Mari membangun Bangsa dengan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 15 November 2011

Penilaian Pembacaan Puisi

Penilaian pembacaan puisi atau deklamasi memberi bobot yang besar pada unsur penjiwaan. Unsur lain yang dinilai juga ialah vokal serta gerak penunjang.
1) Penjiwaan
Penjiwaan atau dikenal juga dengan interpretasi puisi meliputi keutuhan makna puisi (pemahaman) dan penyampaian pesan yang terkandung di dalamnya dengan penuh penghayatan. Penghayatan seorang pembaca puisi bukan sekedar untuk dirinya sendiri, melainkan sebagai alat agar penonton atau pendengar lebih memahami dan dapat menikmati puisi yang dibacakan.
2) Vokal
Yang perlu mendapat perhatian pada unsur vokal ialah kejelasan pengucapan (artikulasi), intonasi, serta volume suara.
a) Artikulasi
Kejelasan artikulasi dalam membaca puisi sangat dibutuhkan. Bunyi vokal seperti /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ai/, /au/, dan sebagainya harus jelas terdengar, demikian pula dengan bunyi-bunyi konsonan.
b) Intonasi
Intonasi menyangkut persoalan ”tekanan dinamik”, yaitu keras lembutnya suara; ”tekanan tempo”, yaitu cepat lambatnya ucapan; ”tekanan nada”, yaitu menyangkut tinggi rendahnya suara; dan ”modulasi” yang meliputi perubahan bunyi suara (karena marah bunyi suara menjerit, karena lelah bunyi suara mendesah, dan sebagainya). Ketepatan intonasi atau irama ini bergantung kepada ketepatan penafsiran atas puisi yang dibacakan.
c) Karakter Suara
Pembaca puisi harus mampu memainkan karakter suaranya sesuai dengan kutipan puisi yang dibacanya. Apabila kutipan dalam puisi terdapat monolog seorang kakek tua, ia harus mampu merubah suaranya seperti suara seorang kakek tua.
d) Tempo
Tempo dalam membaca puisi pun sangat penting untuk diperhatikan. Tempo pembacaan puisi harus disesuaikan dengan isi puisi.
e) Kekuatan (Power) Suara
Kekuatan suara juga amat penting untuk diperhatikan. Dalam membaca puisi yang perlu diperhatikan adalah suara seorang pembaca puisi harus mampu mengatasi suara penonton atau pendengarnya. Untuk mengatasi suara penonton/pendengarnya, pembaca puisi memang dituntut untuk memiliki vokal yang keras. Hanya seringkali dijumpai pembaca puisi berteriak untuk memperkeras volume suaranya. Hal itu tentu saja akan merusak kemerduan ucapan yang justru amat dibutuhkan dalam membacakan puisi. Volume suara yang keras semestinya dilakukan dengan mempertinggi suara, bukan dengan jalan berteriak.
3) Gerak
Gerak pembaca puisi tidaklah sebanyak gerak yang dilakukan aktor dalam bermain drama. Gerak yang dilakukan dalam membaca puisi hendaknya sesuai dengan tuntuntan puisi, yakni mampu bergerak dengan wajar karena dorongan batin yang kuat. Yang dimaksud dengan gerak dalam membaca puisi bukan hanya terlihat bergoyang saja, melainkan juga gerak muka (mimik), gerak tangan (gesture), dan gerak seluruh tubuh (pantomimik).
a) Mimik
Mimik merupakan gerak atau ekspresi wajah dalam membacakan puisi. Mimik yang dimunculkan haruslah proporsional sesuai dengan kebutuhan menampilkan gagasan puisi secara tepat.
b) Gesture
Gestur dapat diartikan sebagai gerak tangan atau gerak anggota tubuh yang sesuai dengan isi puisi ketika seseorang membacakan puisi.
c) Pantomimik
Pantomimik yaitu gerak anggota tubuh dalam membacakan puisi. Sama halnya sepereti mimik, pantomimik yang dimunculkan dalam membacakan puisi haruslah proporsional sesuai dengan kebutuhan menampilkan gagasan puisi secara tepat. Pantomimik yang kurang wajar akan merusak keindahan pembacaan serta bisa jadi akan mengganggu pembacaan puisi tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar