Mari membangun Bangsa dengan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 15 Januari 2011

Analisi Nilai Moral dalam Novel Cao Bao Khan Karya Remy Silado

Ditulis oleh Yogi Yuswantoro

Dalam novel ca bau kan karya remy sylado menceritakan tentang Ca Bau Kan adalah sebuah film cerita berdasarkan kisah menarik yang ditulis oleh Remy Sylado, diterbitkan tahun 1999. Bagi mereka yang mengerti bahasa Cina, “Ca-bau-kan” berarti “wanita”. Namun, sebagian besar menyebutnya “cabo” yang berarti wanita tidak bermoral. Novel ini menghadirkan sebuah kisah menggigit tentang perjalanan seorang wanita tak berdaya dalam perjalanannya menemukan cinta sejati. Kisah ini juga menceritakan pencarian asal usul, ditengah-tengah kebudayaan Indonesia dan Cina.
Pada awal cerita, saat zaman kolonial Belanda di Batavia, diceritakan latar belakang seorang wanita betawi muda. Dia kehilangan suaminya tak lama setelah menikah dan diusir dari keluarga mendiang suaminya saat sedang mengandung. Tragedi tersebut bertambah parah dengan gugurnya kandungan wanita tersebut yang diikuti dengan masuknya Dia ke dalam dunia prostitusi Ca-bau-kan atas dorongan Bibinya, Saodah
Cerita dimulai dari pulangnya Giok Lan, seorang wanita Indonesia lanjut usia yang dulu dipungut anak dan tinggal di Belanda, ke Indonesia. Ia kembali ke Indonesia untuk mencari tahu asal usul dan latar belakang hidupnya dan keluarga sebenarnya. Ia akhirnya tahu bahwa Ibu kandungnya adalah wanita betawi pribumi tadi yang bernama Siti Noerhajati, yang kerap dipanggil Tinung, seorang Ca-bau-kan yang sering menghibur orang Tionghoa pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Ayah kandungnya adalah Tan Peng Liang, seorang pedagang tembakau peranakan Tionghoa dari Semarang. Mereka berdua adalah orang tua kandung dari Giok Lan, sang narator film.
Cerita berpindah ke masa lalu, pada tahun 1933. Tinung menjadi seorang Ca-bau-kan di daerah Kalijodo, Batavia, dan tak lama kemudian Tinung pun menjadi sangat populer dan terkenal karena kecantikannya. Karena kecantikannya tersebut, Tinung sempat dijadikan wanita simpanan oleh seorang tauke (juragan) pisang Tionghoa berperangai kasar yang bernama Tan Peng Liang. Tinung hidup dengan nyaman dan bahkan mengandung anak lagi. Namun kemudian Tinung melarikan diri karena tidak tahan dengan lingkungan rumah Tan Peng Liang yang diwarnai kekerasan.
Tinung kemudian melanjutkan profesinya sebagai wanita penghibur di Kalijodo, namun tak bertahan lama karena kondisinya yang berbadan dua. Saodah yang juga bekerja sebagai penari cokek kemudian membawa Tinung dan memperkenalkan Tinung ke dunia tari dan nyanyi cokek di bawah naungan Njoo Tek Hong, seorang musisi Tionghoa. Dalam sebuah festival, dia bertemu dengan Tan Peng Liang , seorang pengusaha tembakau kiau-seng (peranakan Tionghoa) dari Semarang yang sangat berbeda dengan Tan Peng Liang sebelumnya, dan mereka berdua pun saling menyimpan perasaan.
Cerita berpindah ke Tan Peng Liang kedua yang namanya cepat melejit sebagai pengusaha tambakau sukses dan kaya di Batavia. Konflik persaingan pun mulai timbul antara Tan Peng Liang dengan Kong Koan, sebuah dewan pengusaha besar Tionghoa di Batavia yang beranggotakan antara lain oleh Oey Eng Goan, Thio Boen Hiap, Lie Kok Pien, Kwee Tjwie Sien, Timothy Wu dan pengacara Liem Kiem Jang \
Tinung akhirnya menjadi seorang penari cokek dan sering menghibur di festival gambang kromong Betawi. Dia bertemu dengan Tan Peng Liang lagi dan akhirnya menerima tawarannya untuk menjadi wanita simpanan Tan Peng Liang, sementara perseteruan Tan Peng Liang dengan Dewan Kong Koan semakin memanas. Tinung dan Tan Peng Liang pun memulai jalinan kasih yang dilandasi cinta, walaupun mereka tak menikah secara resmi, karena di balik hubungan mereka, anak dan istri Tan Peng Liang di Semarang menentang keras hubungan berbeda kelas tersebut. Yang mendukung hubungan mereka hanyalah Ibu Tan Peng Liang seorang wanita Jawa yang bijaksana.
Cerita berpindah ke perseteruan Tan Peng Liang dan Dewan Kong Koan, dimana Tan Peng Liang dan tangan kanannya, Tan Soen Bie menipu Thio Boen Hiap untuk menjual tembakaunya ke Tan Peng Liang. Cerita kemudian mengungkap bahwa Giok Lan lahir di tengah-tengah perseteruan bisnis Tan Peng Liang dengan Dewan Kong Koan tersebut. Tindakan penipuan Tan Peng Liang akhirnya diketahui oleh Thio Boen Hiap yang karena amarahnya akhirnya merencanakan untuk membakar gudang tembakau Tan Peng Liang. Rencana tersebut berhasil dihentikan oleh Tan Soen Bie yang menangkap basah orang suruhan Thio Boen Hiap, namun siapa sangka, karena dibakar amarahnya Tan Peng Liang malah menyuruh Tan Soen Bie untuk membunuh orang suruhan tersebut dan membakar gudang tembakaunya beserta isinya.
Kasus pembakaran tersebut diselidiki oleh kepolisian Hindia Belanda dan pers. Tan Peng Liang pun mulai menyogok mereka dengan uang suapan untuk menjebak Thio Boen Hiap. Tak lama setelah sidang, Thio Boen Hiap pun akhirnya dinyatakan bersalah, namun situasi justru berbalik menyudutkan Tan Peng Liang setelah wartawan Max Awuy bersama Tjia Wan Sen mengungkap pemalsuan uang yang dilakukan Tan Peng Liang. Tan Peng Liang pun akhirnya ditangkap dan dipenjara di Cipinang. Dalam penjara terungkap bahwa Tan Peng Liang ternyata terlibat perjuangan kemerdekaan bersama Rahardjo Soetardjo, sepupunya yang adalah orang Jawa pribumi.
Cerita berpindah ke masa ini, dimana Giok Lan bertemu dengan Oey Eng Goan tua dan bertanya mengenai riwayat Tan Peng Liang. Oey Eng Goan ternyata masih membenci Tan Peng Liang lama setelah Dia mati. Dia bercerita bahwa tak lama setelah dipenjara, Tan Peng Liang melarikan diri ke Makau, Cina, dan menjadi semakin disegani dalam dunia bisnis, namun juga bercerita bahwa Tinung lah orang yang sebenarnya membuat Tan Peng Liang orang yang disegani.
Cerita berpindah lagi ke masa lalu, dimana Tinung menolak ajakan banyak pria untuk menjadi wanita simpanan mereka karena cintanya pada Tan Peng Liang. Dilanda kemiskinan, Tinung tidak dapat mengurus anak-anaknya. Dia terpaksa menyerahkan anak pertamanya dan Giok Lan kecil untuk diadopsi dan dibawa ke negeri Belanda dengan imbalan uang, walau dilanda perasaan bersalah sebagai seorang Ibu. Terungkap bahwa tak lama setelah diadopsi, anak pertamanya, Kakak Giok Lan, telah meninggal di Belanda, namun Tinung tidak mengetahui karena Ia buta huruf dan tak dapat membaca surat tentang kabar tersebut. Cerita kemudian mengungkap bahwa Tinung diculik oleh orang suruhan Tan Peng Liang pertama yang ternyata masih menyimpan perasaan kepada Tinung. Namun kisah penculikan tersebut tidak bertahan lama karena campur tangan Tan Soen Bie yang diakhiri dengan tewasnya Tan Peng Liang pertama di tangan Tjia Wan Sen yang dendam kepadanya. Kematian Tan Peng Liang pertama tersebut menjadi keuntungan bagi Tan Peng Liang kedua yang dapat memalsukan kematiannya sendiri.
Cerita berpindah ke kedatangan pasukan Jepang tahun 1942, dimana anggota Dewan Kong Koan akhirnya ditangkap dan Rahardjo Soetardjo bersama Max Awuy menjadi rekan seperjuangan bawah tanah dalam pasukan Jepang. Di negeri Siam, Tan Peng Liang telah mengganti namanya menjadi Simon Chen. Dia memulai hubungan asmara disertai bisnis menyelundupkan senjata dengan seorang pejuang bawah tanah komunis merangkap pengusaha bernama Jeng Tut. Cerita kemudian berpindah ke masa ini, dimana Oey Eng Goan tua bercerita bahwa untuk membebaskan anggota Kong Koan dari tangkapan Jepang, Thio Boen Hiap menghadiahkan Tinung yang cantik ke tentara Jepang sebagai seorang jugun ianfu di Rumah Panjang, Sukabumi. Kembali ke masa lalu, hilangnya Tinung memancing kemarahan Tan Soen Bie yang kemudian mengabarkan berita tersebut ke Tan Peng Liang.
Tan Peng Liang pulang dan berlabuh di Sunda Kelapa, Batavia, lalu bertemu dengan Rahardjo Soetardjo. Tan Peng Liang marah besar saat Rahardjo Soetardjo mengabarkan nasib Tinung dan perbuatan Thio Boen Hiap kepadanya. Dia kemudian berjanji akan membantu perjuangan pasukan Rahardjo Soetardjo asalkan dibantu untuk mendapatkan Tinung kembali. Tinung pun akhirnya dibebaskan keluar dari Rumah Panjang oleh Rahardjo Soetardjo. Dalam penantiannya di sebuah Rumah Sakit, Tinung menjadi hancur dilanda oleh perasaan bersalah dari peristiwa-peristiwa hidupnya selama itu, namun akhirnya pertemuan dengan Tan Peng Liang merubah hidupnya kembali ke normal. Cerita kemudian berpindah ke peran Tang Peng Liang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tan Peng Liang akhirnya bergabung dengan Rahardjo Soetardjo dan Max Awuy sebagai pemasok senjata dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perannya tersebut ditentang oleh Dewan Kong Koan yang mengetahui bahwa Tan Peng Liang masih hidup, dan dipersulit hubungannya dengan Jeng Tut yang mulai sulit karena pandangan ideologi mereka yang berbeda.
