dinakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada satuan lain, seperti mem- dan per- dinamakan morfem terikat. Dengan batasan itu, maka sebuah morfem dapat berupa kata (seperti besar di atas), tetapi sebuah kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Contoh, kata memperbesar di atas adalah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- damn per- serta satu morfem bebas besar. Satuan besar itu sendiri terdiri satu morfem yang kebetulan juga satu kata.
Oleh karena itu, ditinjau dari kemampuannya untuk dipergunakan dalam tuturan, morfem itu dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas ialah morfem yang dalam tuturan biasa, mampu berdiri sendiri sebagai unsur tuturan. Morfem terikat tidak mampu berdiri sendiri dalam tuturan biasa. Setiap morfem bebas disebut dengan bentuk dasar atau asal, dan morfem terikat dapat berwujud afiks. Kata dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk kompleks dan dapat pula berbentuk tunggal. Bentuk tunggal terdiri atas sebuah morfem, sedangkan bentuk kompleks dapat terdiri atas lebih dari satu morfem. Morfem imbuhan selalu merupakan morfem terikat. Berdasarkan pentingnya morfem dalam berkombinasi dengan morfem lain dapat diklasifikasikan menjadi morfem dasar dan morfem imbuhan. Pada setiap kombinasi, morfem dasar itu selalu ada, karena memang menjadi dasar bentukan yang lebih besar daripada morfem dasar itu sendiri. Tetapi morfem imbuhan tidak selalu harus ada dalam kombinasi. Tidak pernah ada suatu bentuk yang hanya terdiri dari atas kombinasi dari morfem-morfem imbuhan saja.
2.3 Kata
. Kata adalah satuan bebas yang paling kecil, atau dengan kata lain, setiap satu satuan bebas merupakan kata. Jadi satuan-satuan rumah, duduk, penduduk, kedudukan, dan sebagainya, masing-masing merupakan kata, karena masing-masing merupakan satuan-satuan bebas. Satuan-satuan dari, kepada, sebagai, tentang, karena, meskipun, lah dan sebagainya, juga termasuk golongan kata. Satuan-satuan tersebut meskipun tidak mempunyai satuan bebas, tetapi secara gramatika mempunyai sifat bebas.
Satuan-satuan rumah makan, kamar mandi, kamar tidur, dan sebaginya sekalipun terdiri dari dua satuan bebas, juga termasuk golongan kata, karena satuan-satuan tersebut memiliki sifat sebagai kata, yang membedakan dirinya dari frase.
Berdasarkan contoh di atas jelas, bahwa kata itu dapat berupa morfem tunggal dan dapat berupa morfem kombinasi. Kata merupakan satuan yang lebih tinggi dari morfem, karena kata dapat dipergunakan secara langsung dalam tuturan, sedangkan morfem belum tentu. Ditinjau dari fungsinya sebagai unsur tuturan, ada dua macam kata, yaitu kata yang langsung dapat dipergunakan sebagai unsur tuturan, dan yang lebih dahulu harus melaui proses morfemis. Yang pertama berupa morfem tunggal bebas, dan yang kedua berupa morfem tunggal terikat. Berangkat dari uraian di atas, kata juga dapat diklasifikasikan menjadi kata leksikal, kata morfologis, dan kata semantis.
Kata mempunyai dua macam satuan, yaitu satuan fonologik dan satuan gramatikal. Sebagai satuan fonologik, kata terdiri dari satu atau beberapa suku, dan suku terdiri dari satu atau beberapa fonem. Kata belajar, terdiri dari tiga suku, yaitu be, la, dan jar. Suku be terdiri dari dua fonem, suku la terdiri dari dua fonem, suku jar terdiri dari tiga fonem. Sebagai satuan gramatik, kata terdiri dari satu atau beberapa morfem. Kata belajar terdiri dari dua morfem, yaitu morfem ber- dan morfem ajar.
2.3.1Kelas Kata Bahasa Indonesia
Perasalahan kelas kata/jenis kata sering timbul dalam pembahasan-pembahasa ahli bahasa selama ini. Banyak ragam pembagian kata yang dikemukakan ahli bahsa sejak permulaan perkembangan linguistik moderen sekarang ini. Para ahli bahasa modern, terutama ahli bahasa struktural membagi kelas kata berdasarkan ciri-ciri struktural yang formal, baik secara morfologis maupun secara sintaktis, yaitu bentuk-bentuk yang memberi ciri khusus terhadap kata-kata dan hubungan kata-kata dengan kata lainnya dalam membentuk kalimat. Kelas kata pada umumnya dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok kata utama (content words) dan kata tugas (function words). Dalam pembahasan ini kelas kata utama bahasa Indonesia dibedakan atas (1) verba, (2) nomina, (3) adjektiva, dan kelas kata (4) tugas.
2.3.1.1Verba
Kata yang berkatagori verba dapat diamati dari (1) benatuk morfologis, (2) perilaku sintaksis, (3) perilaku semantisnya secara menyeluruh dalam kalimat. Di samping itu, dapat diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri berikut ini. (1) verba berfungsi utama sebagai predikat dalam kaliimat, walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain; (2) verba mengandung makna dasar perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau keadaan yang buka sifat atau kualitas; dan (3) verba, khususnya bermakna keadaan, tidak daat diberi prefiks –ter yagn berarti paling. Ciri lain verba, dari perilaku dalam frasa, memiliki kemungkinan untuk didampingi partikel tidak, tidak dapat didampingi partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak.
Berdasarkan ciri tersebut di atas, bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba, yakni:
(1) verba asal: verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis, seperti kata ada, datang, mandi pergi, tidurm tinggal, suka, tiba, tiba, turun, dan sebagainya; (2) verba turunan: verba yang harus atua memakai afiks, bergantung pada tingkat keformalan bahasa/atau pada posisi sintaksisnya. Verba turunan dibagi menjadi tiga sub-kelompok, yakni (a) verba yang pada dasarnya adalah dasar bebas, tetapi memrlukan afiks supaya dapat berfungsi sebagai verba, seperti kata mendarat, melebar, menering, membesar, berlayar, bersepeda, bertelur, bersuami dan sebagainya; (b) verba yang dasarnya adalah verba bebas yang dapat pula memilii afiks (manasuka), seperti kata (mem)baca, (mem)beli, (meng)ambil, (be)kerja,(men)dengar, (ber)jalan, dan sebagainya; dan (c) verba yang dasarnya adalah dasar terikat, dan tentunya memerlukan afiks, seperti kata bertemu, bersua, menemukan, menyelenggarakan, mengungsi, berjuang, dan sebagainya.
Di samping itu, verba turunan dapat juga berupa reduplikasi (kata ulang), seperti kata berjalan-jalan, memukul-mukul, makan-makan, dan sebagainya, dan kata majemuk seperti kata naik haji, campur tangan, cuci muka, mempertanggungjawabkan, dan sebagainya.
2.3.1.2Nomina
Nomina yang sering juga disebut kata banda, dapat dilihat dari dua segi, semantis dan segi sintaksis. Dari segi semantis kita dapat mengatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Dengan demikian kata seperti guru, kucing, meja,dan kebangsaan adalah nomina. Dari segi sintaksisnya, mempuyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, dan objek atau pelengkap; (2) nomina tidak dapat dijadikan bentuk ingkar dengan tidak. Kata pengingkarnya adalah bukan dan tidak pernah kontras dengan tidak. Untuk mengingkarkan kalimat Dia itu guru harus dipakai kata bukan: Dia itu bukan guru; dan (3) nomina lazimnya dapat diikuti dengan adjektifa baik secara langsung maupun dengan perantara kata yang. Dengan demikian, buku dan rumah adalah nomina karena dapat bergabung menjadi buku baru, rumah mewah, atau buku yang baru dan rumah yang mewah.
Berdasarkan bentuknya, nomina dibedakan atas:
(1) nomina dasar, seperti gambar, meja, tahun, semangat, malam, minggu, kesatria, Farida, adik, bawah, itu, ini, Madura, selasa, dan sebagainya;
(2) nomina turunan (berafiks, berreduplikasi, hasil, gabungan, proses, yang berasak dari berbagai kelas, seperti: pembeli, bembelian, kotoran, pembuatan, persatuan, kekuatan, pemalas, pendorong, pendaftaran, perjanjian, rumah-rumah, siapa-siapa, sayur-mayur, surat-surat mobil-mobilan, tanah air, kutu buku, sepak bola, darah daging, dan sebagainya.
(3) nomina paduan leksem, seperti antarbangsa,, paranormal, multidisiplin, tritunggal, dan sebagainya.
Di samping nomina, sebagaimana diuraikan di atas ada nomina yang mengacu ke nomina yang lain. Nomina itu adalah (1) pronomina dan (2) nomeralia. Pronomina adalah kategori untuk menggantikan nomina. Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia yaitu (1) pronomina persona, seperti saya, aku, dia, -nya, dia beliau, kami, saudara dan sebagainya, (2) pronomina petunjuk, seperti ini, itu, anu, sini, situ, sana, tersebut, dan sebagainya, dan (3) pronomina penannya, seperti kata apa, siapa, mana, kenapa, mengapa, bagaimana, kapan, dan sebagainya.
Nomeralia adalah kategori yang dapat (1) mendampingi monina dalam kontruksi sintaksis, (2) mempunyai potensi untuk mendampingi numeralia lain, (3) tidak bisa bergabung dengan kata tidak atau dengan sangat. Numeralia dikategorikan sebagai berikut: (1) numeralia utama/pokok, seperti kata nol, satu, sebelas, seratus, eka, catur, (2) numeralia tingkat, seperti kata kesatu atau pertama kedua, kesepuluh, dan sebagainya; (3) numeralia pecahan, sepeti kata seperdua, dua setengah, tiga perlima, dua koma lima, dan sebagainya.
