Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Ditulis Oleh Saif Al Hadi


1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Para pakar linguistik deskriptif biasanya mendefinisiskan bahasa sebagai satu sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri (Chaer, 1994). Bahasa merupakan sebuah sistem karena dibangun oleh sistem-sistem lain seperti fonologi, sintaksis, dan leksikon. Jadi bahasa bukanlah sistem tunggal, melainkan sistem yang dibangun oleh subsistem.
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan interaksi. Michel dalam Chaer mengungkapkan (2003:33), bahasa mempunyai lima dasar fungsi, yaitu fungsi ekspresi, fungsi informasi, fungsi eksplorasi, fungsi persuasi, dan fungsi entertainmen. Kelima fungsi dasar ini mewadahi konsep bahwa bahasa alat untuk melahirkan ungkapan-ungkapan batin yang ingin disampaikan seseorang kepada orang lain. Pernyataan senang, benci, marah dan suka merupakan fungsi ekspresi bahasa. Fungsi informasi adalah fungsi untuk menyampaikan pesan atau amanat kepada orang lain. Fungsi eksplorasi adalah penggunaan bahasa untuk menjelaskan suatu hal, perkara, dan keadaan. Fungsi persuasi adlah penggunaan bahasa untuk mempengaruhi atau mengajak seseorang utnuk melakukan atau tidak melakukan suatu hal. Fungsi entertaimen adalah penggunaan bahasa dengan maksud menghibur, menyenangkan, atau memuaskan batin.
Manusia sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dan berkomunikasi tidak pernah lepas dari bahasa. Manusia menggunakan bahasa untuk menyampaikan ide dan gagasan mereka kepada orang lain. Dengan kata lain, manusia selalu berbahasa untuk berkomunikasi. Definisi dari berbahasa tentu berbeda dengan bahasa. Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi, sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam komunikasi tersebut.
Penggunaan bahasa selalu terdapat dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dalam setiap aspek kehidupan memiliki ragam bahasa yang digunakan berbeda. Oleh sebab itu, mungkin sekali dalam setiap tindak tutur penutur menuturkan kalimat yang unik karena dia berusaha menyesuaikan tuturan dengan konteks (Arifin, 1996:11).
Sumarsono dan Paina (2004:19) mengungkapkan bahwa secara sosiolinguistik, bahasa dipandang sebagai tingkah laku sosial (social behavior) yang dipakai dalam komunikasi. Hal itu disebabkan karena masyarakat terdiri dari individu-individu dalam masyarakat saling mempengaruhi. Setiap individu bertingkah laku dengan bahasa dan tingkah laku individu mempengaruhi pada masyarakat bahasa. Namun, individu tersebut terikat oleh sebuah aturan.
Dalam suatu kelompok masyarakat terdapat bahasa yang menjadi tingkah laku dari masyarakat tersebut. Namun, dalam masyarakat itu sendiri terdapat suatu kelompok-kelompok kecil atau masyarakat kecil yang memiliki tingkah laku yang berbeda antara kelompok satu dengan yang lain dalam sebuah masyarakat besar. Hal itu berarti bahwa terdapat pula bahasa yang berbeda dalam kelompok masyarakat kecil tersebut yang menjadi ciri pembeda dari kelompok lain ataupun dari kelompok masyarakat besar.
Dari paparan di atas, penulis mengambil suatu ragam bahasa yang untuk diteliti, yaitu bahasa walikan dalam ragam bahasa Malangan. Penulis menggangap bahwa bahasa walikan memiliki variasi yang unik dan menarik untuk diteliti.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana asal―mula terbentuknya bahasa walikan?
b. Bagaimana fungsi bahasa walikan sebagai identitas etnik?
c. Faktor apa yang mempengaruhi bertahannya bahasa walikan?
1.3 Tujuan
a) Memaparkan asal―mula terbentuknya bahasa walikan.
b) Menjelaskan fungsi bahasa walikan sebagai identitas etnik.
c) Menerangkan faktor yang mempengaruhi bertahannya bahasa walikan.
2. Landasan Kajian
Bahasa walikan merupakan salah satu dari ragam bahasa malangan yang memiliki variasi yang unik, yaitu dengan membalikkan setaip kata dari belakang. Bahasa yang dibalik bisa berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa ini yaitu dengan membalikkan setiap kata dalam kalimat, struktur kalimatnya tetap seperti aslinya.
Berikut adalah beberapa contoh kata dalam bahasa walikan. Kata benda, adapes: sepeda, rotom: motor, libom: mobil, utapes: sepatu, landas: sandal, dan soak: kaos. Nama tempat, hamur: rumah, ayabarus: surabaya, arudam: madura, amalatok: kotalama, onosogrem: mergosono, nahelop: polehan, dan rajajowas: sawojajar. Nama makanan dan minuman, oges: sego (nasi), lecep: pecel, ipok: kopi, oskab: bakso, dan itor: roti. Kata kerja, ngayambes: sembahyang, rudit: tidur, nakam: makan, halokes: sekolah, hailuk: kuliah, ngalup: pulang, ladub: budal (berangkat), rekem: meker (mikir), uklam: mlaku (jalan), utem: metu (keluar), dan helom: moleh (pulang). Kata sifat, keterangan, dan predikat, tahes: sehat, sinam: manis, ewul: luweh (lapar), kadit: tidak, itreng: ngerti, kewut: tuwek (tua), licek: kecil, komes: semok, dan nayamul: lumayan. Kata sebutan, sam: mas, ayas: saya, umak: kamu, kodew: wedok (perempuan), ojob: bojo (pacar atau pasangan hidup), sukit: tikus, dan nawak ewed: kawan dewe (dekat). Kata tanya atau sebut, orip: piro (berapa) dan oyi: iyo (ya). Nama Orang, tigis: sigit, uyab: bayu, kidnep: pendik (vokalis Flanella), dan suga: agus.
Dari beberapa contoh di atas, tidak semua kata bisa di balik begitu saja. Artinya ada pengecualian tertentu. Seperti kalimat yang terdapat bunyi [ng] dan [ny]. Jika kalimat tersebut di balik, maka bunyi tersebut tidak berubah, sedangkan bunyi lainnya tetap di balik. Contoh, singo edan: ongis nade, ngalup: pulang, ngalam: malang, dan ngolony: nyolong (mencuri). Selain itu, penggunaan bahasa walikan ini berdasarkan pada bunyi yang sesuai dan enak untuk diucapkan. Contoh kata menjes (sejenis tempe) dibalik menjadi senjem, orang atau lebih tepatnya orange menjadi genaro. Secara semantik, kata-kata kotor yang dibalik akan terkurangi cita rasanya.
3. Metodologi
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode observasi etnografi. Penulis telah mengamati penggunaan bahasa walikan tersebut di beberapa tempat yang banyak digunbakan oleh masyarakat Malang. Selain itu, terkadang penulis sendiri juga ikut berpartisipasi dalam penggunaan bahasa tersebut.
Penulis memilih metode ini karena bahasa walikan merupakan suatu fenomena sosial―budaya yang terjadi dalam sebuah masyarakat yang luas. Dengan metode observasi etnografi, penulis bisa mengambil data secara langsung pada masyarakat luas, tidak harus pada satu individu ke individu lain. Pengamatan yang dilakukan akan lebih terasa nyata dan apa adanya tanpa dibuat-buat.
4. Bahasan
4.1 Asal―Mula Terbentuknya Bahasa Walikan
Osob kiwalan kera ngalam (bahasa terbalik Arek Malang) berasal dari pemikiran para pejuang tempo dulu, yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota
(GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan, efektifitas komunikasi sesama pejuang selain juga sebagai pengenal identitas kawan atau lawan. Metode pengenalan ini sangat penting karena pada masa Clash II perang kemerdekaan sekitar akhir Maret 1949 Belanda banyak menyusupkan mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang (Pipin:2007).
Mata-mata ini banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap informasi dari kalangan pejuang GRK. penyusupan ini
terutama untuk memburu sisa laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8
Maret 1949 dalam pertempuran dukuh Sekarputih (Desa Wonokoyo sekarang).
Seorang tokoh pejuang Malang pada saat itu yaitu Pak Suyudi Raharno mempunyai gagasan untuk menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sehingga dapat menjadi suatu identitas tersendiri sekaligus menjaga keamanan informasi. Bahasa tersebut haruslah lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, Cina) maupun mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa campuran tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan yaitu secara terbalik dari belakang dibaca kedepan.
Karena keakraban dan pergaulan sehari-hari maka para pejuang dalam waktu
singkat dapat fasih menguasai bahasa baru ini. Sedangkan lawan dan para penyusup yang tidak setiap hari bergaul dengan sendirinya akan kebingungan dan selalu ketinggalan istilah2 baru. Maka siapapun yang tidak fasih mempergunakan bahasa walikan ini pasti bukan dari golongan pejuang dan pendukungnya, sehingga kehadiran para penyusup dapat diketahui dengan cepat serta rahasia komunikasi tetap terjaga.