Di sisi lain, hubungan Tang Peng Liang dengan Tinung juga semakin renggang. Tinung merasa bahwa Ia tidak berguna untuk Tan Peng Liang karena tidak bisa mengandung anak lagi. Hal tersebut akhirnya memicu Tan Peng Liang untuk melampiaskan dendam lamanya kepada Thio Boen Hiap yang menyerahkan Tinung kepada pasukan Jepang sebelum kemerdekaan. Tan Peng Liang pun akhirnya menyerbu rumah Thio Boen Hiap dan dalam kemarahannya akhirnya mengeksekusi Thio Boen Hiap dengan tembakan ke kepala. Cerita berpindah ke Batavia yang sekarang bernama Jakarta pada tahun 1960, dimana Tan Peng Liang menjadi seorang pengusaha yang sangat kaya dan sukses, dibantu oleh teman seperjuangannya, Rahardjo Soetardjo dan Max Awuy yang kini mendapat posisi di pemerintahan Indonesia. Di sini Tan Peng Liang kembali menyatakan cintanya yang tulus kepada Tinung. Namun dibalik layar, anggota Dewan Kong Koan yang telah bubar masih menyimpan dendam pada Tan Peng Liang, karena mereka tahu siapa yang membunuh Thio Boen Hiap.
Hidup Tan Peng Liang akhirnya berakhir tak lama kemudian. Dia meninggal setelah memakan durian beracun yang dibawakan oleh Jeng Tut dalam sebuah pertemuan bisnis di rumahnya. Terungkap bahwa tak lama setelah meninggalnya Tan Peng Liang, Tinung pun akhirnya juga meninggal. Tak ada yang mencurigai bahwa Tan Peng Liang sebenarnya mati dibunuh, namun akhirnya Oey Eng Goan tua bercerita bahwa Dia lah yang sebenarnya merencanakan pembunuhan tersebut. Giok Lan sangat marah setelah mengetahui perbuatan tersebut, namun akhirnya memutuskan untuk memaafkan Oey Eng Goan dan melupakan kejadian tersebut, walau ditentang oleh saudaranya. Novei ini diakhiri dengan kedatangan Giok Lan ke sebuah kuburan Tionghoa, untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya, Tan Peng Liang dan Siti Noerhajati yang diakhiri dengan pembelaan dan pembenarannya atas pekerjaan Ibunya sebagai seorang Ca-bau-kan.
Tinung adalah seorang Ca Bau Kan. Pada usia 14 tahun orang tuanya menjodohkannya dengan seorang pria Batavia yang telah beristri empat. Keempatnya tinggal di bawah satu atap. Lima bulan setelah pernikahannya, sang suami meninggal dunia. Sebagai istri termuda, Tinung dituduh oleh istri-istri yang lain dan ibu mertuanya sebagai sebab kematian sang suami. Mereka kemudian memaksa Tinung keluar dari rumah. Merasa kehilangan dan dikhianati, Tinung menjual diri kepada pria-pria pendatang Cina di Kali Jodo atas bantuan dan dorongan orang tua dan saudaranya, Saodah, yang telah menjalani hidup bebas. Berdiri di atas perahunya dengan tubuh yang berlekuk-lekuk, Tinung dengan cepat menjadi pusat perhatian di daerah Kali Jodo. Ia menjadi seorang “Ca-bau-kan” yang paling dicari.
Dslam novel ini dapat ditarik suatu nilai moral yang di tarik. Nilai moral sendiri merupakan nilai-nilai yang mengacu pada baik buruknya tindakan manusia sebagai manusia. Hala ini dapat dilihat dari seluruh aspek kehiduipan manusia secara konkrit yang teraktualisasi menalai tutur kata dan perbuatan yang dilakukan secara sadar atau mengerti terlebih dahulu tanpa paksaan atau tekanan dari orang lain.
Dalam novel ini memiliki banyak tokoh yang sifatnya berbeda-beda. Tetapi dalam pemaparan makalah ini kira hanya mengambil tokoh tan peng liang asal gang tamim bandung, tan peng liang asal gang pinggir semarang dan tinung karena dalam pesan moral mereka paling menonjol.
Kita mulai dari tan peng liang gang bandung. Diceritakan tan peng liang merupakan orang yang berprofesi sabagai rentenir. Ia selalu menyiksa jika ada orang yang memiliki hutang tidak mau bayar baik hutang pokok maupun bunganya.
Seorang rentenir sering menjadi lalim seperti tan peng liang dan melihat kelakuan itu tinung takut. tak sekali dua, sejak tinung disimpan di sewan, dia melihat bagaimana dengan kejamnya pan peng liang menyuruh centeng-centengnya menyiksa orang yang terlambat membeyar. Seseorang yang belum membayar pada waktu yang ditentukan, dinaikkan lagi bunga uang makin lama makin tinggi. Diantara orang-orang sekitar tangerang yang pernah bermasalah dengan tan peng liang, adalah boning yang digebuk sampai gigi-giginya rontok, membuat tinung yang sempat menyaksikan benar-benar ngeri, terbawa dalam mimpi (hal 22)
Dalam kutipan diatas menjelaskan bahwa moral seorang tan peng liang tidaklah baik karena ia selalu menyiksa orang yang terlambat membayar utang-utangnya. Selain itu juga tan peng liang selalu menaikkan bunga utang jika tidak bisa membayarnya tepat waktu. Hukuman yang dijatuhkan oleh tan peng liangpun terbilang sangat kejam karena menyiksa secara fisik sampai yang peling kejam membunuh orang tersebut.
Kedua adalah tan [eng liang dari semarang. Ia adalah memiliki moral ganda. Distu sisi ia baik yaitu membantu pergerakan PNI dan disatu sisi ia menciptakan uang palsu yang sngat merugikan Negara.
“Terima kasih atas bantuan finansiilmu buat pergerakan kami disini.” Kata soetardjo rahardjo.
“Itu soal kecil.”kata tan peng liang.. pokoknya kalau ada kesulitan jangan sungkan-sungkan kontak aku sampean mesti aku bantu. (hal 90)
Dalam kutipan di atas jelas bahwa tan peng liang semarang memuiliki akal baik yaitu membantu pergerakan PNI dimana pergerakan itu merupakan pergerakan yang dibentuk untuk melawan penjajah dari Indonesia. Berbeda dengan tang peng liang dari bending yang malah menytuksa rakyat kecil yang tidak berdosa karena tidak mampub membayar utang-utangnya.
Dibalik kebaikan tan peng liang dari semarang ini juga terdapat moral yang sangat buruk yaitu membuat unga palsu.
Diruang bawah tanah ini ada mesin cetak dan pelbagai peralatan lain. Dotengahnya ada peti-peti. Isinya uang-uang kertas. Dari mana pula uanga kertas sebanyak itu? Jawabnya tak lain adalah dari kemampuan otak tan peng liang melakukan tindakan criminal melawan hokum. Itu semua uang palsu(102)
Kebaikan tan peng liang kepada pergerakan PNI juga dibarengi dengan keburukan yang melawan hokum. Yaitu dengan menciptakan uang palsu dengan menggunakan mesin cetak. Ia menggunakan ruang bawah tanah guna keamanaan diri pihak yang berwajib. Uang palsu itu dicetak untuk disebarkan kemasyarakat. Tindakan ini sangat merugiakn masyarakat banyak karena barang yang tan peng liang beli menggunakan uang palsu, itu berarti orang yang berjualan tidak memiliki peluang untuk membeli barang dagangannya lagi dengan uang palsu.
Selain menciptakan xuang palsu ia juga melakukan penyuapan terhadap JP Verdoorn demi kepentingannya secara pribadi.
Sebenarnya JP Verdoorn segera tahu pula, bahwa isi amplop itu anga tapi ia berpura-pura pula. Apa ini? Katanya dalam nada sebolehnya. Menunjukkan sikap lugu jauh dari perbuatan-perbuatan dosa.
Ini sekedar bingkisan tuan inspektur, kata tan peng liang sambil mendekatkan amplop itu kehadapan JP Verdoorn..(152)
Kutipan itu menjeskan bahwa tan peng liang melakukan penyuapan kepada JP Verdoorn untuk kepentingannya. Ini jelas perbuatan yang sangat buruk dari tan peng liang yang tidak boleh untuk ditiru. Karena pada kehidupan nyata perbuatan menyuap merupakan perbuatan yang melanggar hokum dan berdosa bagi orang yang melakukannya secara agama baik yang menyuap dan di suap. Apalagi demi kepentingan pribadi.
Tan peg liang juga tidak senang jika urusan pribadinya diganggu oleh orang lain, apa lagi tidak sefaham dengan apa yang dilakukan oleh tan peng liang. Ia akan menyingkirkan orang yang mengganggu kepentingannya.
“hajar itu juru warta, kita sudah ajak dia berbaik, dia tidak mau. Ya wis, sudak, sikat. Bagaimana caramu menangani terserah.(190)
Dari kutipan itu terlihat bagi tan peng liang siapa saja yang tidak sejalan dengannya oaring tersebut harus disingkirkan atau dalam istilah dibunuh karena telah mengganggu kepentingan probadinya. Ini dilakukan dengan cara menyuruh kaki tangannya yyaitu tan soen bie
Tokoh yang ketiga dan sekaligus tokoh utama dalam novel ini. Tinung adalah seorang ca bau kan. Bagi mereka yang mengerti bahasa Cina, “Ca-bau-kan” berarti “wanita”. Namun, sebagian besar menyebutnya “cabo” yang berarti wanita tidak bermoral. Terlihat dari kutipan dibawah ini
Dan perahu menuju ke utara, dibagian yang sunyi. Sinar purnama agak condong terhalang pepohonan antara rengas dan bamboo. Disana tinung memulai babak baru kehidupannya, mengalami perasaan tertentu sambil menolak dan membuang perasaan-perasaan itu dari ingatannya. Setelah kencan pertama ini usai, masih ada lagi malam-malam lain, yang kedua, ketiga, kesepuluh, keduapuluh, dan seterusnya, tinungpun menjadi perempuan populeh dikali jodo, dijuluki chixiang bahasa kuo-yu artinya sangat masyur dan dicari-cari. (16)
Dalam kutipan itu jelas tinung memiliki moral yang tidak baik. Ia menjadikan dirinya sebagai wanita penghibur untuk menghilangkan semua yang ada dalam benaknya. Selain itu tuntutan ekonomi tinung rela menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Ini merupakan pilihan terakhir tinung akan tetapi Meskipun pilihan tinung yang terakhir tetapi itu merupakan pilihan yang menjurumuskan pada moral yang tidak baik.