Selanjutnya, bahasa Indonesia memiliki sekelompok kata yang membagi-bagi maujud dalam kategori tertentu menurut bentuk rupanya. Kategori tersebut disebut penggolongan nomina, seperti kata orang, ekor, buah, batang, bidang, bilah, utas dan sebagainya.
2.3.1.3 Adjektiva
Adjektiva yang disebut juga kata sifat atau kata keadaan, adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan orang, benda, atau binatang. Adjektiva memiliki ciri antara lain (1) dapat dibeti keterangan pembanding, seperti kata lebih, kurang, dan paling: lebih besar, kurang baik, paling mahal, dan sebagainya; (2) dapat diberi keterangan penguat, seperti kata sangat, amat, benar, murah sekali, terlalu murah;(3) dapat diingkari dengan kata ingkar tidak, tidak bodoh, tidak salah, tidak benar, dan sebagainya; (4) dapat diulang dengan awalan se- dan akhiran -nya: sebaik-baiknya,serendah-rendahnya, sejelek-jeleknya; (5) pada kata tertentu dapat berakhir antra lain dengan –er, -(w), -iah, - if, -al, dan ik: nonorer, duniawi, ilmiah, negatif, formal, dan sebagainya.
Bentuk adjektiva, pada umumnya membentuk monomorfemis; artinya, terdiri atas satu morfem. Namun, ada pula adjektiva yang lebih sati morfem dan karena ini disebut polimorfemis. Berikut adalah contoh ajektiva yang monoforfemis, asin, anggun, cerah, matang, kurus, lama, mewah, lemah, murah, biru, besar, ramai, dan sebagainya. Adjektiva yang polimorfemis dibentuk dengan tiga cara, yaitu (1) afiksasi proses pembubuhan afiks), (2) reduplikasi (proses pengulangan), (3) komposisi (pemaduan atau pemajemukan) dengan kata lain. Adjektiva yang berupa afiksasi, seperti alami, ilmiah, manusiawi, hewani, lahiriah, nabati, penakut, pemalas, pengecut, pemarah, pendendam, dan sebagainya. Contoh adjektiva yang berupa pemaduan dengan kata lain, seperti berat lidah, besar mulut, buta huruf, padat karya, ringan tangan, aman, tenteram, cantik jelita, dan sebagainya.
2.3.1.4 Kata Tugas (Function Words)
Kata tugas adalah segala macam kata yang tidak termasuk salah satu jenis kata (verba, nomina, adjektiva, maupun adverbia). Kata tugas hanya mempunyai arti gramatikal, tetapi tidak memiliki arti lesksikal. Ini berarti bahwa arti suatu kata tugas ditentukan bukan oleh suatu kata itu secara lepas, tetapi oleh kaitannya dengan kata lain dalam frasa atau kalimat. Cair lain dari kata tugas adalah bahwa hampir dari semua kata tugas tidak memiliki perubahan bentuk. Seperti hanya dalam bahasa-bahasa lain, kata tugas dalam bahasan Indoneisa tidak mudah terpengaruh ole bahasa asing.
Berdasarkan peranannya dalam frasa atau kalimat, kata tugas dibagi menjadi lima kelompok: (1) preposisi, (2) konjungsi, (3) interjeksi, (4) artikel, (5) partikel. Preposisi atau kata depan, adalah kata tugas yang bertugas sebagai unsur pembentuk frasa preposisional. Preposisi terletak pada bagian awal frasa dan unsur yang mengikutinya dapat berupa nomina, adjektiva, atau verba. Dengan demikian, dari nomina pasar dapat kita bentuk frasa preposisional ke pasar dan dengan mengail. Jika ditinjau dari bentuknya, preposisi dapat monomorfemis atau poliformis. Preposisi monomorfemis adalah preposisi yang terdiri hanya atas satu morfem dan karena itu tidak dapat diperkecil lagi bentuknya. Berikut adalah preposisi dalam bahasa Indonesia beserta beberapa fungsinya: (1) preposisi yang menandai hubungan peruntukan: bagi, untuk, buat, guna; (2) menandai hubungan asal, arah, dari suatu tempat, atau milik: dari; (3) menandai hubungan kesertaan atau cara: dengan; (4) menandai hubungan termpat berada: di; (5) menandai hubungan sebab; karena dan sebab; (6) menandai hubungan arah menuju suatu tempat: ke; (7) manandai hubungan pelaku atau yang dianggap pelaku: oleh; (8) menandai hubungan tempat atau waktu: pada; (9) menandai hubugan ikhwal peristiwa: tentang; dan (10) menandai hubunga waktu dari saat yang satu ke saat yang lain: sejak. Preposisi polimorfemis terdir atas dua macam: (1) yang dibentuk dengan memakai afiks, seperti selama, bagaikani dan (2) yang dibentuk dengan menghubungkan dua kata atau lebih, seperti selain dari dan sampai dengan/ke. Sedangkan preposisi poliforfemis, seperti kata dari pada, kepada, oleh karena, oleh sebab, sampai dengan/ke, selain dari. Konjungsi atau kata penghubung adalah kata tugas yang menghubungkan dua klausa atau lebih. Dilihat dari segi perilaku sintaksisnya, konjungsi dibagi menjadi lima kelompok: (1) konjungsi Koordinatif, yaitu konjungsi yang menghubungkan dua unsur atau lebih dan kedua unsur itu memiliki status sintaksis yang sama, seperti, dan, atau, tetapi; (2) konjungsi sub koordinatif, yaitu konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama, seperti: sesudah, setelah, sementara, sambil, tatkala, sejak, sampai, jika, kalau, umpamannya, seakan-akan, sebab, sekalipun, supaya, dan sebagainya; (3) konjungsi korelatif yaitu konjungsi yang menghubungka dua kata, frasa, atau klausa; dan kedua unsur itu memiliki status sintaksis yang sama, seperti:
baik........... maupun.............
tidak hanya................ tetapi............
demikian rupa.......... sehingga...........;
(4) konjungsi antar kalimat yang menghubungkan satu kalimat deengan kalimat yang lain, seperti biarpun demikian, meskipun demikian, lagi pula, sesungguhnya, dan sebagainya; (5) konjungsi antar paragraf, yaitu konjungsi yang digunakan untuk memulai suatu paragraf, seperti: ada pun, alkisah, dalam pada itu, akan hal, dan sebagainya.
Interjeksi atau kata seru adala kata tugas yang mengungkapkan rasa hati manusia. Untuk memperkuat rasa hati, sedih, herah, dan jijik, orang memakai kata tertentu disamping kalimat yang menganduang makna pokok yang dimaksud. Pada umumnya interjeksi mengacu ke sikap yang (a) negatif, (b) positif, (c) megambarkan keheranan, dan (d) netral atau bercampur, bergantung pada makna kalimat yang mengiringnya. Berikut ini adalah contoh-contoh interjeksi tersebu: cih, cis, idih, brengsek, aduhai, syukur, ayo, ai, wahai, astaga, dan sebagainya.
Partikel adalah kata tuga yang membatasi jumlah nomina. Dalam bahasa Indonesia ada tiga kelompok artikel (1) artikel yang menyatakan jumlah tunggal, seperti sang, sri, hang, dang; (2) artikel yang mengacu pada makana kelompok, seperti para; dan (3) artikel yang menyatakan maksud netral, seperti si. Partikel adalah kata tugas yang berupa klitika kerena selalu diletakkan pada kata yang mendahuluinya. Partikel yang dimaksud adalah kah (bersifat manasuka), lah (digunakan dalam kalimat perintah), tah (dipakai dalam kalimat tanya.
3.Proses Morfologis
3.1 Pengertian Proses Morfologis
Proses morfologis ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya (Ramlan, 1985). Lebih lanjut Ramlan mengatakan bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologis, yaitu (1) Afiksasi (proses pembubuhan afiks), (2) proses pengulangan, dan (3) proses pemajemukan. Sedangkan Kridalaksana (1996), mengatakan bahwa proses morfologis meliputi (1) Afiksasi, (2) reduplikasi, (3) komposisi, (4) abreviasi, (5) derivasi zero, (6) derevasi balik, dan (7) metanalisis.
3.2 Afiksasi (Proses Pembubuhan Afiks)
Afiksasi adalah proses mengubah leksem mejadi kata kompleks. Dalam proses ini, leksem (1) berubah bentuknya, (2) menjadi kategori kelas kata tertentu, (3) berubah maknanya. Ramlan (1985) bahwa afiksasi merupakan proses pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik satuan berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks. Kata yang dibentuk dari satuan lain (kata lain) pada umumnya mengalami tambahan bentuk pada kata dasarnya. Kata seperti berjalan, bersepeda, bertiga, ancaman, gerigi, berdatangan terdiri atas enam bentuk dasar jalan, sepeda, tiga, ancam, gigi, dan datang, yang masing-masing dilekati bentuk yang berwujud ber-, ber-, ber-, -an, -er-, ber-an. Bentuk (morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata dinamakan afiks atau imbuhan. Atau dengan menggunakan konsep Ramlan (1985), afiks adalah suatu satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata baru. Afiks yang dilekatkan di bagian muka suatu bentuk dasar disebut prefiks, seperti ber- pada kata berjalan, bersepeda, dan bertiga. Satuan atau morfem terikat, sperti ber-, meng,-, peng-, per- adalah prefiks atau awalan. Apabila satuan gramatik (morfem terikat), dilekatkan dibagian belakang kata, maka namanya sufiks atau akhiran, seperti –an pada kata ancaman, -kan pada kata dapatkan, -i pada kata dinamai. Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan di tengah bentuk dasar. Satuan seperti -er- dan -el- pada kata gerigi dan geletar adalah infiks atau sisipan. Gabungan prefiks dan sufiks yang membentuk suatu satuan disebut konfiks. Satuan berdatangan, misalnya, dibentuk dari bentuk dasar datang dan konfiks ber-an yang secara serentak diimbuhkan.
