Mari membangun Bangsa dengan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 13 Maret 2011

Sastra 60-an (Sejarah Sastra Periode 1960--1970)

Ditulis Oleh Saif Al Hadi

Latar Belakang

Pada periode 60-an muncul adanya angkatan, yaitu angkatan ’66. Lahirnya angkatan ’66 ini didahului adanya kemelut dalam segala bidang kehidupan di Indonesia yang disebabkan ulah teror politik yang dilakukan PKI dan ormas-ormas yang bernaung di bawahnya. Angkatan ’66 mempunyai cita-cita ingin adanya pemurnian pelaksanaan Pancasila dan melaksanakan ide yang terkandung di dalam Manifest Kebudayaan. Tumbuhnya angkatan ’66 yang dipelopori oleh KAMMI/KAPPI untuk memperjuangkan Tritura.

Munculnya nama angkatan ’66 telah diumumkan oleh H.B. Jassin dalam majalah horison nomor 2 tahun 1966. Pada tulisan tersebut dikatakan bahwa angkatan ’66 lahir setelah ditumpasnya pengkhianatan G.30S/PKI. Penanaman angkatan ’66 ini pun mengalami adu pendapat. Sebelum nama angkatan ’66 diresmikan, ada yang memberi nama angkatan Manifest Kebudayaan (MANIKEBU).



Karakteristik

o Muncul adanya angkatan, yaitu angkatan ‘66

o Tema yang diangkat banyak mengenai masalah kegelisahan batin dan rumah tangga. Kegelisahan tersebut bersumber pada situasi budaya belum mapan dan situasi-situasi tersebut karena adanya norma politik, norma ekonomi.

o Adanya sastra protes, contoh: kumpulan sajak Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail

o Arti penting sajak angkatan ’66 pertama bukanlah sebagai seni, tetapi merupakan curahan hati khas anak-anak muda yang mengalami kelegaan perasaan setelah masa penindasan.



Para Pengarang dan Hasil Karyanya

Seperti telah diuraikan di atas, periode 60-an ini telah mulai bermunculan para pengarang baru, namun para pengarang lama pun masih tetap aktif berkarya. Untuk lebih jelasnya akan kami uraikan di bawah ini:

1. Taufik Ismail, hasil karyanya: Tirani, benteng, dan Buku Tamu Museum Perjuangan.

2. Bur Rasianto, hasil karyanya: Mereka Telah Bangkit, Bumi yang Berpeluh, Mereka Akan Bangkit, Sang Ayah, dan Manusia Tanah Air.

3. Mansur Samin, hasil karyanya: Perlawanan, Kebinasaan Negri Senja, dan Tanah Air.

4. Arifin C. Noer, hasil karyanya: Lampu Neon, Puisi-puisi yang Kehilangan puisi, dan Kapai-kapai.

5. Satyagraha Hoerip, hasil karyanya: Rahasia Kehidupan Manusia dan Ontologi Persoalan-persoalan Sastra.

6. Sapardi Djoko Damono, hasil karyanya: Dukamu Abadi, Matahari PAgi di Tanah Air, Doa di Tengah-tengah Masa, dan Sajak Orang Gila.

7. H.B. Jassin, hasil karyanya: Angkatan ’66, Prosa, dan Puisi.

8. Bastari Asnin, hasil karyanya: Di Tengah Padang dan Laki-Laki Berkuda.

9. Trinojuwono, hasil karyanya: Di Medan Perang, Kisah-kisah Revolusi, Pagar Kawat Berduri, Bulan Madu, dan Biarkan Cahaya Matahari Membersihkanku Dulu.

10. Iwan Simatupang, hasil karyanya: Petang di Taman, Ziarah, Kering, dan Merahnya Merah.

11. Toha Mohtar, hasil karyanya: Daerah Tak Bertuan, Bukan Karena Kau, dan Kabut Rendah.

12. Subagio Sastrowardoyo, hasil karyanya: Kejantanan di Sumbring.

13. Motinggo Bosje, hasil karyanya: Badai Sampai Sore, Nyonya dan Nyonya, Malam Pengantin di Bukit Kera, Keberanian Manusia, Nasihat untuk Anakku, Matahari dalam Kelam, Tidak Menyerah, Sejuta Matahari, 1949, Buang Tonjam, Dosa Kita Semua, Tiada Belas Kasihan, Batu Setampok, Titisan Dosa di Atasnya, Manusia Sejati, Perempuan itu Bernama Berabah, dan Dia Musuh Keluarga.