PENGEMBANGAN MATERI AJAR PEMBELAJARAN DRAMA

Ditulis oleh Yogi Yuswantoro

Sekolah : SMA
Kelas : XII
Semester : 2
Aspek : Mendengarkan
SK : Memahami pembacaan teks drama.
KD : Menyimpulkan teks drama melalui pembacaan teks drama.
Indikator :
(1) mampu menentukan pokok-pokok isi drama yang diperdengarkan
(2) mampu menyusun pokok-pokok isi drama menjadi beberapa kalimat
(3) mampu menyimpulkan isi teks drama yang dibacakan

Teks drama tidak harus diperankan aktor di panggung pergelaran. Akan tetapi, dapat pula dibacakan dengan penuh penghayatan di depan umum. Kemampuan seseorang pembaca teks drama yang dapat menghayati dialog tokoh-tokohnya dapat memperjelas pemaknaan pendengar akan unsur-unsur drama tersebut.
Simaklah pembacaan petikan drama berikut dengan seksama! Perhatikan unsur-unsur intrinsiknya! Tunjuk salah satu siswa untuk membacakannya di depan kelas!


Malin Kundang

Disebuah desa bernama Suka Maju, hiduplah seorang pemuda yang bernama Malin Kundang. Ia hidup bersama ibunya, sedangkan ayahnya telah lama meninggal dunia. Suatu hari, Malin menyampaikan keinginannya kepada ibunya untuk pergi merantau ke kota.
Malin : “Bu, saya mau pergi merantau ke kota saja,siapa tahu disana saya bisa mendapat pekerjaan demi kehidupan kita.”
Ibu : “Kau yakin nak? Mencari pekerjaan di kota besar itu lebih sulit daripada mencari pekerjaan di desa kita ini”
Malin : “Saya yakin Bu, tolong izinkan saya ya!”
Ibu : “Baiklah kalau itu keinginan mu,Ibu izinkan.”
Esok paginya berangkatlah Malin ke kota untuk mencari pekerjaan. Tempat demi tempat ia datangi,tetapi hasilnya nihil.
Sampai suatu ketika, ia melihat seorang wanita cantik sedang belanja di pasar. Tiba-tiba tas sang wanita tersebut dijambret oleh seorang lelaki.
Cahaya : “Tolong, jambret !!!!! jambret!!!!!”
Malin segera menolong Cahaya dan mengejar pejambret tersebut. Akhirnya, ia berhasil menangkap pejambret itu dan menghakiminya.
Pejambret : “Ampun bang, ampun . . . “
Malin : “ Kurang ajar kau, beraninya hanya dengan perempuan !!”
Pejambret : “Ampun bang . . Ampun !!”
Malin : “Ikut saya kekantor polisi !”
Lalu sang pejambret dibawa Malin ke kantor polisi untuk mendapat proses hukum selanjutnya.
Cahaya : “Terimakasih ya sudah menolong saya, untuk ungkapan rasa terimakasih,maukah anda kerumah saya dulu . . ?”
Malin : “Tentu nona”
Cahaya : “Jangan panggil saya nona, nama saya cahaya”.
Singkatnya, Malin tiba dirumah cahaya dan kemudian berkenalan dengan sang ayah. Semenjak kejadian itu Malin diangkat sebagai karyawan dan menjadi akrab dengan cahaya. Karena keakrabannya,sampai-sampai Malin hampir tidak ingat lagi dengan sang Ibu dikampung. Tidak lama kemudian,mereka menikah.
Setelah menikah dengan Cahaya,Malin bekerja sebagai karyawan mertuanya. Tak sengaja,kapalnya singgah di desa suka maju,tempat Ia dan Ibunya tinggal. Seorang kerabat melihat Malin bertepi dan segera mengabarkan Ibu Malin.
Tetangga : “Mak,mak.. Malin pulang mak,dia bertepi di pelabuhan!!!”
Ibu : “Malin pulang??Terimakasih Uni atas kabarnya!”
Syukur Alhamdulillah anakku pulang (dalam hati)
Tetangga : “Ayo Mak,kita kesana!”
Mendengar kabar itu sang Ibu merasa senang sekali. Hari yang ditunggu sang ibu pun tiba.
Ibu : “Malin , Malin (berteriak), Malin anakku , kau sudah kembali nak. Ibu sangat merindukanmu.”
Karena malu mengakui Ibunya,Malin pun berbohong.!!!”
Malin : “Siapa kau ?? Ibu ku sudah lama meninggal
Ibu : “Ini Ibumu nak,aku yang melahirkan dan membesarkanmu,mengapa engkau seperti ini??”
Malin : “Tidak,kau bukan Ibuku,Ibuku telah meninggal.”
Cahaya : “Apa benar dia itu Ibumu Kang??Lalu kenapa engkau tidak mengakui dia??”
Malin : “Tidak !! Dia bukan Ibuku !! (bergegas meninggalkan Ibunya)
Kemudian sang ibu menangis sedih, anak yang dilahirkan dan dibesarkannya tidak mengakuinya. Air matanya berlinang. Malin segera pergi dari desa.
Ibu : “Ya ALLAH,mengapa anakku satu-satunya seperti itu??Aku yang melahirkan dan membesarkan dia Ya ALLAH.Berilah Ia teguranmu,sesungguhnya Ia adalah anak yang durhaka!!!”
Tiba-tiba di tengah perjalanan,badai datang,angin bertiup kencang,gelombang air laut naik,kilat menyambar-nyambar,kapal pun terguncang.
Malin : “Ada apa ini??Badai begitu besar”
Tiba-tiba kilat menyambar malin.
Malin : “Aaaaarrrrrggggghhhhh……!!!!!!!!”
Seketika Ia menjadi batu…
Tamat


Menentukan pokok-pokok isi drama
Setelah siswa mendengarkan pembacaan teks drama, maka dapat ditentukan pokok-pokok isi teks drama yang sesuai dengan situasi dan konteks. Untuk menentukan pokok-pokok isi teks drama dapat dilakukan dengan mengidentifikasi 4 aspek penting yang terdapat dalam teks drama, di antaranya:
• Nama tokoh
• Tempat kejadian
• Waktu kejadian
• Peristiwa yang terjadi
Sebagai contoh adalah teks drama karya Putu Wijaya yang berjudul Dor.

Dor
Lampu padam.
PENGADILAN.
Jaksa : Pada tanggal sekian bulan sekian tahun sekian, hari anu di tempat anu, pemuda ini, Muhammad Ali, telah menghilangkan nyawa seorang wanita. Atas nama keadilan, kami tuntut agar pemuda ini dihukum lima belas atau dua puluh tahun. Itulah tuntutan kami.
Hakim : Betul Saudara melakukan itu?
Pemuda : Tidak.
Hakim : Apakah saudara punya bukti-bukti?
Jaksa : Beberapa orang saksi.
Hakim : Mereka mau disumpah?
Jaksa : Ya, tentu saja.
Hakim : Apakah keterangan mereka benar?
Jaksa : Masuk akal dan tidak ada bukti-bukti yang menyanggahnya.
Hakim : Itu saja alasan Saudara?
Jaksa : Juga karena saya yakin bahwa orang ini bersalah.
Hakim : Alasan lain?
Jaksa : Juga karena saya yakin orang ini bersalah.
Hakim : Alasan lain?
Jaksa : Untuk sementara, itu sudah cukup. Kecuali kalau dia bisa membantah.
Hakim : Apakah Saudara akan membantah?
Pemuda : Ya, mengapa tidak!
Hakim : Saudara merasa tidak melakukan kejahatan itu?
Pemuda : Tidak.
Hakim : Tapi, Saudara menembak?
Pemuda : Ya.
Hakim : Saudara dengan sadar menembak?
Pemuda : Ya.
Hakim : Mana para saksi?
Jaksa : Saksi-saksi bawa kemari
......
(Sumber: Dor, karya Putu Wijaya)

Dari teks drama Dor tersebut kita dapat mengidentifikasi 5 aspek penting yang terdapat dalam teks drama.
a. Nama tokoh : hakim, pemuda, dan jaksa
b. Tempat kejadian : di pengadilan
c. Waktu kejadian : ketika sidang kasus pemuda
d. Peristiwa yang terjadi :
(1) Menghilangkan nyawa wanita
(2) Hukuman lima belas atau dua puluh tahun.
(3) Jaksa mempunyai saksi.
(4) Pemuda membantah.
(5) Pemuda mengaku.


Menyusun pokok-pokok isi drama menjadi beberapa kalimat
Berdasarkan identifikasi 4 aspek di atas, siswa dapat menyusun pokok-pokok isi teks drama menjadi beberapa kalimat dengan menggunakan bahasa sendiri. Sebagai contoh, peristiwa pada teks drama Dor dapat disusun menjadi beberapa kalimat seperti berikut:

Di pengadilan, Jaksa menuntut Pemuda telah menghilangkan nyawa seorang wanita. Pemuda dituntut hukuman lima belas atau dua puluh tahun. Jaksa mempunyai bukti-bukti yang memberatkan Pemuda. Bukti-bukti tersebut adalah beberapa orang sakasi. Kemudian, Hakim bertanya pada Pemuda, apa ia ingin membantah. Pemuda menjawab ia membantah. Hakim bertanya lagi, apakah Pemuda menembak. Pemuda pun menjawab ia memang menembak. Akhirnya, Pemuda mengaku bahwa dirinya memang menembak.

Menyimpulkan isi teks drama yang dibacakan.
Setelah menyusun pokok-pokok isi teks drama ke dalam beberapa kalimat, sisiwa dapat menyimpulkan isi dari teks drama yang dibacakan. Dari teks drama berjudul Dor dapat disimpulkan seperti berikut ini:

Pemuda dituntut oleh Jaksa telah membunuh seorang wanita dan ketika ditanya oleh Hakim, Pemuda mengakui bahwa dirinya telah menembak.