Bahasa ini sangat bebas dan longgar aturannya dan kemungkinan
pengembangannya sangat luas. Oleh karena itu, perlu disepakati beberapa istilah
penting dikalangan pejuang. Kesepakatan istilah ini diperlukan juga karena banyak kata penting sulit untuk dibaca terbalik sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh para pelakunya. Contohnya kata 'Belanda' dalam bahasa Jawa disebut 'Londho' yang cukup sulit dibaca terbalik, maka dicari istilah padanannya yaitu 'Nolo'. Demikian juga dengan 'Polisi' bukan menjadi 'Isilop' namun cukup 'Silop'. Kemudian untuk 'mata-mata' bila dibaca terbalik menjadi 'atam'. Namun, untuk menentukan bahwa yang dimaksud dalam istilah tersebut adalah antek Belanda maka ditambahi kata 'keat' dari asal kata 'taek' yang dalam bahasa jawa berarti kotoran. 'Keat Atam' atau kotoran mata dalam bahasa jawa disebut 'ketek' adalah sebutan yang pas untuk para penyusup ini.
Begitu juga dengan nama peralatan perang seperti senjata genggam karena
sulit menemukan istilah yang pas maka dipakai kode samaran 'Benduk' dan untuk laras panjang (dowo: panjang dalam bahasa Jawa) disebut 'benduk owod' atau disingkat 'owod' saja. Sedangkan untuk menunjuk masyarakat suku atau etnik tertentu disebut 'onet' untuk golongan Cina (asal kata 'cino' dalam bahasa Jawa), 'arudam' untuk madura, 'arab' menjadi 'bara' dan seterusnya. Sedang untuk menyebut diri seseorang digunakan 'uka': aku, 'ayas': saya, 'umak': kamu, 'okir': riko (kamu dalam bahasa madura).
Sedangkan untuk menyebutkan sesuatu yang baik digunakan istilah 'nez' dari asal kata bahasa arab 'zen'. Begitu pula dalam menyebut orang tua laki-laki (ayah, Bapak) orang arab biasa menyebut dengan 'abah' atau 'sebeh' yang kemudian menjadi 'ebes'. Istilah 'ebes' kemudian menjadi populer ditujukan sebagai gelar kehormatan tidak resmi kepada para komandan, pemimpin atau pembesar dan pemuka masyarakat yang dituakan oleh segenap masyarakat Malang sampai sekarang.

4.2 Fungsi Bahasa Walikan sebagai Identitas Etnik
Etnik mengacu pada sekelompok yang keanggotaannya berdasarkan asa-usul keturunan. Kelompok ditandai dengan ciri-ciri relatif tetap, seperti warna kulit, rambut, hidung, dan sebagainya. Dalam ilmu antropologi terdapat pengetahuan tentang adanya ras putih (orang Eropa), ras merah (India), ras kuning (Cina dan Jepang), dan ras hitam (Negro). Ras tersebut semacam rumpun bangsa.
Indonesia adalah negara yang multikultural, artinya terdiri dari banyak budaya yang menunjang budaya nasionalnya. Bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku, setiap suku masih memiliki subsuku, misalnya suku Batak terdapat Batak Karo, Dairi, Pak-pak, dan sebagainya.
Ada ungkapan dalam bahasa Indonesia ‘Bahasa menunjukkan bangsa’ (Sumarsono dan Paina, 2004:68). Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa atau tutur seseorang menunjukkan sikap dan watak dari penuturnya. Secara tidak langsung, orang akan mengetahui asal dan ras si penutur tanpa harus menyebutkannya.
Bahasa walikan merupakan bagian dari bahasa Malangan yang sebenarnya masih menjadi bagian dari suku Jawa. Dalam suku Jawa terdapat banyak dialek bahasanya, antara lain seperti dialek Bagelen (Jawa Tengah bagian selatan), dialek Jogja―Solo, dialek Jawa Timuran, dan dialek Oseng (Banyuwangi). Dialek Jawa Timuran sendiri masih terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu Jawa Timur kulonan (bagian barat, mendekati Jawa Tengah), Suroboyoan¸dan Malangan.
Seperti yang telah disampaikan di atas, bahwa bahasa walikan berfungsi sebagai identitas dari etnik Jawa malangan. Bahasa walikan ini memang belum terlalu dikenal banyak oleh masyarakat luar suku Jawa, karena bahasa ini bersifat internal, hanya untuk kalangan sendiri saja. Bahasa ini mulai dikenal di tingkat nasional karena adanya klub sepak bola asal malang yang bermain di liga nasional, yaitu Arema. Arema sendiri sebenarnya bukan sekedar klub sepak bola, melainkan menuju pada seluruh masyarakat Malang sebagaimana kepanjangannya, Arek Malang. Sejak saat itu, bahasa walikan selalu identik dengan Arema.
Bahasa walikan telah menjadi sebuah identitas baru bagi Arek Malang. Aremania atau suporter fanatik PS Arema, dengan bangga selalu menggunakan bahasa tersebut ketika klub favorit mereka sedang bertandang di luar Malang. Tentu orang lain akan mengetahui bahwa mereka adalah orang malang tanpa harus memperkenalkan asal mereka.