Sementara itu, Kridalaksana (1989) mengklasifikasikan dan menganalisis atas: (1) prefiks, (2) sufiks, (3) infiks, (4) konfiks, (5) simulfiks, (6) superfiks, (7) interfiks, (8) transfiks, dan (9) kombinasi afiks.
3.3 Proses Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan satuan gramatikal, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak, disebut proses pengulangan (reduplikasi). Hasil pengulangan itu disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang disebut bentuk dasar. Ramlan (1985) mengemukakan beberapa ciri proses pengulangan, yaitu (1) pengulangan pada umumnya tidak mengubah kategori kelas kata (golongan kata), (2) proses pengulangan dapat dikembalikan pada bentuk dasarnya, (3) bentuk dasar dalam proses pengulangan selalu berupa satuan yang terdapat dalam penggunaan bahasa. Bentuk pengulangan berjalan-jalan, bentuk dasarnya adalah berjalan, berpacar-pacaran bentuk dasarnya adalah berpacaran, rumah-rumah bentuk dasarnya adalah rumah.
Satuan-satuan kemerah-merahan (adjektiva) bentuk dasarnya merah (adjektiva); rumah-rumah (nomina) bentuk dasarnya adalah rumah (nomina); kereta-keretaan (nominal) bentuk dasarnya adalah kereta (nomina); berlari-lari (verba) bentuk dasarnya adalah berlari (nomina). Berdarkan contoh-contoh tersebut dapat dikatakan bahwa bentuk dasar bagi kata ulang yang termasuk kelas kata nomina, berupa kata nomina; bentuk dasar bagi kata ulang yang termasuk kelas kata verba, berupa kata verba; bentuk dasar bagi kata ulang yang termasuk kelas kata adjektiva, berupa kata adjektiva.
Proses pengulangan dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
(1) Pengulangan seluruhnya (penuh), yaitu pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan pembubuhan afiks, seperti sepeda-sepeda, buku-buku, kebaikan-kebaikan, rumah-rumah, dan sebagainya;
(2) Pengulangan sebagian, yaitu pengulangan sebagian dari bnetuk dasarnya. Di sini bentuk dasar dari kata ulang itu tidak diulang seluruhnya. Hampir semua bentuk dasar yang termasuk pengulangan ini berupa bentuk kompleks, misalnya kata mengambil menjadi mengambil-ambil, melambaikan menjadi melambai-lambaikan, membaca menjadi membaca-baca;
(3) Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, yaitu pengulangan yang mengulang seluruh bentuk dasar dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Artinya, pengulangan terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks, misalnya kereta-keretaan, mobil-mobilan, kuda-kudaan, dan sebagainya;
(4) Penguangan dengan perubahan fonem, misalnya bolak-balik, gerak-gerik, serba serbi, lauk-pauk, sayur mayur, dan sebagainya.
Kridalaksana (1996) mengklasifikasi proses pengulangan atas tiga bentuk. Ketiga bentuk pengulangan tersebut sebagaimana diuraikan berikut ini.
(1) Proses pengulangan fonologis, yaitu pengulangan yang bersifat fonologis, tidak ada penglangan leksem, seperti dada, pipi, paru-paru, kuku, dan sebagainya;
(2) Proses pengulangan morfemis, yaitu pengulangan yang mengalami perubahan makna gramatikal atas leksem yang diulang. Pengulangan morfemis inilah yang menjadi pembicaraan dalam kajian morfologi; dan
(3) Proses pengulangan sintaksis, yaitu proses pengulangan yang terjadi atas leksem yang menghasilkan satuan yang berstatus klausa. Jadi, berada di luar cakupan kajian morfologi, seperti satuan jauh-jauh datang juga orang itu, Asam-asam dimakan juga.
Di sisi lain Kridalaksana juga membagi proses pengulangan atas:
(1) Pengulangan dwipurwa, yaitu pengulangan suku pertama pada leksem pelemahan vokal, seperti tetangga, lelaki, tetamu, sesama, dan sebagainya;
(2) Pengulangan dwilingga, yaitu pengulangan leksem, seperti rumah-rumah, makan-makan, pagi-pagi, kuda-kuda, dan sebagainya;
(3) Pengulangan dwilingga salin swara, yaitu pengulangan leksem dengan variasi fonem, seperti modar-mandir, pontang-panting, bolak-balik, corat-coret, dan sebagainya;
(4) Pengulangan dwiwasana, yaitu pengulangan bagian belakang dari leksem, seperti pertama-tama, perlahan-lahan, sekali-kali, dan sebagainya; dan
(5) Pengulangan trilingga, yaitu pengulangan dengan anamatope tiga kali dengan variasi fonem, seperti dag-dig-dug, cas-cis-cus, dar-dir-dor, ngak-ngek-ngok, dan sebagainya.
3.4Pemajemukan (Kompositum)
Pemajemukan merupakan pemaduan dua kata atau lebih yang membentuk satu kata. Karena membentuk satu kata, maka maknanya pun satu. Dalam istilah tatabahasa tradisional istilah pemadun lebih dikenal dengan nama pemajemukan. Dalam bahasa Indonesia pemaduan satuan-satuan kata untuk membentuk satu kata sangat produkatif, khusussnya dalam pembentukan istilah-istilah baru. Ramlan (1985) menyatakan bahwa kata majemuk ialah kata yang terdiri dari dua kata atau lebih sebagai unsurnya. Di samping itu, ada juga kata majemuk yang terdiri dari satu kata dan satu pokok kata, sebagai unsurnya, misalnya daya tahan, daya juang, kamar tunggu, kamar kerja, ruang baca, tenaga kerja, kolam renang, jarak tembak, ikat pinggang, dan ada pula yang terdiri dari pokok kata semuanya, seperti lomba lari, jual beli, simpan pinjam, dan masih banyak lagi.
Kridalaksana (1996) mengatakan bahwa pemajemukan (komposisi) adalah proses penggabungan dua leksem atau lebih yang membentuk kata. ”Output” proses itu disebut paduan leksem atau kompositum yang menjadi calon kata majemuk. Deskripsi Kridalaksana ini menempatkan kata majemuk sebagai satuan yang berbeda dari frasa. Frasa adalah gabungan kata bukan gabungan leksem. Yang mengolah kata-kata hingga menjadi frasa adalah proses sintaktis, sedangkan kata majemuk merupaka proses morfologis. Lebih lanjut Kridalaksana mendeskripsi perbedaan kata majemuk dan frasa sebagai berikut.
(1)Ketaktersisipan; artinya di atara unsur-unsur kata majemuk (kompositum) tidak dapat disisipi apa pun. Sapu tangan, rumah sakit, kursi malas adalah kata majemuk, karena tidak dapat disipi apa pun. Sedangkan anak malas, alat negara, sapu lidi merupakan frasa, karena dapat disisipi partikel dari atau yang atau untuk, menjadi anak yang malas, alat dari negara, dan sapu dari lidi. Satuan kamar mandi kelihatannya sama dengan orang mandi. Keduanya terdiri dari nomina dan verba, tetapi jika kita teliti dengan benar, ternyata kedua satuan itu berbeda. Pada orang mandi kata orang dapat diikuti kata itu, misalnya orang itu mandi, dan kata mandi dapat didahului kata sedang, akan, sudah menjadi orang itu sedang mandi, orang itu akan mandi, orang itu sudah mandi. Dengan kata lain, unsur-unsur dalam orang mandi dapat disisipi atau dipisahkan. Berbeda dengan unsur-unsur dalam kamar mandi yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian satuan kamar mandi merupakan kata majemuk.
(2)Ketakterluasan; artinya unsur-unsur kata majemuk (komsitum), masing-masing tidak dapat diafiksasikan atau dimodifikasikan. Perluasan untuk kata majemuk hanya mungkin untuk semua kompnennya sekaligus. Misalnya, kereta api dapat dimodifikasi menjadi perkeretaapian.
(3)Ketidakterbalikan; artinya unsur-unsur kata majemuk (kompositum) tidak dapat dipertukarkan. Gabungan seperti bapak ibu, pulang pergi, dan lebih kurang, tidak digolongan kata majemuk, melainkan frasa koordinatif karena dapat dibalikkan (gabungan kata semacam ini memberi kesempatan kepada penutur untuk memilih mana yang akan didahulukan). Konstruksi seperti hutan belantara, bujuk rayu bukanlah frasa, melainkan kata majemuk.
3.5 Derivasi Zero
Derivasi Zero merupakan proses morfologis yang tidak terjadi perubahan bentuk. Jadi dalam derivasi zero ini leksem menjadi kata tunggal, misalnya kata makan, minum, mohon, dan lain-lain.