ANALISIS UNSUR BENTUK DAN UNSUR MAKNA DALAM PUISI KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG KARYA TAUFIK ISMAIL


Ditulis oleh:
Yogi Yuswantoro


KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG
KARYA TAUFIK ISMAIL

Langit akhlak telah roboh
Di atas negeri
Karena akhlak roboh hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak berdiri
Semua jadi begini
Negeriku sesak adegan
Tipu menipu
Bergerak ke kiri,
dengan Maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan
perampok ketabrak aku
bergerak ke belakang
dengan pencopet kesandung aku
berherak ke depan, dengan
penipu ketanggor aku
bergerak


1. ANALISIS CIRI-CIRI PENGGUNAAN RIMA DAN EFEK EMOSI PUISI

ANALISIS RIMA
1. Rima Sempurna
 Rima pada seluruh suku kata terakhir
Negeri-berdiri-begini-kekiri
Menipu-aku

2. Rima Tak Sempurna
 Rima pada sebagian suku kata terakhir
Adegan-dengan-belakang-gerak


3. Rima Terbuka
 Rima yang terdapat pada suku kata terakhir yang ditutup dengan vokal
Negeri-berdiri-begini-kekiri
Menipu-aku

Rima Tertutup
 Rima yang terdapat pada suku kata terakhir yang ditutup dengan konsonan
Adegan-dengan-belakang-gerak

 Berdasarkan Letak kata dalam Baris Rima

Rima Awal
Rima pada awal kalimat atau awal baris
Karena akhlak roboh hukum tak tegak berdiri
Semua jadi begini
Rima Akhir
 Rima pada akhir kalimat atau awal baris
Di atas negeri
Karena akhlak roboh hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak berdiri
Semua jadi begini
Bergerak ke kiri,
Tipu menipu
dengan Maling kebentur aku
perampok ketabrak aku
dengan pencopet kesandung aku
penipu ketanggor aku

1. Rima Tengah
 Rima yang terletak di tengah kalimat
Karena akhlak roboh hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak berdiri

I. Analisis Efek Emosi

Rima i
a. Langit akhlak telah roboh
Di atas negeri
Rima “ i “ pada baris tersebut menimbulkan efek kesedihan. Kerena aku lirik dalam puisi taufik ismail sangat sedih melihat akhlaq negeri sudah hilang dengan dipertegas dalan rima”i” dalam negeri

b. Bergerak kiri
Dengan maling kebentur aku
Rima “ i ” pada baris tersebut menimbulkan efek kebingungan. Hal tersebut dapat dilihat dari pemilihan kata kiri yang kemudian diikuti diksi maling yang menggambarkan kebingungan penyair dalam menentukan arah


II. Kesimpulan
Pembahasan lapis bunyi hanyalah ditujukan pada bunyi-bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus, yaitu bunyi-bunyi yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Misalnya rima pada puisi ketika burung merpati sore melayang
Untuk efek emosi yang terdapat pada pusis tersebut, Taufik ismail sering melakulah pengulangan kata, ini dimaksudkan agar efek bunyi yang dihasilkan dalam puisinya akan sangat kuat dan pesan yang disampaikanpun akan lebih mengena padda pembaca.

ANALISIS KATA DENOTASI,KONOTASI DAN SIMBOL


KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG
D K D
Langit akhlak telah roboh
D D
Di atas negeri
D
Karena akhlak roboh hukum tak tegak berdiri
D D D D
Karena hukum tak tegak berdiri
D D D D D
Semua jadi begini
D D D
Negeriku sesak adegan
D K K
Tipu menipu
D D
Bergerak ke kiri, dengan
D D D
Maling kebentur aku
D D D
Bergerak ke kanan, dengan
D D D
perampok ketabrak aku
D D D
bergerak ke belakang
D D
dengan pencopet kesandung aku
D D D D
berherak ke depan, dengan
D D D
penipu ketanggor aku
D D D
bergerak
D


KATA YANG BERKONOTASI

NO KATA MAKNA
1 Burung Merpati Kesucian, kejujuran, kebersihan, kesetiaan
2 Melayang Hilang, lenyap,
3 Sesak Padat, penuh, banyak
4 Adegan Kebohongan, penipuan,


SIMBOL
No Kata Makna
1 Langit Simbol kejujuran tertinggi


KESIMPULAN

Pada puisi Taufiq Ismail ini, terdapat kata-kata denotasi, konotasi, dan simbol. Kata-kata itu digunakan oleh penulis untuk memperkuat penijwaan yang ada di dalam puisi. Denotasi adalah makna yang sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Dalam puisi ini banyak terdapat kata denotasi, ini memungkinkan mengetahui pesan yang disampaikan penyair dalam puisinya Konotasi adalah makna yang bukan makna sebenarnya atau makna kias. Sedangkan simbol adalah makna yang digunakan untuk memperjelas makna dan membuat nada dan suasana sajak menjadi lebih jelas, sehingga dapat menggugah hati pembaca. Dalam puisi inipun taufiq ismail menggunakan simboluntuk mempertegas maksut penyair dalam puisi ini dan menambah keindahan dari puisi tersebut



ANALISIS CITRAAN


No Kata Citraan analisis
1 Ketika burung merpati sore melayang Penglihatan Aku lirik melihat merpati yang terbang disore hari
2 Langit akhlak telah roboh Penglihatan Aku lirik dalam puisi ini melihat bahwa akhlak dinegeri initelah roboh
3 Di atas negeri Penglihatan Aku lirik melihat runtunyaakhlak diatas negerinya
4 Karena akhlak roboh hukum tak tegak berdiri Penglihatan Penyair melihat dan menilai bahwa hukum dinegerinya tidak tegak berdiri
5 Negeriku sesak adegan Perasa Penyair merasakan bahwa negerinya telah sesak dengan kebohongan dan ketidakjujuran
6 Bergerak ke kiri Gerak Penyair seol;ah olah bergerak kekiri untuk memilih jalan yang benar
7 Bergerak kekanan Gerak Penyair seol;ah olah bergerak kekanan untuk memilih jalan yang benar
8 Bergerak kedepan Gerak Penyair seol;ah olah bergerak kedepan untuk memilih jalan yang benar
9 Bergerak kebelakang gerak Penyair seol;ah olah bergerak kebelakang untuk memilih jalan yang benar


Kesimpulan
Penyair banyak menggunakan citraan penglihatan dan gerak. Citraan penglihatan disini penyair mencoba menguraikan apa saja yang dilihat di dalam negerinya sendiri, yaitu kebohongan, pencurian, penipuan yang sangat menyiksa orang bawah. Citraan gerak disini penyair seolah-olah bingung mencari arah yang benar untuk bergerak karena setiap ia melangkah selalu bertemu ketidakjujuran dan keburukan dinegaranya.


GAYA BAHASA

No Kata Majas
1 Langit akhlak telah roboh Personifikasi
2 Karena akhlak roboh hukum tak tegak berdiri Personifikasi
3 Negeriku sesak adegan Metafora


KESIMPULAN
Dalam puisi Taufiq Ismail ini hanya sedikit gaya bahasa yang digunakan. Ada beberapa gaya bayasayang dominan yaitu personifikasi, disini penyair mencoba mengumpamakan benda mati seolah olah hidup tujuannya agar penyampaiannyalebih mengena kepada pembaca







ANALISIS POLA PENATAAN BARIS

Dalam puisi ini penyair menata puisinya seperta puisi jaman dahulu yaitu 1 bait yang terdiri dari beberapa baris, ini kemungkinan besar dimaksudkan oleh penyair untuk lebih menekankan pada makna dan pembaca agar lebih mengerti makna yang disampaikan pada puisi tersebut

UNSUR MAKNA PADA PUISI

GAMBARAN UMUM ISI PUISI
Ketika aku lirik melihat negaranya yang telah penuh dengan ketidak jujuran, kebohongan penipuan yang pada saat itu semua akhlak manusianyatelah menurun bahkan tidak ada yang berakibat kehancuran suatu negara. Aku lirik berusaha bergerak untuk merubah segalanya tetapi setiap bergerak ke kiri, dengan maling kebentur ia,bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak ia bergerak ke belakang dengan pencopet kesandung ia bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor ia, kebingungan inilah yang membuat ia tidak bisaapa-apa karena semua manusianya hilang akhlaknya.

MASALAH YANG ADA DI PUISI
Masalah yang dihadapi penyair adalah kehuruan, kesedihan dan keprihatinan kerena dinegerinya sendiri penyair melihat kejujuran dan kesucian telah hilang, semuanya hanya rekayasa orang yang berkepentingan untuk pribadinya sendiri.
SIKAP PENYAIR TERHADAP MASALAH
Pada puisi ketika merpati sore melayang, penyair seolah memberi informasi da pembelajaran k bagi para pembacanya agar selalu menjaga akhlaknya demi kepentingan bersama.
SIKAP PENYAIR KEPADA PEMBACA
Sikap penyair kepada pemabaca cenderung menyerahkan kepada pembaca sendiri untuk menginterpretasi sesuai dengan kemampuan masing-masing pembaca. Jadi kebenaran isi puisi dan sesuai tidaknya antaraapa yang ingin disampaikan dengan kenyataan oleh penyairnya semua tergantung kepada oleh pembaca. Penyair seolah membiarkan para pembaca yang mengkajinya lebih dalam lagi untuk dapat mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi. Sehingga pembaca bebas menentukan sendiri makna implisit yang terkandung di dalam puisi tersebut.
KESIMPULAN TEMA
Bila dilihat dari isi yang disampaikan penyair, tema puisi ini adalah kejujuran yang telah hilang