14. Ras Siregar, hasil karyanya: Harmoni dan Terima Kasih.

15. Mochtar Lubis, hasil karyanya: Tanah Gersang.

16. Ajip Rosidi, hasil karyanya: Surat Cinta Enday Rosidin, Pertemuan Kembali, Purba Sari Ayu Wangi, Mundinglaya di Kusumah, Ciung Wanara, Sang Kuriang Kesiangan, Jalan ke Surga, Canda Kirana, Roro Mendut, dan Masyitoh.

17. Achmad Tohari, hasil karyanya: Ronggeng Dukuh Paruk.

18. Abdul Wahid Situmeang, hasil karyanya: Pembebasan.

19. Hartojo Andangjaya, hasil karyanya: Buat Saudara Kandung, Perarahan Jenasah, Riwayat, Pantun Tidak Bernama, Pantun di Jalan Panjang, Rakyat, dan Perempuan-perempuan Perkasa.

20. Goenawan Mohamad, hasil karyanya: Lagu Pekerja Malam, Riwayat, Pertemuan, Hari Terakhir Seorang Penyair, Suatu Siang di Beranda, dan Ini Angin tak Kedengaran Lagi.

21. M. Saribi AFN, hasil karyanya: Manifestasi dan Gema Lembah Cahaya.

22. Rachmad Djoko Pradopo, hasil karyanya: Matahari di Tanah Air.

23. Slamet Kirnanto, hasil karyanya: Kidung Putih dan Puisi Alit.

24. Kamal Firdaus T.F, hasil karyanya: Di Bawah Fajar Menyingsing.

25. Saini KM, Nyanyian Tanah Air.

26. A. Bastari Asnin, hasil karyanya: Di tengah Padang dan Laki-Laki Berkuda.

27. Yusach Ananda, hasil karyanya: Kampungku yang Sunyi.

28. Djamil Suherman, hasil karyanya: Umi Kalsum dan Perjalanan ke Akhirat.

29. Moh. Diponegoro, hasil karyanya: Iblis dan Surat pada Gubernur.

30. W.S. Rendra, hasil karyanya: Orang-orang di Tikungan Jalan, Ballada Orang-orang Tercinta, Musyawarat Kesusastraan Jogya, 1955, Pembangunan, 1957, 4 Kumpulan Sajak, 1961, Ia Sudah Bertualang, Nusantara, dan 1963.

Para pengarang wanita angkatan ’66 antara lain:

1. Isma Sawitri, hasil karyanya: Terima Kasih, Tiga Serangkai, dan Pantai Utara.
2. Titi Said, hasil karyanya: Perjuangan dan Hati Perempuan.
3. titis Basimo, hasil karyanya: Rumah Dara dan Laki-Laki dan Cinta
4. Enny Sumargo, hasil karyanya: Sekeping Hati Perempuan.
5. S. Tjahyaningsih, hasil karyanya: Dua Kerinduan.
6. Susy Aminah, hasil karyanya: Seraut Wajahku.

Adapun hasil karya berupa puisi, sinopsis cerpen, dan sinopsis drama para pengarang angkatan ’66 dapat dilihat sebagaimana terlampir.







Peristiwa Sastra dan Budaya yang Terjadi pada Periode ‘60

1. Polemik Tentang Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Dalam sebuah artikel harian bintang timur, 7 September 1962, pengarang Abdullah SP, mengucapkan bahwa Hamka sangat mirip dengan pujangga Mesir Al-Manfaluthi, gaya bahasanya, jalan pikirannya, dan perasaannya. Tenggelamnya kapal van der Wijck karya Hamka sangat mirip dengan Magdaline karya Manfaluthi.

Tetapi Adnan H menyatakan bahwa Abdullah SP telah melakukan tuduhan sembrono. Sebagai bukti kecerobohan Abdullah SP, Adnan H memberikan bukti kalimat, seperti berikut:

Kalimat Manfaluthi

Apakah artinya harta ini tempatku setelah kau hilang dari padaku, Stevens?


Kalimat Hamka

Ke mana lagi langit bernaung, setelah hilang dari padaku Zainuddin.



Jassin juga membuat kesimpulan bahwa ‘pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi’. Ada garis-garis persamaan tema, plot, dan buah pikiran. Tapi, Hamka menimba dari sumber pengalaman dan inspirasinya sendiri.