3.6 Derivasi Balik
Derivasi balik merupakan proses morfologis yang inputnya satuan tunggal dan outputnya adalah kata kompleks. Proses pembentukan ini karena bahasawan yang dengan sengaja membentuknya berdasarkan pola-pola yang ada tanpa mengenal unsur-unsurnya. Akibatnya terjadi bentuk yang secara historis tidak diramalkan, misalnya, kata pungkir dalam dipungkiri yang dipakai orang karena mengira bentuk itu merupakan padanan pasif dari kata memungkiri (padahal kata pungkir tidak ada dalam bahasa Indonesia, yang ada adalah mungkir yang berasal dari bahasa Arab). Demikian juga kata ketik dan pengapakan.
3.7 Abreviasi (Pemendekan)
Abreviasi (pemendekan) merupakan proses morfologis yang berupa penanggalan satu atau beberapa satuan kata atau kombinasi kata, sehingga membentuk kata baru. Istilah lain untuk abreviasi adalah pemendekan, sedang hasil prosesnya disebut kependekan. Ada beberapa jenis abreviasi, sebagaimana diuraikan berikut ini. (1) Pemenggalan, yaitu proses pemendekan yang mengekalkan salah satu bagian kata atau leksem, seperti Prof. (profesor), Bu (Ibu), Pak (Bapak), dan sebagainya.
(2) Kontraksi, yaitu proses pemendekan yang meringkaskan kata atau leksem dasar atau gabungan kata atau leksem dasar, seperti tak (dari tidak), takkan (dari tidak akan), berdikari (dari berdiri di atas kaki sendiri), rudal (dari peluru kendali), dan sebagainya;
(3) Akronim, yaitu pembentukan kata melalui penggabungan huruf-huruf awal urutan kata atau bagian tertentu dari kata-kata yang berurutan, misalnya kata raker (rapat kerja), rapim (rapat pimpinan), Polwan (Polisi Wanita), dan sebagainya dan
(4) Penyingkatan, yaitu salah satu proses pemendekan berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf, seperti KKN (Kuliah Kerja Nyata), DKI (daerah Khusus Ibukota), DPR (dewan Perwakilan Rakyat, dsb (dan sebagainya), dll (dan lain-lain).
(5) Lambang Huruf, yaitu proses pemendekan yang menghasilkan satu huruf atau lebih yang menggambarkan konsep dasar kuantitas, satuan, atau unsur, seperti Kg. (Kilogram), g (gram), cm (Sentemeter), dan sebagainya.
4.Proses Morfofonemik
Morfofonemik adalah suatu kajian tentang perubahan-perubahan pada fonem yang disebabkan oleh hubungan antara dua morfem atau lebih. Morfofonemik merupakan subsistem yang menghubungkan morfologi dan fonologi. Di dalamnya dipelajari bagaimana morfem yang direalisasikan dalam tingkat fonologi. Proses morfofonemik merupakan peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia hanya terjadi dalam realisasi pertemuan morfem dasar dengan realisasi afiks, baik prefiks, sufiks, infiks maupun konfiks.
Dalam bahasa Indonesia yang terkenal ialah perubahan-perubahan fonem nasal yang berwujud /m/ di depan fonem /b/, /p/, /m/, /t/, /d/, /j/, /c/ dan lain-lain. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia sedikitnya terdapat tiga proses morfofonemik, yaitu (1) proses perubahan fonem, (2) proses penambahan fonem, dan (3) proses hilangnya fonem.
4.1 Proses Perubahan Fonem
Proses perubahan fonem, misalnya terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya. Fonem /N/ pada kedua morfem itu berubah menjadi /m, n, n, n/, hingga morfem meN- menjadi mem-, men-, meny-, dan meng-, dan morfem peN- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, peng-. Perubahan itu terhgantung pada bentuk dasar yang mengikutinya.
(1) Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /p, b, f/, misalnya meN + paksa menjadi memaksa; peN- + periksa menjadi pemeriksa; meN- + bantu menjadi membantu; peN- + bantu menjadi pembantu; meN- + fitnah menjadi memfitnah; peN- + fitnah menjadi pemfitnah. Contoh lain seperti berikut ini.
/meN-/ + /bawa/ /membawa/
/meN-/ + /produksi/ /memproduksi/
/meN-/ + /fatwa/ /memfatwakan/
(2) Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikuti berawal dengan fonem /t, d, s/, misalnya meN- + tulis menjadi menulis; peN- + tulis menjadi penulis; meN- + dapat menjadi mendapat; peN- + dapat menjadi pendapat; meN- + Sukses menjadi mensukseskan. Perhatikan contoh lain berikut ini.
/meN-i/ + /taat/ /mentaati/
/meN-/ + /duga/ /menduga/
/meN-/ + /sinyalir/ /mensinyalir/
(3) Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /s, s, j, c/ , misalnya meN- + sapu menjadi sapu; peN + sapu menjadi penyapu; meN- + jual mejadi menjual; peN- + jual menjadi penjual; meN- + coba menjadi mencoba; peN- + curi menjadi pencuri Perhatikan contoh lain berikut ini.
/peN-/ + /sulu/ /penyuluh/
/meN-i/ + /suka/ /menyukai/
/meN- + /jahit/ /menjahit/
(4) Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k, g, x, h, dan vokal/, misalnya meN- + kacau menjadi mengacau; peN- + kacau menjadi pengacau; meN- + garis menjadi menggaris; peN- + garis menjadi penggaris; meN- + angkut menjadi mengangkut; peN- + angkut menjadi pengangkut; meN- + hukum menjadi menghukum; peN- + hukum menjadi penghukum. Perhatikan contoh lain berikut ini.
/meN-/ + /kutip/ /mengutip/
/meN- + /gaji/ /menggaji/
/meN-/ + / hasut/ /menghasut/
/meN-i/ + /hianat/ /menhianati/
4.2 Proses Penambahan Fonem
Proses penambahan fonem, terjadi sebagai akibat pertemuan meN- dengan bentuk dasarnya yang terdiri dari satu suku. Fonem tambahannya adalah /e/ , sehingga meN- berubah menjadi menge-. Perhatikan contoh berikut ini.
/meN-/ + / bom/ menjadi /mengebom/;
/peN-/ + / cat/ menjadi /pengecat/;
/meN-/ + / bor/ menjadi /mengebor/;
/ peN-/ + / bor menjadi /pengebor/
/pe-an/ + /tik/ menjadi /mengetik/.
Akibat pertemuan morfem –an, ke-an, peN-an dengan bentuk dasarnya, terjadi penambahan fonem /?/ apabila bentuk dasarnya berakhir dengan vokal /a/, penambahan /w/ apabila bentuk dasarnya itu berakhir dengan /u, o, aw/, dan terjadi penambahan /y/ apabila bentuk dasar itu berakhir dengan /i, ay/, misalnya -an + hari menjadi hari an; ke-an + raja menjadi keraja?an; peN-an + temu menjadi pertemu an; peN- an + ada menjadi pengada?an; dan sebagainya. Perhatiakan contoh berkut ini.
/ke-an/ + /pulau /kepula an/
/ -an/ + /serbu/ /serbu an/ Penambahan fonen /w/
/per-an/ + /took/ /pertoko an/
/ke-an/ + /tinggi/ /ketinggi an/
/ -an/ + /tepi/ /tepi an/ Penambahan fonem /y/
/pe-an/ + /nanti/ /penanti an/
4.3 Proses Hilangnya Fonem
Proses hilangnya fonem /N/ pada meN- dan peN- terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y, w, dan nasal/, misalnya meN- + lerai menjadi melerai; peN- + lerai menjadi pelerai; meN- + rusak menjadi merusak; peN- + rusak menjadi perusak; meN- + wakil menjadi mewakili; peN- + waris menjadi pewaris; meN- + yakin menjadi meyakinkan; peN- + lupa menjadi pelupa; dan sebagainya.
Fonem /r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- hilang sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan bentuk dasar yang berawal dengan /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir /er/, misalnya ber- + rantai menjadi berantai, ber- + ternak menjadi beternak; per- + raga menjadi peraga; ter- + rasa menjadi terasa; dan sebagainya. Fonem-fonem /p, t, s, k/ pada awal morfem hilang akibat pertemuan dengan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem itu, misalnya meN- + pakai menjadi memakai; meN- + tulis menjadi menulis; peN- + pakai menjadi pemakai; meN- + karang menjadi mengarang; peN- karang menjadi pengarang, dan sebagainya. Perhatikan contoh lain berikut ini.
/’anak/ + /-nda/ /ananda/ /k/
/sejarah/ + /wan/ /sejarawan/ /h/
/’ilmiah/ + / wan/ / ’ilmiawan/ /h/
/ber-/ + /rumah/ /berumah/ /t/
/per-an/ + /raya/ /perayaan/ /r/
/ter-/ + /perdaya/ /terpedaya/ /r/
/meN-kan/ + /kirim/ /mengirimkan/ /k/ luluh
/meN-i/ + /kirim/ /mengirim/ /k/ luluh
/meN-/ + /tangkap/ /menangkap/ /t/ luluh/
/meN- + /pakai/ /memakai/ /p/ luluh Daftar Rujukan
Alwasilah, A. Chaedar. 1992. Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa.
Kridalaksana, Harimurti. 1996. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Purwo, Bambang Kaswanti (Ed.). 2000. Kajian Serba Linguistik untuk Anton Moliono Pereksa Bahasa. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atmajaya.
Ramlan, M. 1985. Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi suatu Tinjauan Deskriptif. Yokyakarta. C.V. Karyono.
Rusyana, Yus dan Samsuri (eds.). 1983. Pedoman Penulisan Tatabahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sampson, Geoffrey. 1980. Schools of Linguistics Competition and Evaluation. London: Hutchinson.
Samsuri. 1988. Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, P2LPTK.
Samsuri. 1987. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta: Erlangga.
Dardjwidjojo, Soenjono. 1983. Beberapa Aspek Linguistik Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University Press.
Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.

Rabu, 19 Oktober 2011

PEMBELAJARAN MENYIMAK CERITA ANAK DI SEKOLAH DASAR MELALUI TEKNIK PAIRED STORYTELLING

Oleh: Septia Sugiarsih, Universitas Negeri Yogyakarta
Pendahuluan
Keterampilan menyimak tidak dapat dipisahkan dari keterampilan berbahasa yang lain, yaitu keterampilan berbicara, membaca, dan menulis (Sriyono, 2009). Keberhasilan seseorang dalam menyimak dapat diketahui dari bagaimana penyimak memahami dan menyampaikan informasi dari simakan secara lisan atau tertulis. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan menyimak cukup kompleks jika penyimak ingin menangkap makna yang sesungguhnya dari simakan yang mungkin tidak seutuhnya tersurat, sehingga penyimak harus berusaha mengungkapkan hal-hal yang tersirat.
Hal ini dapat dilihat dari peranan keterampilan menyimak terhadap keterampilan berbahasa. Sriyono (2009) mengatakan peranan menyimak sebagai berikut (1) keterampilan menyimak merupakan dasar yang cukup penting untuk keterampilan berbicara, karena apa yang akan kita ucapkan dalam berbicara merupakan hasil simakan dari pembicaraan orang lain; (2) keterampilan menyimak juga merupakan dasar bagi keterampilan membaca atau menulis. Ini berarti bahwa informasi yang kita peroleh dari menyimak sebagai bekal kita untuk bisa memahami apa yang dituliskan orang lain lewat tulisan. Informasi yang kita peroleh dari menyimak juga sebagai bekal kita dalam melakukan kegiatan menulis, karena apa yang kita tulis itu bisa bersumber dari informasi yang telah kita simak. (3) penguasaan kosakata pada saat menyimak akan membantu kelancaran membaca dan menulis. Sejalan dengan pendapat Sriyono, Sabarti Akhadiah (1993:149) mengemukakan bahwa peranan menyimak sebagai berikut; (1) dasar berlajar berbahasa; (2) penunjang keterampilan berbicara, membaca, dan menulis; (3) pelancar komunikasi lisan; (4) penambah informasi atau pengetahuan.
Proporsi kegiatan menyimak dalam proses pembelajaran bahasa lebih besar jika dibandingkan dengan kegiatan berbahasa lainnya. Seorang ahli Amerika Serikat, Birt (Haryadi, 1997:17) telah melakukan penelitian tentang kegiatan menyimak mahasiswa Stephen College Girls. Hasil yang diperoleh adalah 42% untuk kegiatan menyimak, 25% kegiatan berbicara, 15% kegiatan membaca, dan 18% untuk kegiatan menulis. Hal ini berarti bahwa dalam berbagai kegiatan pada umumnya hanya sebagian kecil orang yang dapat menggunakan kesempatan untuk berperan sebagai pembicara, dan jauh lebih besar yang menjadi penyimak.
Hasil penelitian Birt ini didukung oleh Rankin (Cox, 1998:151) yang menyatakan bahwa dalam kehidupan suatu masyarakat dijumpai porsi kegiatan: 45% untuk menyimak, 30% untuk berbicara, 16% untuk membaca, dan hanya 9% untuk menulis. Dari hasil penelitian Rankin ini membuktikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidak pernah lepas dari kegiatan menyimak, seperti menyimak cerita, berita, laporan, iklan, petunjuk dan lain-lain. Walaupun kegiatan menyimak merupakan kegiatan yang dominan dan memiliki peran yang sangat besar, namun pembelajaran menyimak di sekolah sampai sekarang kurang mendapat perhatian dan terkesan kurang penting karena tidak diujikan dalam Ujian Akhir Nasional (Chastain lewat Hairuddin,dkk., 2007:3-5). Lebih lanjut dijelaskan bahwa guru-guru pada umumnya berasumsi bahwa keterampilan menyimak dengan sendirinya dapat berkembang dari belajar berbicara. Kegiatan pembelajaran keterampilan menyimak masih sering diabaikan karena banyak orang yang menganggap bahwa menyimak merupakan kemampuan yang sudah dimiliki manusia sejak lahir. Bahkan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, tidak semua orang mampu menyimak dengan baik. Hal itu mengindikasikan bahwa selama ini keterampilan menyimak kurang mendapatkan perhatian.
Mengingat peranan menyimak dalam proses belajar berbahasa sangat besar, maka diperlukan suatu teknik yang efektif dalam pembelajaran keterampilan menyimak. Teknik pembelajaran merupakan hal yang penting dalam pembelajaran menyimak, khususnya pembelajaran menyimak di sekolah dasar. Dengan teknik yang efektif, pembelajaran menyimak akan mencapai tujuan yang diharapkan.
Salah satu teknik yang dapat diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menyimak adalah teknik paired storytelling atau cerita berpasangan. Teknik paired storytelling atau cerita berpasangan merupakan salah satu teknik pembelajaran dalam pendekatan cooperative teaching learning. Dengan teknik cerita berpasangan ini kegiatan belajar mengajar sepenuhnya dilakukan oleh siswa. Guru hanya sebagai fasilitator, motivator, dan mediator dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Sebuah cerita dapat mengandung berbagai pendidikan moral yang berupa pesan atau amanat. Melalui cerita guru dapat memberikan penanaman nilai-nilai moral kepada siswa, tetapi fenomena yang terjadi di tingkat sekolah dasar, cerita cenderung digunakan guru hanya sebagai selingan bagi siswa.
Selama ini pembelajaran keterampilan menyimak yang dilakukan para guru cenderung menganjurkan siswa untuk bekerja sendiri tanpa ada unsur bekerja sama dengan siswa lain. Padahal, pembelajaran dengan cara siswa bekerja sendiri tanpa ada unsur bekerja sama dengan siswa lain ini dapat menimbulkan sifat individualistis. Siswa yang satu menganggap siswa yang lain adalah saingan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan teknik pembelajaran yang dapat meningkatkan kerja sama antarsiswa dalam kegiatan mereka di kelas. Teknik yang dapat digunakan adalah teknik cerita berpasangan. Teknik ini lebih menekankan daya simak siswa karena hasil simakannya akan dipertanggungjawabkan kepada pasangannya. Semakin baik daya simak siswa, materi yang disampaikan guru akan semakin mudah dipahami siswa.
Pengertian Menyimak
Menyimak merupakan aktivitas yang penuh perhatian untuk memperoleh makna dari sesuatu yang kita dengar. Dalam kegiatan menyimak, seorang penyimak harus mampu menangkap dan memahami maksud pembicara. Lebih lanjut ia juga menyebutkan bahwa mendengarkan merupakan kegiatan yang pasif, sedangkan menyimak merupakan kegiatan yang aktif (Underwood, 1989:1-2).
Tompkins dan Hosskisson (1993:82-83) mengemukakan tentang kegiatan menyimak sebagai berikut: Listening is elusive because it occours internally. Listening as the “most mysterious language process. In fact, teachers often do not know whether listening has occured until they ask student students to apply what they have listened to through discussions, projects, and other assigments. Even then, there is no guarantee that the students’ responses indicate that they have listened, because they may have known the material before listening or may have learned it from someone else at about the same time. Listening is a complex, multistep process “by which spoken language is converted to meaning in the mind”. As this definition suggests, listening is more than just hearing, even though children and adults often use the two terms hearing and listening synonymously. Rather hearing is an integral component, but only one component, of the listening process. The crucial part is thinking or converting to meaning what one has heard.
Dinyatakan demikian karena pelajar atau peserta didik yang tampak dengan serius menyimak belum tentu memahami isi simakan. Sementara itu, pelajar atau peserta didik yang menyimak sambil melakukan aktivitas lain, misalnya membaca, ternyata ketika diberi pertanyaan mampu menanggapi secara tepat. Kata hearing “mendengarkan” sebenarnya hanya merupakan bagian dari menyimak. Penentuan demikian sesuai dengan konsepsi bahwa dalam menyimak juga berlangsung kegiatan berpikir dan merekonstruksi makna sesuai dengan tangkapan bunyi ujaran dan skemata penyimaknya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterampilan menyimak cerita anak adalah kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan yang dilakukan dengan sengaja, penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi dan interpretasi untuk memperoleh pesan, informasi, memahami makna komunikasi dan merespon yang terkandung dalam cerita sederhana yang ditulis untuk anak yang berbicara mengenai kehidupan, ekspresi untuk anak-anak dan sekeliling yang mempengaruhi anak.
Tujuan Jenis Menyimak
Tujuan Menyimak
Menurut Ice Sutari, dkk. (1997:22-26), tujuan menyimak dapat dibagi sebagai berikut.
1. Mendapatkan fakta
Kegiatan menyimak dengan tujuan memperoleh fakta di antaranya melalui kegiatan membaca, baik melalui majalah, koran, maupun buku-buku. Selain itu, mendapatkan fakta melalui radio, televisi, pertemuan, menyimak ceramah-ceramah, dan sebagainya.
2. Menganalisis fakta
Maksud dari menganalisis fakta yaitu proses menaksir kata-kata atau informasi sampai pada tingkat unsur-unsurnya, menaksir sebab akibat yang terkandung dalam fakta-fakta itu.