Sabtu, 08 Januari 2011

Model Sugesti-Imajinasi

Ditulis oleh Dia Purworini


Pada prinsipnya, teknik sugesti-imajinasi ini dilakukan dengan cara memberi sugesti untuk merangsang daya imajinasi siswa. Teknik ini dapat diterapkan dalam pembelajaran menulis deskripsi karena dapat meningkatkan keberhasilan pembelajaran. Metode ini menggunakan media lagu yang dapat dieksploitasi untuk membantu peningkatan kemampuan menulis. Dengan metode sugesti-imajinasi, lagu tidak hanya digunakan untuk menciptakan suasana yang nyaman tetapi juga memberikan sugesti yang merangsang berkembangnya imajinasi siswa. Dalam hal ini, lagu digunakan sebagai pencipta suasana sugestif, stimulus, dan sekaligus menjadi jembatan bagi siswa untuk membayangkan atau menciptakan gambaran dan kejadian berdasarkan tema lagu. Respons yang diharapkan muncul dari para siswa berupa kemampuan melihat gambaran-gambaran kejadian tersebut dengan imajinasi-imajinasi dan logika yang dimiliki lalu mengungkapkan kembali dengan menggunakan simbol-simbol verbal.
Pembelajaran menulis dengan metode sugesti-imajinasi juga mensyaratkan beberapa hal yang bersifat normatif. Pertama, guru harus mempunyai pengetahuan yang luas, terutama tentang lagu-lagu yang sedang digemari para siswa. Kedua, guru harus mampu mengolah emosi para siswa sehingga mereka benar-benar bisa menikmati lagu, bukan sekedar mendengarkan. Ketiga, guru harus bisa membangun relasi “pertemanan” dengan siswa. Dengan cara inilah, guru membantu para siswa dalam proses pembelajaran tanpa rasa takut, canggung, dan tertekan. Keempat, peningkatan penguasaan kosakata, pemahaman konsep-konsep dan teknik menulis, serta imajinasi yang terbangun baik berkorelasi dengan peningkatan kemampuan siswa dalam membuat variasi kalimat.
Teknik sugesti-imajinasi ini terdiri atas tiga tahap dalam pembelajarannya. Tahap pertama, tahap perencanaan. Ada tiga kegiatan prapembelajaran, yaitu (1) penelaahan materi agar guru benar-benar menguasai materi yang akan disampaikan, (2) pemilihan lagu yang tidak hanya sesuai dengan tema dan materi pembelajaran tetapi juga sesuai dengan minat para siswa, dan (3) penyusunan ancangan pembelajaran yang hendaknya mencakup perumusan materi, tujuan, pendekatan, metode, media, dan evaluasi pembelajaran.
Tahap kedua, tahap pelaksanaan. Tahap ini dibagi menjadi enam langkah, yaitu (1) pretes yang berupa perintah untuk membuat karangan atau tulisan; (2) penyampaian tujuan pembelajaran; (3) apersepsi dengan memberi ulasan singkat tentang materi pembelajaran; (4) penjelasan praktik pembelajaran dengan media lagu yang meliputi pemutaran lagu, penulisan gagasan yang muncul saat menikmati lagu dan sesudahnya, penelaahan dan pengelompokan gagasan, penyusunan kerangka karangan, penyusunan karangan, dan penilaian kelompok; (5) praktik pembelajaran, (6) pascates yang berupa menulis sebuah karangan tanpa didahului dengan kegiatan mendengarkan lagu. Tahap ketiga, tahap evaluasi. Evaluasi ini dilakukan dengan membandingkan hasil pretes dan pascates.
Metode sugesti-imajinasi juga memiliki kekurangan. Pertama, penggunaan metode sugesti-imajinasi tidak cukup efektif bagi kelompok siswa dengan tingkat keterampilan menyimak yang rendah. Kedua, metode ini sulit digunakan bila siswa cenderung pasif. Siswa harus aktif menerima stimulus dan memberikan respons dalam bentuk simbol-simbol verbal. Imajinasi yang terbangun baik membantu siswa dalam menggali pengalaman hidup, mengorganisasikannya, dan memberikan respons dalam bentuk simbol-simbol verbal yang baik. Sugesti dapat digunakan untuk merangsang perkembangan imajinasi siswa.

Metode ECOLA

Ditulis oleh Ariva Luciandika

Metode ECOLA (Extending COncept throught Language Activities) adalah metode yang dikembangkan oleh Smith-Burke (1982) untuk mengembangkan keterampilan membaca. Metode ini dirancang untuk mengintegrasikan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan sekaligus. Metode ini tidak hanya digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga menulis, mendengarkan dan berbicara. Hal ini membuat metode ECOLA sangat efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.
Tahapan yang membangun pelaksanaan ECOLA ada 5. Tahap pertama yang dilakukan adalah menentukan tujuan yang komunikatif untuk membaca. Sebelum membaca, pembaca diarahkan untuk menentukan tujuan dia membaca. Tujuan tersebut dapat disesuaikan dengan tujuan penulis. Misalnya saja jika siswa akan membaca resensi, maka ia harus diarahkan dulu apa tujuannya membaca resensi. Salah satu tujuan yang bisa ditanamkan adalah agar siswa mampu membuat resensi sebuah buku yang dibacanya sehingga ia dapat mempersuasi orang lain untuk ikut membaca buku tersebut.
Tahap kedua yang harus dilakukan adalah membaca dalam hati. Siswa harus membaca resensi tersebut dalam hati. Dengan demikian, ia akan memiliki pandangan sendiri terhadap apa yang sedang dibacanya. Siswa akan membentuk pemahaman konsep-konsep dalam pikirannya tentang apa yang terkandung dalam resensi itu. Selanjutnya, pada tahap ketiga, siswa harus mewujudkan pemahaman tersebut melalui aktifitas menulis. Ia harus menulis apa saja yang ada dalam pemahamannya mengenai teks yang sedang dibaca. Dalam contoh membaca resensi di atas, siswa bisa menulis apa saja kelebihan dan kekurangan buku yang sedang dibaca, bagaimana gaya bahasa dalam resensi yang ia baca, atau mungkin saja menulis hal-hal yang dirasanya bertentangan dengan pandangan peresensi. Bahkan, siswa juga bisa menulis kesulitan-kesulitan apa yang dialaminya saat membaca resensi tersebut.
Pada tahap selanjutnya, dilakukan diskusi dan klarifikasi pemaknaan. Diskusi ini dilakukan untuk mengklarifikasi interpretasi antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Hasil tulisan siswa yang satu dan yang lainnya dibandingkan, semua siswa membacakan hasil tulisannya sehingga akan terdapat banyak sekali versi interpretasi atau pandangan terhadap satu resensi yang sama.
Tahap terakhir adalah menulis dan memunculkan kesimpulan. Dari berbagai macam interpretasi, siswa diajak untuk menarik satu kesimpulan tentang resensi yang sedang dibaca. Selanjutnya, kesimpulan yang diperoleh ini akan menjadi kesimpulan akhir dan merupakan perpaduan dari berbagai macam interpretasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun metode ECOLA difokuskan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi metode ini juga dapat digunakan untuk melatih kemampuan berbicara dan mendengarkan.

Penggunaan Media Poster Terhadap Pembelajaran Puisi

Ditulis Oleh Dwi Ernawati


Selama ini pengajaran apresiasi puisi yang diajarkan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama kurang mendapat perhatian dari para siswa. Perhatian yang kurang terhadap pengajaran puisi ini menyebabkan kurang akrabnya siswa dengan puisi ini. Guru sendiri cenderung menghindarinya karena kesulitan untuk mengajarnya. Hal tersebut dikarenakan guru belum menentukan metode dan alat bantu yang tepat pengajaran puisi. Hambatan terbesar dalam mempelajari puisi adalah adanya anggapan dari para siswa bahwa puisi tidak ada gunanya, sehingga perlu adanya upaya untuk menumbuhkan sikap senang dan respek siswa terhadap puisi.
Penggunaan poster dalam pengajaran puisi diharapkan dapat menarik perhatian siswa karena poster memiliki warna yang menarik dan memiliki daya tarik yang khusus. Pemberian poster bisa disertai dengan ilustrasi berupa uraian dan pernyataan. Hal ini selain menarik perhatian siswa juga dapat membuat keterangan-keterangan menjadi lebih memudahkan pemahaman siswa. Poster yang dipakai tentunya harus disesuaikan dengan tema yang sedang diajarkan agar siswa dapat menghubungkan dengan konsep yang sudah ada. Bila pemakaian poster disesuaikan dengan tema dalam bidang studi bahasa Indonesia, maka anak akan terbiasa untuk latihan menulis puisi.
Penggunaan poster dalam hubungannya dengan pembelajaran puisi dapat membantu daya nalar siswa untuk menjelaskan apa yang dilihatnya yang kemudian dituliskan lewat kalimat sebagai kata kunci untuk menulis puisi. Melalui poster siswa melihat, memperhatikan serta akhirnya mengemukakan ide melalui fakta yang nampak lewat poster. Dengan demikian poster bukan hanya sebagai alat bantu tetapi dapat membantu penafsiran siswa tentang obyek yang sedang diamatinya.
Dari beberapa pendapat di atas bahwa puisi adalah imajinasi seseorang dari lubuk hati yang paling dalam yang menuangkan ke dalam tulisan dan bisa menghasilkan satu karya sastra dalam bentuk puisi. Puisi juga bisa dikatakan ungkapan hati untuk menyampaikan informasi dengan makna yang tersirat. Puisi rangkaian kata-kata yang indah dan mempunyai sejuta rasa dan penuh arti. Dapat disimpulkan pendapat dari beberapa pakar bahwa puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, rima, matra serta penyusunan larik dan bait. Keindahan puisi terletak pada persamaan bunyi dan iramanya.
Menurut Sudjana dan Rivai (2002:51) poster adalah sebagai kombinasi visual dari rancangan yang kuat, dengan warna, dan pesan dengan maksud untuk menangkap perhatian orang yang lewat tetapi cukup lama menanamkan gagasan yang berarti di dalam ingatannya. Poster disebut juga plakat, lukisan atau gambar yang dipasang telah mendapat perhatian yang cukup besar sebagai suatu media untuk menyampaikan informasi, saran, pesan dan kesan, ide dan sebagainya (Rohani, 1997:76-77). Poster terdapat kelebihannya dengan harganya terjangkau oleh seorang guru. Dengan poster sikap dan perasaan anak akan terpancing. Anak akan lebih mudah mengungkapkan perasaannya jika disertai dengan penglihatannya. Kelemahan pembelajaran dengan media poster adalah jika poster berdimensi dua, sehingga sukar untuk melukiskan sebenarnya. Jadi poster dipakai untuk memancing imajinasi bukan mendeskripsikan atau melukiskannya.
Sumber: -. 2008. Penggunaan Media Poster Terhadap Pembelajaran Puisi di Kelas VIII SMP Negeri 1 Panimbang Tahun Pelajaran 2007/2008.(Online), (http://makalahdanskripsi. blogspot.com/2008/08/penggunaan-media-posterterhadap.html) diakses: 20 Februari 2008.