Salah satu wujud dari kebanggaan terhadap bahasa walikan itu terlihat pada salah satu nama pemain dari grup band asal Malang, Flanella. Kidnep, nama vokalis band tersebut merupakan wujud dari bahasa walikan. Nama sebenarnya adalah Pendik yang kemudian dibalik menjadi Kidnep.
4.3 Faktor yang Mempengaruhi Bertahannya Bahasa Walikan
Pada dua pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa bahasa walikan merupakan warisan dari para pejuang kota malang yang telah berumur setengah abad lebih. Namun, eksistensi bahasa tersebut masih ada sampai saat ini. Tentu umur panjang tersebut bukan suatu kebetulan saja, melainkan ada faktor yang mempengaruhinya.
Pengamat sejarah dari Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menjelaskan, bahasa walikan yang kini sudah menjadi bahasa gaul tersebut sudah lama digunakan para pejuang di masa sebelum kemerdekaan. Bahasa walikan sudah lama menjadi sandi-sandi khusus para pejuang untuk berkomunikasi dengan para pribumi. Bahasa tersebut digunakan untuk mengelabuhi para penjajah di zaman Belanda. Sebab, dengan cara itu, ternyata lebih mudah menjalin hubungan dengan sesama pejuangterang pengamat sejarah ini. Kini bahasa walikan sudah membaur jadi satu dengan bahasa Malangan. Bahkan, kini sudah menjadi trade mark warga Malang. Bahasa Malangan kini sudah menjadi bahasa gaul dari berbagai kalangan. Tidak hanya yang muda. Yang tua pun masih awet menggunakannya. Bahkan, bahasa walikan ini bisa mempererat hubungan persaudaraan (Jauhari:2008)
Fanatisme terhadap PS Arema menjadi merupakan faktor tetap eksisnya bahasa tersebut di kalangan Arek Malang. Zam (2008) dalam blognya menjelaskan bahwa salah satu alasan menurut saya adalah tingginya fanatisme arek-arek Malang terhadap, kota dan identitas mereka sebagai arek Malang. Ia juga menceritakan pengalaman ketika pulang dari kota Pontianak dengan kapal laut (KM Bukit Raya). Ia bertemu salah satu penumpang yang memakai kaos Arema bergambar kepala singa (Singo Edan). Sesama arek malang, tentu saja senang rasanya bertemu teman dari Malang. Ternyata orang tersebut adalah salah satu TKI dari Malaysia, dan kaos tersebut dibuat di Malaysia bersama Arek-arek Malang disana. itulah salah satu contoh fanatisme arek malang terhadap identitasnya.
Jadi, fanatisme terhadap Arema sebagai arek Malang merupakan faktor yang membuat bahasa walikan ini masih bertahan. PS Arema adalah salah satu simbol dukungan arek-arek Malang dalam dunia sepak bola. PS Arema sendiri tidak sekedar persatuan sepak bola, tetapi merupakan suatu identitas tersendiri bagi arek Malang.
5. Simpulan
a. Bahasa walikan berasal dari pemikiran para pejuang tempo dulu, yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan, efektifitas komunikasi sesama pejuang selain juga sebagai pengenal identitas kawan atau lawan. Metode pengenalan ini sangat penting karena pada masa Clash II perang kemerdekaan sekitar akhir Maret 1949 Belanda banyak menyusupkan mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang.
b. Fungsi bahasa walikan sebagai identitas arek Malang terlihat ketika mereka dengan bangga menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan keseharian. Baik itu ketika berada di Malang, maupun di luar Malang untuk dikomunikasikan kepada sesama arek Malang.
c. Fanatisme arek-arek Malang terhadap, kota dan identitas mereka sebagai arek Malang merupakan faktor yang mempengaruhi eksistensi dari bahasa walikan ini. PS Arema adalah salah satu simbol dukungan arek-arek Malang dalam dunia sepak bola. PS Arema sendiri tidak sekedar persatuan sepak bola, tetapi merupakan suatu identitas tersendiri bagi arek Malang.



Daftar Rujukan
Arifin, Bustanul. 1996. Pengantar Awal Analisis Wacana. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Rineka Cipta: Jakarta
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Rineka Cipta: Jakarta
Jauhari, Nurudin. 2007. Asal―Mula Bahasa Walikan Khas Arema. www.globber.net. Diakses pada tanggal 24 Juli 2008
Pipin. 2007. Sejarah Boso Walikan―Khas Arema. www.malang.net. Diakses pada tanggal 24 Juli 2008
Sumarsono dan Partana, Paina. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda bekerja sama dengan Pustaka Pelajar
Zam. 2008. Bahasa Walikan dan Fanatisme Arema. dzam.blogspot.com. Diakses pada tanggal 24 Juli 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]