3. Mengevaluasi fakta
Penyimak yang kritis akan mempertanyakan hal-hal mengenai nilai fakta-fakta itu, keakuratan fakta-fakta tersebut, dan kerelevanan fakta-fakta tersebut. Setelah itu, pada akhirnya penyimak akan memutuskan untuk menerima atau menolak materi simakannya itu. Selanjutnya penyimak diharapkan dapat memperoleh inspirasi yang dibutuhkannya.
4. Mendapatkan inspirasi
Inspirasi sering dipakai alasan oleh seseorang untuk menyimak suatu pembicaraaan. Kita menyimak bukan untuk memperoleh fakta saja melainkan untuk memperoleh inspirasi. Kita mendengarkan ceramah atau diskusi ilmiah semata-mata untuk tujuan mendapatkan inspirasi atau ilham.
5. Mendapatkan hiburan
Hiburan merupakan kebutuhan manusia yang cukup mendasar. Dalam kehidupan yang serba kompleks ini kita perlu melepaskan diri dari berbagai tekanan, ketegangan, dan kejenuhan. Kita sering menyimak radio, televisi, film layar lebar antara lain untuk memperoleh hiburan dan mendapatkan kesenangan batin. Karena tujuan menyimak di sini untuk menghibur, maka pembicara harus mampu menciptakan suasana gembira dan tenang. Tujuan ini akan mudah tercapai apabila pembicara mampu menciptakan humor yang segar dan orisinil yang mengakibatkan penyimak menunjukkan minat dan kegembiraannya. Karena itu pembicaraan semacam ini disebut bersifat rekreatif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran menyimak cerita anak mempunyai tujuan supaya siswa belajar agar memperoleh pengetahuan, mengevaluasi agar dapat menilai, mengapresiasi materi simakan, dan mendapatkan hiburan melalui cerita anak. Dengan tujuan tersebut siswa akan memahami unsur-unsur yang terkandung dalam cerita anak yaitu tokoh dan perwatakan, latar, serta tema dan amanat cerita anak.
Jenis Menyimak
Kegaiatan menyimak tampak dalam kegiatan sehari-hari dalam bentuk yang beraneka ragam. Makin maju kehidupan sosial makin bervariasi bentuk itu. Keanekaragaman itu disebabkan oleh adanya beberapa titik pandang yang kemudian dijadikan landasan pengklasifikasian menyimak.
Sedangkan menurut Tarigan (1990:29), jenis menyimak diklasifikasika menjadi dua, yaitu: menyimak ekstensif, dan menyimak intensif. Adapun penjelasan setiap tingkatan jenis menyimak sebagai berikut.
1. Menyimak Ekstensif
Menyimak ekstensif adalah menyimak untuk memahami materi simakan hanya secara garis besar saja. Penyimak memahami isi bahan simakan secara sepintas, umum dalam garis-garis besar, atau butir-butir penting tertentu. Kegiatan menyimak ekstensif lebih bersifat umum dan tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari guru. Penggunaan yang paling dasar adalah menangkap atau mengingat kembali bahan yang telah diketahui dalam suatu lingkungan baru dengan cara yang baru. Bahan yang dapat digunakan berupa bahan pelajaran yang baru saja diajarkan atau yang telah diajarkan.
Menyimak jenis ini memberi kesempatan dan kebebasan para siswa menyimak kosakata dan struktur-struktur yang masih asing. Tujuan menyimak ekstensif adalah menyajikan kembali bahan pelajaran dengan cara yang baru. Menyimak ekstensif meliputi menyimak sosial, menyimak sekunder, menyimak estetik, dan menyimak pasif.
2. Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah menyimak dengan penuh perhatian, ketekunan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam dan menguasai secara luas bahan simakan. Penyimak memahami secara terperinci, teliti, dan mendalam bahan yang disimak. Kegiatan menyimak intensif lebih diarahkan dan dikontrol oleh guru. Bahan yang dapat digunakan berupa berupa leksikal maupun gramatikal. Untuk itu, perlu dipilih bahan yang mengandung ciri ketatabahasaan tertentu dan sesuai dengan tujuan. Selain itu, guru juga perlu memberikan latihan-latihan yang sesuai dengan tujuan. Menyimak intensif mencakup menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak eksploratori, menyimak introgatif, dan menyimak selektif. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk melatih menyimak intensif adalah menyuruh siswa menyimak tanpa teks tertulis, seperti mendengarkan rekaman. Menyimak cerita anak termasuk jenis menyimak intensif. Para siswa menyimak dengan mencatat kata atau frase penting bahan yang disimak. Hal itu dimaksudkan agar siswa dapat memahami apa yang disimaknya dengan baik. Pemahaman tersebut sangat berguna dalam kegiatan berdiskusi, mengenai apa yang disimaknya. Kegiatan menyimak tersebut diarahkan dan dikontrol oleh guru.
Tahap-Tahap Menyimak Cerita Anak
Sabarti Akhadiah (1993:149) menyebutkan tahap-tahap menyimak sebagai berikut.
1. Tahap Mendengarkan. Pada tahap ini kita baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Jadi kita masih berada dalam tahap hearing.
2. Mengidentifikasi. Penyimak mengidentifikasi segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraanya.
3. Tahap Menginterpretasi. Penyimak yang baik, yang cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara. Dia ingin menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat dan tersirat dalam ujaran itu. Dengan demikian maka sang penyimak telah tiba pada tahap interpreting.
4. Tahap Memahami. Setelah kita mendengar maka ada keinginan bagi kita untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan yang disampaikan oleh pembicara, maka sampailah kita dalam tahap understanding.
5. Tahap Mengevaluasi atau menilai. Setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi pembicara, sang penyimak pun mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan sang pembicara, keunggulan dan kelemahan, kebaikan dan kekurangan sang pembicara, maka dengan demikian sudah sampai pada tahap evaluating.
6. Tahap Menanggapi atau mereaksi. Merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak. Sang penyimak menyambut, mencamkan, menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh sang
pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Sang penyimak pun sampailah pada tahap menanggapi (responding). Jadi tahap-tahap menyimak cerita anak menurut Sabarti dianggap sesuai dengan perkembangan psikologis anak usia Sekolah Dasar yaitu tahap mendengarkan cerita anak, mengidentifikasi kata-kata kunci cerita anak, menginterpretasi cerita anak, memahami isi cerita anak mengevaluasi atau menilai cerita anak, dan menanggapinya.
Pemilihan Teknik Pembelajaran Keterampilan Menyimak
Pemilihan teknik pembelajaran menyimak haruslah sesuai dengan kondisi dan keadaan siswa. Pemilihan teknik harus dilakukan secara cermat dan teliti. Dalam menerapkan teknik-teknik tersebut guru perlu memperhatikan syarat-syarat teknik pembelajaran keterampilan menyimak.
Tarigan D & H.G. Tarigan (1987:43) menyebutkan bahwa syarat teknik yang baik adalah sebagai berikut.
1. Memikat, menantang atau merangsang siswa untuk belajar.
2. Memberi kesempatan yang luas dan mengaktifkan siswa secara mental dan fisik dalam belajar.
3. Tidak menyulitkan guru dalam penyusunan, pelaksanaan dan penilaian dalam program pembelajaran.
4. Dapat mengarahkan kegiatan belajar ke arah tujuan pembelajaran.
5. Tidak menuntut peralatan yang rumit, mahal dan sukar pengoprasianya.
6. Mengembangkan kreativitas siswa.
7. Mengembanngkan penampilan siswa siswa secara individual ataupun secara kelompok.
8. Meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar.
9. Mengembangkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuchdi (1999:4-5) menyatakan keberhasilan menyimak bergantung pada dua kondisi. Pertama, guru harus memberikan teladan sebagai penyimak yang kritis, pembicara yang efektif dan menggunakan strategi serta teknik yang efektif pula. Kedua, setiap murid yang berpartisipasi dalam diskusi harus memiliki informasi tertentu yang akan disampaikan kepada teman-temannya.
Penerapan teknik dalam pembelajaran harus memperhatikan materi atau bahan, kondisi siswa, situasi kelas, dan sebagainya. Seorang guru harus pandai-pandai menerapkan teknik pembelajaran di dalam kelas. Guru perlu mengetahui, pada saat yang bagaimana dan kapan teknik tersebut perlu diterapkan.
Cerita Anak
Muhammad Nur Mustakhim (2005: 12) menyatakan bahwa cerita merupakan gambaran tentang kejadian suatu tempat, kehidupan binatang sebagai perlambang kehidupan manusia, kehidupan manusia dalam masyarakat, dan
cerita tentang mite yang hidup dalam masyarakat kapan dan dimana cerita itu terjadi. Cerita sudah sejak dulu ada disampaikan secara lisan, kemudian berkembang terus menjadi bahan cetakan berupa buku, kaset, video kaset, dan film atau cinema. Demikian pula bahan cerita ini berkembang terus sesuai dengan perkembangan zaman, imu pengetahuan, dan perkembangan teknologi. Cerita berada pada posisi pertama dalam mendidik etika kepada anak. Mereka cenderung menyukai dan menikmatinya, baik dari segi ide, imajinasi maupun peristiwa-peristiwanya. Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik, cerita akan menjadi bagian dari seni yang disukai anak-anak, bahkan orang dewasa. Cerita anak merupakan kisah sederhana yang ditulis untuk anak, berbicara mengenai kehidupan anak dan sekeliling yang mempengaruhi anak, di dalamnya mencerminkan liku-liku kehidupan yang dapat dipahami oleh anak, melukiskan perasaan anak, dan menggambarkan pemikiran-pemikiran anak. Cerita anak berbentuk prosa yang menceritakan suatu peristiwa yang singkat dan padat jumlah pengembangan pelaku terbatas, keseluruhan cerita memberikan kesan tunggal serta mencerminkan perasaan pengalaman anak-anak, dan ditujukan bagi anak. Cerita anak sangat berarti bagi anak-anak. Sebagai bacaan penghibur, ada sisi lain yang bermanfaat baginya yaitu sebagai pengasah rasa empati dalam jiwanya. Dalam hal ini cerita anak dapat digunakan untuk mendapatkan pengalaman berharga yang dapat menolong membentuk jiwa anak-anak supaya kelak menjadi anak yang baik.