2. Heboh Sastra 1968 Tentang Langit Makin Mendung

Sesuai dengan teori otonomi seni yang di dalamnya terdapat paham berbunyi ‘seni untuk seni, seni tidak perlu mengabdi kepada apapun di luar dirinya dan seni tidak boleh dinilai dengan ukuran-ukuran baku yang bersifat estetik seperti ukuran moral, agama, dan sebagainya’. Maka H.B Jassin memuat cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusuma dalam Majalahnya.

Hal ini banyak menuai protes dan hujatan dari semua umat Islam dan ulama pada waktu itu, karena cerpen Langit Makin Mendung dinilai telah menghina Tuhan dan nabi Muhammad SAW, sehingga pada tanggal 12 Oktober 1968 Kejaksaan Tinggi Medan melarang cerpen tersebut diterbitkan. Namun penghentian itu menimbulkan kritik dari para seniman yang ada di Medan dan Jakarta.



3. Heboh Hadiah Sastra

Hadiah yang diberikan oleh H.B. Jassin kepada pengarang terbaik dalam majalahnya, Horison. Hal ini pertama kalinya ada dalam sejarah sastra indonesia, yang mana pengarang yang mendapat hadiah itu adalah Motinggo Busye.



4. Munculnya Sastra Majalah

Pada periode 60-an muncul adanya sastra majalah atau majalah yang memuat karya-karya sastra seperti, Horison dan Basis. Ini terjadi karena majalah adalah media baca yang paling diminati saat itu, sehingga para pengarang mencoba menarik simpari masyarakat terhadap karya sastra melalui majalah.

berikut adalah salah satu contoh puisi pada tahun 60-an

Sajak-sajak Anak Mati



Tiga anak menari

tentang tiga burung gereja;

Kemudian senyap;

disebabkan senja;



Tiga lilin kuncup;

pada marmer meja;

Tiga tik-tik hujan tertabur;

seperti tak sengaja;

“bapak, jangan menanggis.”

Goenawan Mohamad



Analisis:

Yang dimaksud dengan ‘Tiga anak menari tentang tiga burung gereja. Kemudian senyap karena senja’, yaitu: Tiga pelajar ikut berdemonstrasi menuntut diadakannya tiga kebutuhan utama bagi rakyat, makanan, pakaian, dan rumah. Kemudian senyap dikarenakan gas air mata.

‘Tiga lilinkuncup pada marmer meja. Tiga tik-tik hujan tertabur seperti tak sengaja’, yaitu: Tiga pelajar mati hancur tertembak seperti tak sengaja oleh tiga peluru.

Daftar Pustaka

Djupriyanto, dkk. 1992. Pelajaran Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya: Kendang Sari

Ibrahim, Abdul Syukur. 1987. Kesusastraan Indonesia Sajian Latih-Ajar Mandiri. Surabaya: Usaha Nasional

Jassin, H.B. 1968. Angkatan ’66 Prosa dan Puisi 2. Jakarta: CV. Haji Masagung.

Zulfahnur. 1997. Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

8 komentar:

ABDI S.R mengatakan...

wah bagus artikel anda
kumpulan tips trik komputer

Anonim mengatakan...

keren abiz dech

Anonim mengatakan...

It's enormous that you are getting ideas from this post as well as from our discussion made at this place.

Also visit my homepage ... golf tips divots

Anonim mengatakan...

Appreciating the time and energy you put into your site and in depth information you offer.

It's great to come across a blog every once in a while that isn't the same old rehashed information.
Excellent read! I've bookmarked your site and I'm including your RSS
feeds to my Google account.

Also visit my website - bad credit payday loans

Anonim mengatakan...

I could not refrain from commenting. Very well written!


Also visit my website women's hair loss vitamins

Anonim mengatakan...

Its like you read my mind! You seem to know a lot
about this, like you wrote the book in it or something. I think that you could do with a few pics to drive the message home a bit, but
other than that, this is fantastic blog. A great read.
I'll certainly be back.

Also visit my weblog black hat seo practices

Anonim mengatakan...

You are so cool! I do not believe I've read through a single thing like this before. So wonderful to find another person with unique thoughts on this issue. Seriously.. many thanks for starting this up. This website is one thing that's needed on the internet, someone with a little originality!


Feel free to surf to my page - Wiki Backlinks

Anonim mengatakan...

It's impressive that you are getting ideas from this piece of writing as well as from our dialogue made at this time.

my web-site - adult singles

Poskan Komentar