Model Picture and Picture

Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis. Langkah-langkah:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
Kekurangan:
1. Memakan banyak waktu.
2. Banyak siswa yang pasif.

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA SKIMMING MELALUI TEKNIK BPTK (BACA PERTIGA KATA)

Ditulis oleh Khoirul Huda


Membaca skimming adalah salah satu jenis membaca ekstensif yang bertujuan untuk mengetahui isi atau pokok-pokok suatu bacaan secara umum. artinya, membaca skimming tidak bertujuan untuk mengetahui isi bacaan secara mendalam tetapi hanya bertujuan untuk mengetahui inti-inti dari bacaan tersebut. Membaca skimming dilakukan dengan membaca secepat mungkin untuk menghemat waktu. Dengan membaca skimming, setelah selesai membaca, pembaca diharapkan dapat memahami inti-inti dari bacaan tersebut. Nah membaca skimming ini cukup sulit bila dilakukan secara serta merta tanpa menggunakan teknik teknik tertentu yang dapat mempermudah dalam melakukannnya. artinya sulit bagi pembaca membaca dengan cepat sementara harus mengetahui seluruh kalimat-kalimat yang keungkinan mengandung informasi-informasi penting yang dari bacaan tersebut. hal itu disebabkan pembaca kadang tidak mengetahui bagaimana harus membaca tiap kata dengan cepat sementara bila mata harus merespon perkata otak tidak berkerja secara cepat untuk menangkap inti-inti dari bacaan tersebut. Oleh karena itu maka penulis mengajukan satu teknik membaca skimming dengan sebutan teknik BPTK yaitu membaca sebuah tulisan atau teks dengan setiap tatapan mata mencakup tiga kata sekaligus. Hal ini tidak terlalu sulit jika sudah terlatih dan dibiasakan. teknik ini sangat efektif karena mata akan menjadi peka terhadap setiap kata yang dilihatnya sekilas. Bahkan jika sudah terbiasa pengusul memperkirakan pembaca dapat meningkatkan kemampuannya lagi menjadi membaca perempat kata bahkan perlima kata sekaligus.

Membaca skimming dengan teknik BPTK ini merupakan teknik yang belum pernah ditemukan oleh penulis. Oleh karena itu penulis mengusulkan teknik ini untuk kemudian ditelaah lebih lanjut untuk dijadikan sebuah skripsi atau penelitian kuantitatif eksperimental. Denngan beberapa siklus tidakan kelas, penulis yang selanjutnya akan menjadi peneliti dalam penelitian yang bertujuan mencari tahu keperpengaruhan teknik ini terhadap peningkatan kemampuan membaca skimming para siswa yang rencananya akan menjadi subjek penelitiannya.

PENINGKATAN KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA (KEM) DENGAN TEKNIK TRIFOKUS STEVE SNYDER

Ditulis oleh Vidya Ayu

Hasil studi yang dilakukan oleh Book and Reading Development (1992) yang dilaporkan oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa kebiasaan membaca belum terjadi pada siswa SD dan SLTP. Hasil studi tersebut juga menunjukkan adanya korelasi antara mutu pendidikan secara keseluruhan dengan waktu yang tersedia untuk membaca dan ketersediaan bahan bacaan. Selanjutnya hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa belum dimilikinya kebiasaan membaca oleh siswa cenderung memberikan dampak negatife terhadap mutu pendidikan SD dan SLTP secara rasional (Sitepu: 1999).
Rendahnya kemampuan membaca tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal sekolah.
Rendahnya minat dan kemampuan membaca antara lain tampak pada rendahnya kecepatan efektif membaca (KEM) mereka. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa pembelajaran membaca di sekolah belum maksimal, kalau tidak boleh dikatakan gagal. Padahal kita mengetahui bahwa rendahnya kemahiran membaca akan sangat berpengaruh pada kemahiran berbahasa yang lain, yaitu mahir menyimak (listening skills), mahir berbicara (speaking skills), dan mahir menulis (writing skills).
Penggunaan pendekatan, metode, dan teknik membaca yang tidak tepat diasumsikan merupakan salah satu faktor penentu kurang maksimalnya pencapaian tujuan membaca di sekolah. Selain itu, alokasi waktu yang disediakan untuk pembelajaran masih sangat minim. Akhirnya pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh guru untuk pelatihan membaca siswa cenderung diarahkan hanya membaca bacaan-bacaan pendek yang terdapat dalam buku paket. Pemahaman guru terhadap kiat-kiat pengembangan membaca yang baik juga disinyalir sangat kurang.
Kondisi tersebut sangat memprihatinkan dan harus segera ditangani dengan sungguh-sungguh, simultan, dan terencana. Rendahnya KEM siswa akan memengaruhi rendahnya kemampuan mereka dalam menemukan isi bacaan yang dibaca. Hal tersebut akan berakibat pada turunnya minat baca mereka. Pada akhirnya gairah belajar dan prestasi akademik mereka menurun.
Ada dua faktor utama penyebab rendahnya KEM siswa. Pertama, faktor siswa yang terdiri atas: (1) faktor internal antara lain rendahnya minat dan motivasi membaca, penguasaan bahasa yang rendah, dan intelegensi siswa, dan (2) faktor eksternal antara lain: keadaan sosial ekonomi siswa, lingkungan yang kurang kondusif untuk peningkatan kemahiran membaca. Kedua, faktor guru antara lain: kemampuan guru dalam memotivasi siswa, dan kemampuan guru mengelola kelas untuk pembelajaran membaca masih kurang.
Teknik Tri Fokus Steve Snyder adalah teori mutakhir yang berkembang saat ini, cukup sederhana, mudah, dan praktis untuk melatih KEM siswa. Disamping itu, teknik ini masih jarang digunakan dalam pelatihan pembelajaran membaca padahal teknik ini sangat sederhana dan mudah.
Teknik Tri Fokus Steve Snyder merupakan teknik membaca yang terbilang baru. Teknik ini memiliki kelebihan sederhana, praktis dan inovatif. Teknik ini disebut tri fokus karena mengajarkan pada para siswa untuk mengembangkan pelatihan peripheral mereka dengan latihan “tri fokus”, maksudnya titik konsentrasi pandangan mata terpusat tiga fokus (tiga bagian) setiap barisnya. Sebagian dipusatkan di sebelah kiri, sebagian tengah, dan sebagian kanan.

Penerapan Metode Pembelajaran Membaca Permulaan

Ditulis oleh Tri Ulfah Rahmawati

Bagi siswa kelas rendah (I dan II), penting sekali guru menggunakan metode membaca. Depdiknas (2000:4) menawarkan berbagai metode yang diperuntukkan bagi siswa permulaan, antara lain: metode eja/bunyi, metode kata lembaga, metode global, dan metode SAS.
Metode eja adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah. Siswa mulai diperkenalkan dengan lambang-lambang huruf. Pembelajaran metode Eja terdiri dari pengenalan huruf atau abjad A sampai dengan Z dan pengenalan bunyi huruf atau fonem. Metode kata lembaga didasarkan atas pendekatan kata, yaitu cara memulai mengajarkan membaca dan menulis permulaan dengan menampilkan kata-kata. Metode global adalah belajar membaca kalimat secara utuh. Adapun pendekatan yang dipakai dalam metode global ini adalah pendekatan kalimat. Selanjutnya, metode SAS didasarkan atas pendekatan cerita.
Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan pada siswa kelas rendah (I dan II) di sekolah dasar. Guru dianjurkan memilih salah satu metode yang cocok dan sesuai untuk diterapkan pada siswa. Menurut hemat penulis, guru sebaiknya mempertimbangkan pemilihan metode pembelajaran yang akan digunakan sebagai berikut:
1. Dapat menyenangkan siswa
2. Tidak menyulitkan siswa untuk menyerapnya
3. Bila dilaksanakan, lebih efektif dan efisien
4. Tidak memerlukan fasilitas dan sarana yang lebih rumit
Salah satu metode pembelajaran membaca permulaan yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah metode membaca global. Menurut Purwanto (1997:32), “Metode global adalah metode yang melihat segala sesuatu sebagai keseluruhan. Penemu metode ini ialah seorang ahli ilmu jiwa dan ahli pendidikan bangsa Belgia yang bernama Decroly.” Kemudian Depdiknas (2000:6) mendefinisikan bahwa metode global adalah cara belajar membaca kalimat secara utuh. Metode global ini didasarkan pada pendekatan kalimat. Caranya ialah guru mengajarkan membaca dan menulis dengan menampilkan kalimat di bawah gambar. Metode global dapat juga diterapkan dengan kalimat tanpa bantuan gambar. Selanjutnya, siswa menguraikan kalimat menjadi kata, menguraikan kata menjadi suku kata, dan menguraikan suku kata menjadi huruf.
Langkah-langkah penerapan metode global adalah sebagai berikut:
Siswa membaca kalimat dengan bantuan gambar. Jika sudah lancar, siswa membaca tanpa bantuan gambar, misalnya:
Ini nani
Menguraikan kalimat dengan kata-kata: /ini/ /nani/
Menguraikan kata-kata menjadi suku kata: i – ni na – ni
Menguraikan suku kata menjadi huruf-huruf, misalnya: i – n – i - n – a – n – i
Kepustakaan:
Depdiknas. 2000. Metodik Khusus Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikdasmen.
Purwanto, M. Ngalim dan Djeniah. 1997. Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Rosda Jayaputra.