Manfaat Cerita Anak
Menurut Tadkiroatun Musfiroh (2005:95-115), dipandang dari berbagai aspek, sebuah cerita mempunyai manfaat sebagai berikut.
1. Membantu Pembentukan Pribadi dan Moral
Cerita sangat efektif untuk mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku anak. Anak yang sudah terbiasa menyimak cerita, dalam jiwa mereka akan tumbuh pribadi yang hangat serta memiliki kecerdasan interpersonal. Selain itu cerita juga dapat mendorong perkembangan moral mereka. Sebuah cerita biasanya mengandung contoh perilaku buruk maupun contoh perilaku baik. Contoh perilaku buruk dimaksudkan agar dapat dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Contoh perilaku baik dimaksudkan agar dapat ditiru untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menyalurkan Kebutuhan Imajinasi
Anak membutuhkan penyaluran imajinasi tentang berbagai hal yang selalu muncul dalam pikiran mereka. Pada saat menyimak cerita, imajinasi mereka mulai dirangsang. Mereka membayangkan apa yang terjadi dan tokoh yang terlibat dalam cerita tersebut. Imajinasi yang dibangun anak saat menyimak cerita memberikan pengarauh positif terhadap kemampuan mereka menyelesaikan masalah secara kreatif.
3. Memacu Kemampuan Verbal
Selama menyimak cerita, anak dapat belajar bagaimana bunyi-bunyi yang bermakna diujarkan dengan benar, bagaimana kata-kata itu disusun secara logis dan mudah dipahami, bagaimana konteks dan koteks berfungsi dalam makna. Cerita dapat juga mendorong anak untuk senang bercerita atau berbicara. Mereka dapat berlatih berdialog, berdiskusi antarteman untuk menuangkan kembali gagasan yang disimaknya.
4. Merangsang Minat Baca
Membacakan cerita dapata menjadi contoh yang efektif untuk menstimulus anak untuk gemar membaca. Seorang anak biasanya suka meniru-niru perilaku orang dewasa. Dari kegiatan bercerita, anak secara tidak langsung memperoleh contoh orang yang gemar dan pintar membaca dari apa yang dilihatnya.
5. Membuka Cakrawala Pengetahuan
Manfaat cerita sebagai pengembang cakrawala pengetahuan tampak pada cerita-cerita yang memiliki karakteristik budaya, seperti mengenal nama-nama tempat cerita, bahasa-bahasa yang digunakan dalam cerita atau ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam cerita tersebut. Hal itu tentu akan menambah pengetahuan mereka tentang hal yang belum pernah mereka ketahui.
Cerita-cerita memang sangat bermanfaat bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak-anak karena cerita itu dapat mendidik pola pikir dan perkembangan emosi mereka. Bagi seorang guru atau pun orang tua yang akan memilihkan cerita bagi siswa dan anak mereka, haruslah dapat memilihkan cerita yang sesuai dengan usia mereka.
Teknik Paired Storytelling atau Cerita Berpasangan
Teknik cerita berpasangan merupakan salah satu teknik pembelajaran cooperative learning, yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, guru dan bahan pembelajaran. Menurut Noor Fatirul (2008) dikatakan bahwa teknik paired storytelling atau cerita berpasangan ini dapat digunakan dalam pelajaran membaca, menulis, menyimak, dan berbicara, atau dapat juga dengan menggabungkan kegiatan keempat keterampilan membaca, yaitu membaca menulis menyimak dan berbicara.
Lebih lanjut dikatakan bahwa teknik paired storytelling atau cerita berpasangan bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Bercerita Berpasangan bisa digunakan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Lie (1993) berpendapat bahwa: “ This storytelling strategy provides opportunities for one-on-one interaction among students around school tasks and gives them opportunity to use the target language communicativelly. The cooperative work improves group relations, increases self-esteem, and increases vocabulary asquisition.” Sedangkan Hennings (1986:131) mengatakan: “Participatory storytelling is a fine beginning for developing children’s ability to express themselves orally. Stories have a straightforward sequence that provides an easy introduction to oral sequencing and pacing of ideas. They havean inherent appeal to children; youngsters love to hear stories and can easily develop interest in sharing similar tales. Then too, storys for children are action-filled. In telling them, youngsters must vary voice, express meanings through face and body, use props where appropriate, and select the most expressive words. These abilities are what dramatic sharing in the elementary grades is all about.”Teknik paired storytelling atau cerita berpasangan merupakan teknik yang memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Teknik cerita berpasangan bisa digunakan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Prosedur Teknik Paired Storytelling atau Cerita Berpasangan dalam Pembelajaran Keterampilan Menyimak Cerita Anak
Prosedur teknik cerita berpasangan sebagai berikut.
1. Siswa dibagi menjadi dua kelompok. kelompok pertama dan kelompok kedua.
2. Sebelum bahan pelajaran diberikan, guru melakukan brainstroming mengenai topik yang akan disampaikan hari ini.
3. Guru membagi satu bahan cerita menjadi dua bagian, (bagian pertama dan kedua).
4. Bagian pertama cerita diberikan kepada pembaca kelompok pertama, sedangkan pembaca kelompok kedua menerima bagian cerita yang kedua.
5. Salah seorang pembaca dari kelompok pertama membacakan cerita bagian pertama, sedangkan kelompok kedua menyimak dengan menuliskan kata atau frase kunci. Setelah itu, salah seorang pembaca dalam kelompok kedua membacakan cerita bagian kedua, sedangkan kelompok pertama menyimak dengan menuliskan kata atau frase kunci pula.
6. Setelah cerita bagian pertama dan cerita bagian kedua selesai dibacakan oleh pembaca tiap-tiap kelompok, kemudian kata atau frase kunci yang telah mereka buat, saling ditukarkan antarkelompok dengan berpasangan.
7. Setelah semua kata atau frase kunci setiap bagian cerita dicatat, tiap-tiap siswa menceritakan kembali cerita yang mereka simak berdasarkan kata atau frase kunci yang mereka catat.
8. Setelah cerita selesai dibuat oleh para siswa, kemudian mereka menjawab soal-soal yang berhubungan dengan cerita yang telah mereka simak, yang dibuat oleh guruu dengan teknik 5W+1H.
9. Selanjutnya, siswa mengumpulkan jawaban soal dan cerita yang telah mereka susun.
10. Guru memanggil nama beberapa siswa untuk membacakan hasil ceritanya di depan kelas, sambil membagikan cerita lengkap kepada tiap-tiap siswa.
11. Kegiatan diakhiri dengan diskusi mengenai soal-soal yang telah para siswa kerjakan.
Teknik paired storytelling atau cerita berpasangan menggabungkan teknik pembelajaran keterampilan menyimak yang lain, yaitu teknik identifikasi kata kunci, teknik merangkum, dan teknik menjawab pertanyaan 5W +1H. Teknik-teknik lain yang dapat digunakan dalam pembelajaran keterampilan menyimak menurut Tarigan D.& H.G. Tarigan (1987:82) adalah: dengar-ulang ucap, dengar-tulis atau dikte, dengar kerjakan dengar-terka, memperluas kalimat, menemukan benda, bisik berantai menyelesaikan cerita, identifikasi kata kunci, identifikasi kalimat topik, merangkum, parafrase, dan menjawab pertanyaan 5W+1H.

Senin, 17 Oktober 2011

Sejarah Sastra Indonesia

Artikel ini membutuhkan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian.
Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan catatan kaki. Sampul Buku "Deru Campur Debu" karya Chairil Anwar - sastrawan Indonesia Angkatan 45
Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
* lisan
* tulisan
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
* Angkatan Pujangga Lama
* Angkatan Sastra Melayu Lama
* Angkatan Balai Pustaka
* Angkatan Pujangga Baru
* Angkatan 1945
* Angkatan 1950 - 1960-an
* Angkatan 1966 - 1970-an
* Angkatan 1980 - 1990-an
* Angkatan Reformasi
* Angkatan 2000-an
Pujangga Lama
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20.
Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.