Pembelajaran Menulis Cerpen dengan Strategi 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan)

Ditulis oleh Vina Ariany

Strategi 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan) merupakan strategi hasil pengembangan dari strategi copy the master. Secara harfiah, copy the master berasal dari bahasa Inggris yang artinya adalah model untuk ditiru. Model yang akan ditiru ini tidak hanya terbatas pada peniruan lateral, namun ada tahap perbaikan. Tahap peniruan sampai dengan perbaikan inilah yang menonjol dalam strategi ini. Pada dasarnya strategi ini menuntut dilakukan latihan-latihan sesuai dengan model yang ditawarkan.
Selanjutnya strategi ini dikembangkan menjadi strategi 3M yang lebih sederhana. Strategi 3M hanya melalui tiga tahap, yakni tahap meniru, mengolah dan mengembang-kan. Tahap meniru diisi dengan kegiatan membaca, mengidentifikasi, selanjutnya menyadur. Hasil saduran tersebut akan diolah pada bagian alur dan tokoh. Hasil olah tersebut akan dikembangkan dalam bentuk dialog, monolog, dan komentar pengarang. Hal inilah yang menjadi kelebihan pada strategi 3M. Strategi ini mengedepankan proses yang sesuai dengan kemampuan siswa. Dalam hal ini, kreativitas siswa juga dikembang-kan pada tahap mengembangkan.
Tahapan strategi 3M mengacu pada beberapa tahapan pembelajaran menulis pada penelitian-penelitian sebelumnya. Adapun rincian dan penjelasan tahap pada strategi 3M adalah sebagai berikut.
1. Tahap Meniru
Tahap meniru diawali dengan kegiatan pramenulis yakni dengan membaca cerpen yang dijadikan model. Pada tahap ini siswa akan diberikan satu cerpen yang dijadikan model yang dekat dengan dunia mereka. Selanjutnya siswa mengidentifikasi unsur cerpen dengan mengisi bagan yang telah disediakan. Adapun bagan tersebut berisi tentang siapa, kapan, bagaimana, dimana, mengapa. Setelah itu siswa akan menyadur cerpen model dengan mengganti unsur tokoh dan latar yang sesuai dengan dunia siswa.
2. Tahap Mengolah
Pada tahap mengolah siswa akan mengolah hasil saduran, namun hanya beberapa unsur. Unsur tersebut adalah tokoh, latar, dan alur. Pertimbangan digunakannya tiga unsur karena unsur tokoh, latar, dan alur adalah unsur yang paling mudah dikembangkan secarakreatif dan untuk efisiensi waktu pembelajaran. Pada tahap mengolah tokoh, yang dilakukan siswa yakni dengan menambah tokoh dalam cerita, mendeskripsikan watak tokoh, dan mengubah cerita secara relatif sama. Sedangkan pada tahap mengolah alur cerita, kegiatan siswa adalah dengan membuat urutan-urutan peristiwa baru.
3. Tahap Mengembangkan
Tahap mengembangkan dilakukan siswa setelah tahap mengolah. Pada tahap ini, siswa akan mengembangkan tema baru, mengembangkan tokoh baru, mengembangkan latar baru, dan mengembangkan peristiwa yang baru. Adapun rincian dari setiap unsur yang dikembangkan adalah (1) tema dikembangkan secara orisinil dan unik, (2) mengembangkan tokoh dengan melengkapi dilaog, monolog, dan komentar, (3) mengembangkan latar dengan mendeskripsikan secara rinci, (4) mengembangkan peristiwa dalam kalimat secara lengkap, (5) menggunakan bahasa yang komunikatif, dan (6) menggunakan ejaan yang benar.

Daftar Rujukan
Hadi, Syamsul. 2008. Pembelajaran Menulis Cerpen dengan Strategi 3M, (Online), (http://dalilskripsi.com/content/view/43/2/1/7/, diakses 13 Februari 2009).

PEMBELAJARAN MENULIS KARYA ILMIAH BERBASIS DEEP DIALOGUE/CRITICAL THINKING

Ditulis oleh Nur Qomariyah

Konsep Pembelajaran Berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) bermula dari hakikat dialog yakni kegiatan percakapan antar orang dalam masyarakat/kelompok yang bertujuan bertukar ide, informasi dan pengalaman. Deep dialogue (dialog mendalam), dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal, saling keterbukaan, jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI, 2001). Sedangkan ciritical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar.
Proses Pembelajaran Berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking mengakses paham konstruktivis dengan menekankan adanya dialog mendalam dan berpikir kritis. Ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan DD/CT, yaitu: (1) peserta didik dan dosen nampak aktif; (2) mengoptimalisasikan potensi intelligensi peserta didik; (3) berfokus pada mental, emosional dan spiritual; (4) menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis; (5) peserta didik dan dosen dapat menjadi pendengar, pembicara, dan pemikir yang baik; (6) dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari; (7) lebih menekankan pada nilai, sikap dan kepribadian.
Proses pembelajaran berbasis DD/CT dapat diimplementasikan melalui tiga tahap, yaitu tahap pra instruksional, tahap instruksional, dan tahap pasca instruksional. Masing-masing tahap dapat dilakukan jika guru dapat mengubah pandangan terhadap proses pembelajaran dari teacher centered ke student centered mengubah cara/pola mengajar dari konvensional ke penggunaan multi method dan multi media, dan bersedia melakukan refleksi dari setiap akhir pembelajaran untuk memperbaiki proses pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Kegiatan pada tahap pra instruksional yakni guru mengenalkan diri, memberikan informasi nomor yang mudah dihubungi untuk “berkonsultasi”. Kegiatan ini dilanjutkan dengan review bekal menulis karya ilmiah (ejaan, kata dan istilah, kalimat efektif, dan paragraf) untuk mendorong siswa agar hal tersebut dijadikan pedoman dalam menyunting karya tulisnya. Hasilnya siswa merasa dihargai dan dioptimalkan dalam proses belajar. Kegiatan pada tahap instruksional yakni guru memberikan kesempatan untuk bertanya dan mengajukan pertanyaan komplek dan provokatif untuk mendorong siswa menemukan konsep yang akan dibelajarkan (tahapan menulis karya ilmiah, mengembangkan setiap tahap dalam menulis karya ilmiah dengan teknik yang benar, menyunting karya tulisnya yang mencakup penajaman isi/substansi, bahasa, dan format/sistematika melalui strategi penemuan konsep/concept attainment), selanjutkan mendorong peserta didik untuk menetapkan, mengidentifikasi, menganalisis, memecahkan masalah, mempresentasikan hasil kerja kelompoknya melalui strategi cooperative learning. Guru melakukan evaluasi baik proses maupun hasil belajar peserta didiknya. Kegiatan pada tahap pasca instruksional yakni guru memberi kesempatan pada siswa untuk menyampaikan pendapat dan perasaan, dan pengalaman selama mengikuti pembelajaran. Guru melakukan refleksi untuk memperbaiki rencana kegiatan pembelajaran berikutnya. (Diadaptasi dari GDI:2000).
Penerapan DD/CT di kelas cukup mudah, apabila guru telah memahami kaidah-kaidahnya sebagai berikut:
 Perubahan pandangan guru bahwa pemberdayaan peserta didik dalam pembelajaran dengan memberi kesempatan pada peserta didik, untuk mencari, menemukan, menganalisis, mendialogkan, dan mengkonstruksikan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan baru lebih bermakna daripada ceramah atau penugasan tanpa DD/CT.
 Untuk mengajarkan topik sebaiknya dilaksanakan dengan kegiatan menggali dan menemukan sendiri
 Membiasakan peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat dan bertanya secara terbuka
 Menciptakan suasana dialog mendalam ' antar peserta didik" dan "antara peserta didik-guru" oleh karenanya diupayakan untuk selalu belajar dalam kelompok
 Mempergunakan berbagai media dan sumber belajar untuk memperluas wawasan
 Memberi peserta didik kesempatan untuk melakukan refleksi sebelum pelajaran berakhir

Linguistik Umum

Ditulis oleh Saif Al Hadi


 
  1. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi oral yang arbitrer yang digunakan oleh sekelompok manusia (masyarakat) sebagai alat komunikasi.
Bahasa juga merupakan bagian dari kebudayaan yang diperoleh manusia untuk mengkomunikasikan makna. Bahasa bekerja dalam cara yang teratur dan sistematis. Pada dasarnya bahasa adalah lisan, dan simbol-simbol oral itu mewakili makna karena simbol-simbol itu dihubungkan dengan situasi dan pengalaman kehidupan.
Bahasa memiliki fungsi sosial, dan tanpa fungsi itu masyarakat mungkin tidak ada.

  1. Karakteristik Bahasa
    1. Oral. Pada hakikatnya bahasa adalah lisan atau oral, yang mana ada kalanya tidak bisa diungkapkan secara sempurna dengan tulisan.
    2. Sistematis, Sistemis, dan Komplit. Sistematis berarti bahasa mempunyai aturan, kaidah, atau dapat diartikan mempunyai jumlah yang terbatas untuk bisa dikombinasikan. Sistemis berarti bahasa bekerja dalam sebuah sistem dan sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. Dan yang dimaksud komplit yaitu, dengan bahasa kita dapat mengungkapkan segala hal walaupun tentang sesuatu yang belum kita ketahui.
    3. Arbitrer dan Simbolis. Arbitrer artinya, bahasa yang kita gunakan tidak selalu logis atau punya alasan tertentu, sifat ini hanya berlaku dalam masyarakat bahasa dalam bentuk kesepakatan atau konvensi. Sifat simbolis yang dimiliki bahasa dapat mengabstraksikan ide-ide dan pengalaman, meskipun kita belum pernah mengalaminya secara langsung.
    4. Konvensional, berdasarkan kesepakatan tetapi bukan kesepakatan melalui rapat, dan pemakai bahasa harus tunduk pada kesepakatan itu. Karena jika tidak, maka bahasa tersebut tidak akan komunikatif.
    5. Unik dan Universal. Dalam beberapa bahasa tertentu ciri yang unik, namun tetap mempunyai ciri yang universal atau umum sebagaimana pada bahasa lainnya.
    6. Beragam. Bahasa tidaklah monolitik tapi mempunyai ragam yang bermacam-macan tergantung pada dasar klasifikasinya. Berdasarkan kebakuannya, bahasa dikategorikan menjadi dua, yaitu: ragam baku dan ragam subbaku. Berdasarkan formalitas pemakaiannyadigolongkan menjadi lima ragam, yaitu: ragam beku, ragam resmi, ragam usaha, ragam santai, dan ragam akrab.
    7. Berkembang. Seirng dengan berkembangnya teknologi maka bahasa pun ikut berkembang dengan menggunakan kata-kata yang berasal dari bahasa asing.
    8. Produktif dan Kreatif. Karakter ini tergantung pada pemakainya. Pemakai bahsa dengan pola-pola dan lambing-lambang yang terbatas dapat mengkreasikan hal-hal baru melalui bahasa.
    9. Merupakan Fenomena Sosial. Bahasa merefleksikan kebudayaan masyarakat pemakainya, karena bahasa merupakan bagian dari sistem nilai, kebiasaan dan keyakinan yang kompleks dalam membentuk suatu kebudayaan.
    10. Bersifat Insani. Hanya manusia yang mempunyai kemampuan berbahasa. Bahasa juga merupakan suatu aspek perilaku yang bisa dipelajari oleh manusia.