Karya Sastra Pujangga Lama
Hikayat
* Hikayat Abdullah
* Hikayat Aceh
* Hikayat Amir Hamzah
* Hikayat Andaken Penurat
* Hikayat Bayan Budiman
* Hikayat Djahidin
* Hikayat Hang Tuah
* Hikayat Iskandar Zulkarnain
* Hikayat Kadirun
* Hikayat Kalila dan Damina
* Hikayat Masydulhak
* Hikayat Pandawa Jaya
* Hikayat Pandja Tanderan
* Hikayat Putri Djohar Manikam
* Hikayat Sri Rama
* Hikayat Tjendera Hasan
* Tsahibul Hikayat
Syair
* Syair Bidasari
* Syair Ken Tambuhan
* Syair Raja Mambang Jauhari
* Syair Raja Siak
Kitab agama
* Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
* Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
* Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
* Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri
Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
Karya Sastra Melayu Lama
* Robinson Crusoe (terjemahan)
* Lawan-lawan Merah
* Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
* Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
* Kapten Flamberger (terjemahan)
* Rocambole (terjemahan)
* Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
* Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
* Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
* Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
* Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
* Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
* Cerita Nyi Paina
* Cerita Nyai Sarikem
* Cerita Nyonya Kong Hong Nio
* Nona Leonie
* Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
* Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
* Cerita Rossina
* Nyai Isah oleh F. Wiggers
* Drama Raden Bei Surioretno
* Syair Java Bank Dirampok
* Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
* Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
* Tambahsia
* Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
* Nyai Permana
* Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
* dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya
Angkatan Balai Pustaka
Abdul Muis sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh
penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
* Merari Siregar
* Azab dan Sengsara (1920)
* Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
* Cinta dan Hawa Nafsu
* Marah Roesli
* Siti Nurbaya (1922)
* La Hami (1924)
* Anak dan Kemenakan (1956)
* Muhammad Yamin
* Tanah Air (1922)
* Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
* Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
* Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
* Nur Sutan Iskandar
* Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
* Cinta yang Membawa Maut (1926)
* Salah Pilih (1928)
* Karena Mentua (1932)
* Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
* Hulubalang Raja (1934)
* Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
* Tulis Sutan Sati
* Tak Disangka (1923)
* Sengsara Membawa Nikmat (1928)
* Tak Membalas Guna (1932)
* Memutuskan Pertalian (1932)
* Djamaluddin Adinegoro
* Darah Muda (1927)
* Asmara Jaya (1928)
* Abas Soetan Pamoentjak
* Pertemuan (1927)
* Abdul Muis
* Salah Asuhan (1928)
* Pertemuan Djodoh (1933)
* Aman Datuk Madjoindo
* Menebus Dosa (1932)
* Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
* Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
Pujangga Baru
Sutan Takdir Alisjahbana pelopor Pujangga Baru Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis
sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
* Sutan Takdir Alisjahbana
o Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
* Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
* Armijn Pane
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
* Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
o Kertajaya (1932)
* Tengku Amir Hamzah
o Nyanyi Sunyi (1937)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)
* Roestam Effendi
o Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
o Pertjikan Permenungan
* Sariamin Ismail
o Kalau Tak Untung (1933)
o Pengaruh Keadaan (1937)
* Anak Agung Pandji Tisna
o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
o Sukreni Gadis Bali (1936)
o I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
* J.E.Tatengkeng
o Rindoe Dendam (1934)
* Fatimah Hasan Delais
o Kehilangan Mestika (1935)
* Said Daeng Muntu
o Pembalasan
o Karena Kerendahan Boedi (1941)
* Karim Halim
o Palawija (1944)
Angkatan 1945
Chairil Anwar pelopor Angkatan 1945 Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra
angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
* Chairil Anwar
o Kerikil Tajam (1949)
o Deru Campur Debu (1949)
* Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
o Tiga Menguak Takdir (1950)
* Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan
* Achdiat K. Mihardja
o Atheis (1949)
* Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)
* Utuy Tatang Sontani
o Suling (drama) (1948)
o Tambera (1949)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
* Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)
Angkatan1950 - 1960-an
Pramoedya Ananta Toer novelis generasi 1950-1960 Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya
sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
* Pramoedya Ananta Toer
o Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
o Bukan Pasar Malam (1951)
o Di Tepi Kali Bekasi (1951)
o Keluarga Gerilya (1951)
o Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
o Perburuan (1950)
o Cerita dari Blora (1952)
o Gadis Pantai (1965)
* Nh. Dini
o Dua Dunia (1950)
o Hati jang Damai (1960)
* Sitor Situmorang
o Dalam Sadjak (1950)
o Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
o Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
o Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
o Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
* Mochtar Lubis
o Tak Ada Esok (1950)
o Jalan Tak Ada Ujung (1952)
o Tanah Gersang (1964)
o Si Djamal (1964)
* Marius Ramis Dayoh
o Putra Budiman (1951)
o Pahlawan Minahasa (1957)
* Ajip Rosidi
o Tahun-tahun Kematian (1955)
o Ditengah Keluarga (1956)
o Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
o Cari Muatan (1959)
o Pertemuan Kembali (1961)
* Ali Akbar Navis
o Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1
955) o Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
o Hujan Panas (1964)
o Kemarau (1967)
* Toto Sudarto Bachtiar
o Etsa sajak-sajak (1956)
o Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
* Ramadhan K.H
o Priangan si Jelita (1956)
* W.S. Rendra
o Balada Orang-orang Tercinta (1957)
o Empat Kumpulan Sajak (1961)
o Ia Sudah Bertualang (1963)
* Subagio Sastrowardojo
o Simphoni (1957)
* Nugroho Notosusanto
o Hujan Kepagian (1958)
o Rasa Sajangé (1961)
o Tiga Kota (1959)
* Trisnojuwono
o Angin Laut (1958)
o Dimedan Perang (1962)
o Laki-laki dan Mesiu (1951) * Toha Mochtar
o Pulang (1958)
o Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
o Daerah Tak Bertuan (1963)
* Purnawan Tjondronagaro
o Mendarat Kembali (1962)
* Bokor Hutasuhut
o Datang Malam (1963)
Angkatan 1966 - 1970-an
Taufik Ismail sastrawan Angkatan 1966
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde
sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya. [sunting] Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
* Taufik Ismail
o Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
o Tirani dan Benteng
o Buku Tamu Musim Perjuangan
o Sajak Ladang Jagung
o Kenalkan
o Saya Hewan
o Puisi-puisi Langit
* Sutardji Calzoum Bachri
o O
o Amuk
o Kapak
* Abdul Hadi WM
o Meditasi (1976)
o Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
o Tergantung Pada Angin (1977)
* Sapardi Djoko Damono
o Dukamu Abadi (1969)
o Mata Pisau (1974)
* Goenawan Mohamad
o Parikesit (1969)
o Interlude (1971)
o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
o Seks, Sastra, dan Kita (1980)
* Umar Kayam
o Seribu Kunang-kunang di Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk
o Lebaran di Karet
o Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
o Kelir Tanpa Batas
o Para Priyayi
o Jalan Menikung
* Danarto
o Godlob
o Adam Makrifat
o Berhala
* Nasjah Djamin
o Hilanglah si Anak Hilang (1963)
o Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
* Putu Wijaya
o Bila Malam Bertambah Malam (1971)
o Telegram (1973)
o Stasiun (1977)
o Pabrik
o Gres
o Bom
* Djamil Suherman
o Perjalanan ke Akhirat (1962)
o Manifestasi (1963)
* Titis Basino
o Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
o Lesbian (1976)
o Bukan Rumahku (1976)
o Pelabuhan Hati (1978)
o Pelabuhan Hati (1978)
* Leon Agusta
o Monumen Safari (1966)
o Catatan Putih (1975)
o Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
o Hukla (1979)
* Iwan Simatupang
o Ziarah (1968)
o Kering (1972)
o Merahnya Merah (1968)
o Keong (1975)
o RT Nol/RW Nol
o Tegak Lurus Dengan Langit
* M.A Salmoen
o Masa Bergolak (1968)
* Parakitri Tahi Simbolon
o Ibu (1969)
* Chairul Harun
o Warisan (1979)
* Kuntowijoyo
o Khotbah di Atas Bukit (1976)
* M. Balfas
o Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
* Mahbub Djunaidi
o Dari Hari ke Hari (1975)
* Wildan Yatim
o Pergolakan (1974)
* Harijadi S. Hartowardojo
o Perjanjian dengan Maut (1976)
* Ismail Marahimin
o Dan Perang Pun Usai (1979)
* Wisran Hadi
o Empat Orang Melayu
o Jalan Lurus
Angkatan 1980 - 1990an
Hilman Hariwijaya penulis cerita remaja pada dekade 1980 dan 1990 Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan,
dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
* Ahmadun Yosi Herfanda
o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)
* Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)
* Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)
* Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)
* Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
* Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)
* Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
* Dorothea Rosa Herliany
o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
* Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
* Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)
* Afrizal Malna
o Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
o Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
o Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
o Dinamika Budaya dan Politik (1991)
o Arsitektur Hujan (1995)
o Pistol Perdamaian (1996)
o Kalung dari Teman (1998)
Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
* Widji Thukul
o Puisi Pelo
o Darman
Angkatan 2000-an
Andrea Hirata salah satu novelis tersukses pada dekade pertama abad ke-21 Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena
tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
* Ayu Utami
o Saman (1998)
o Larung (2001)
* Seno Gumira Ajidarma
o Atas Nama Malam
o Sepotong Senja untuk Pacarku
o Biola Tak Berdawai
* Dewi Lestari
o Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
o Supernova 2.1: Akar (2002)
o Supernova 2.2: Petir (2004)
* Raudal Tanjung Banua
o Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
o Ziarah bagi yang Hidup (2004)
o Parang Tak Berulu (2005)
o Gugusan Mata Ibu (2005)
* Habiburrahman El Shirazy
o Ayat-Ayat Cinta (2004)
o Diatas Sajadah Cinta (2004)
o Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
o Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
o Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
o Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
o Dalam Mihrab Cinta (2007)
* Andrea Hirata
o Laskar Pelangi (2005)
o Sang Pemimpi (2006)
o Edensor (2007)
o Maryamah Karpov (2008)
o Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
* Ahmad Fuadi
o Negeri 5 Menara (2009)
o Ranah 3 Warna (2011)
* Tosa
o Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
o Melan Conis (2009)