  1. Satuan-Satuan Bahasa
Satuan bahasa (linguistic unit) merupakan bentuk-bentuk lingual yang merupakan komponen pembentuk bahasa yang hanya mengacu pada unsur atau komponen bahasa. Jadi, harus disadari bahwa ada bentuk lingual dan nonlingual.
Adapun wujud satuan bahaa adalah sebagai berikut:
    1. Fon dan Fonem. Fon merupakan satuan bahasa yang bersifat konkret, dapat didengar dan diucapkan. Sedangkan fonem adalah abstraksi dari fon. Contoh fon: Panci, terdiri atas p/a/n/c/i. Lutut terdiri atas l/u/t.
    2. Morf dan Morfem. Morf terdapat dalam pelaksanaan bahasa, dapat diidentifikasi, diucapkan dan didengar. Sedangkan morfem bersifat abstrak. Contoh: bekerja dan berjalan mempunyai bentuk awalan yang berbeda, yaitu ber- dan be-. Namun keduanya tetap memiliki makna yang sama.
    3. Kata. Satuan bahasa yang terbentuk dari satu morfem atau lebih. Misalnya, kata melihat terdiri dari morfem me- dan lihat. Kata aku terdiri dari satu morfem.
    4. Frase. Satuan grmatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak terdiri atas subjek dan objek. Contoh: kaki saya, kaki meja kayu.
    5. Klausa. Satuan gramatikal unsure pembentuk kalimat yang berstruktur predikatif. Klausa bukanlah kalimat dan diakhiri dengan titik tiga (…). Contoh: dia telah berjalan…
    6. Kalimat. Ujaran yang berisi pikiran lengkap yang tersusun dari subjek dan predikat, dengan pengertian bahwa subjek adalah tentang apa yang dikatakan dan predikat adalah apa yang dikatakan tentang subjek.
    7. Gugus Kalimat. Satuan-satuan bahasa yang lebih kecil dari paragraf, karena gugus itu berada dalam paragraph.
    8. Paragraf. Terbentuk dari sejumlah kalimat, tapi lebih besar dari gugus kalimat. Jumlah kalimat dan paragraf juga bermacam-macam.
    9. Wacana. Wacana adalah satuan kalimat yang paling besar. Kridalaksana mengartikan wacana sebagai tujuan bahasa terlengkap. Wacana ada yang berbentuk lisan dan tulisan.

  1. Fungsi Bahasa
Berikut adalah beberapa fungsi bahasa:
    1. Fungsi personal, untuk menyatakan diri.
    2. Fungsi interpersonal, untuk menyatakan hubungan dengan orang lain.
    3. Fungsi direktif, untuk mengatur orang lain.
    4. Fungsi referensial, untuk menampilkan suatu referen (kabar, benda, dan lain sebagainya) dengan menggunakan lambang bahasa.
    5. Fungsi imajinatif, untuk nenciptakan sesuatu dengan berimajinasi.
    6. Fungsi fatik (phatic), untuk berbasa-basi.


  1. Teori Asal Mula Bahasa
Para ahli bahasa mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentng asal mula bahasa itu, antara lain adalah sebagai berikut:
    1. Teori tekanan sosial, manusia primitif dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami antara satu dengan yang lainnya.
    2. Teori ekoik (gema), objek diberi nama sesuai dengan bunyi yang dihasilkan.
    3. Teori interjeksi, manusia bersuara secara instingtif karena tekanan batin, rasa sakit, dan lain sebagainya.
    4. Teori isyarat, bahasa pertama kali dilakukan dengan isyarat.
    5. Bersumber dari Tuhan. Sebagaimana yang tersurat dalam Al-Quran (Ar-Rum: 22), Injil (Kejadian 2:19), dan Weda.

  1. Pilihan Dikotomis Bahasa
Bahasa sebagai objek kajian linguistik lazim dikaji secara dikotomis.
    1. Langue dan Parole. Langue adalah sistem bahasa yang dipakai untuk mengungkapkan gagasan, sedangkan parole adalah wujud bahasa seseorang (tiap orang berbeda).
Perbedaan antara langue dan parole:
  1. Parole bersifat perorangan, di dalamnya tidak terdapat sistem bahasa yang utuh.
  2. Parole jumlahnya tak terbatas, sedangkan langue terbatas.
  3. Parole bersifat sesaat dan langue berada dalam keseluruhan kesan yang tersimpan dalam otak setiap anggota masyarakat.
  4. Langue adalah abstraksi dari parole.
    1. Petanda dan penanda, petanda adalah konsep, sedangkan penanda yaitu ciri akuistik atau bunyi ujar.
    2. Relasi sintagmatis dan relasi paradigmatis
Relasi sintagmatis, relasi horizontal atau relasi antarunsur bahasa yang hadir dalam satu tuturan, disebut juga relasi inpraesentia.
Contoh : tetangga adik teman saya
adik teman tetangga saya
b-a-t-u pagi-tadi
b-a-u-t tadi-pagi
dan lain sebagainya.
Relasi paradigmatis, relasi antarunsur dalam tuturan dan unsur yang tidak hadir dalam tuturan. Unsur yang tidak hadir ini adalah unsur yang diasosiasikan (inabsentia).
Contoh : Ali mencium ibu s-a-r-i
Ali menggandeng ibu c-a-r-i
t-a-r-I,
dan lain sebagainya.
    1. Kompetensi dan Performansi
Kompetensi, pengetahuan seseorang tentang sistem bahasa, bersifat kumulatif, dan melalui proses belajar.
Performansi, pelaksanaan bahasa.
    1. Struktur batin dan struktur lahir
Struktur batin, gagasan yang mendasari kalimat, berbentuk abstrak, tak bisa dilihat dan didengar.
Struktur lahir, bahasa yang tampak, bisa didengar atau dibaca.

Selain bahasa dikaji secara dikotomis, kajian bahasa juga digunakan untuk kajian ilmiah. Yang dimaksud ilmiah adalah pengetahuan yang didapat melalui metodwe ilmiah. Ada pun berbagai macam dari metode ilmiah itu sendiri seperti, deduktif, induktif, dan logika-hipotetiko-verifikatif. Karakteristik ilmu yaitu, objektif, sistematis, logis, empiris, dan akumulatif (semakin bertambah atau berkembang).
Ciri khusus dari kajian bahasa ini adalah:
  1. Bahasa didekati secara deskriptif, apa adanya, bukan secara prespiktif.
  2. Tidak berusaha memaksakan satu kerangka bahasa ke dalam bahasa lain.
  3. Bahasa disikapi sebagai sistem dan bukan sesuatu yang lepas.
  4. Bahasa diperlukan sebagaisuatu yang dinamis.


  1. Dasar-Dasar Fonologi
Konsep dasar
FON : realisasi bunyi atau wujud bunyi. Fon berada dalam tataran parole
Contoh: [i], [I], [u], [U], [e], dan lain-lain.
FONEM : abstraksi bunyi atau bunyi yang membedakan makna, berada dalam tataran langue.
Contoh: /i/-/u/: kami-kamu, /c/-/t/: cari-tari.
ALOFON : anggota dari fonem yang sama.
Contoh: /i/, [i], [I], /u/, [u], [U], [k], [?], [Ø].
FONETIK : kajian fon. Ada tiga macam fonetik, yaitu:
  • Fonetik artikulatoris : bagaimana bunyi dihasilkan oleh alat ucap manusia.
  • Fonetik akustis : arus bunyi keluar dari rongga mulut berupa gelombang bunyi.
  • Fonetik artikulatoris : bagaimana bunyi diterima indra pendengar dan syaraf pendengar.
Prosedur penghasil bunyi
    • Alat wicara, terdiri atas sisten pernafasan (di rongga dada), sistem pembunyian (di tenggorokan), dan sistem pengucapan (di mulut).
    • Aliran udara, yaitu di paru-paru, di glottal (hidung / yang menghasilkan bunyi sengal), dan di langit-langit lunak.
    • Jenis bunyi
      • Vokal, bunyi bahasa yang ditandai dengan udara dari paru-paru tidak mendapat hambatan berarti.
        • Jenis vokal
          • Posisi bibir
            • Vokal bundar : o, u, a
            • Vokal rata : i, u
          • Tinggi rendahnya lidah
            • Vokal depan : i, e (ujung lidah dinaikan)
            • Vokal pusat : e (pepet, lidah rata)
            • Vokal belakang : u, o,a (belakang lidah dinaikan)
          • Maju mundurnya lidah
            • Vokal atas : i, e (dekat dengan alveolum)
            • Vokal tengah : e (pepet, lebih mundur lagi)
            • Vokal bawah : a (jauh dari alveolum)

Peta Vokal

Depan
Pusat
Belakang
Atas
i
-
u
Tengah
e
e (pepet)
o
Bawah


a

        • Diftong : vokal yang berubah kualitasnya.
Contoh: [balai], [surau]
        • Gugus konsonan (Cluster), dua atau lebih deret konsonan yang tergolong dalam satu suku kata. Contoh: ma-kan (dua suku kata), [praktik]
        • Fonotaktik, caramerangkai fonem untuk membentuk satuan fonologis. Contoh: i-bu (v-kv), ka-sur (kv-kvk)
      • Konsonan, bunyi bahasa yang ditandai dengan udara dari paru-paru mendapat hambatan. Jenis konsonan:
        • Berdasarkan artikulator (alat ucap yang dapat digerakan) atau titik artikulasi, yaitu: bilabial, labiodental, apikodental, laminoalveolar, laminopalatal, faringal, dan glotal.
        • Berdasarkan macam-macam halangan udara yang dijumpai:
          • Konsonan hanbat : stop
          • Konsonan frikatif : gesek
          • Konsonan spiran : sengauan
          • Konsonan likwida : luncur
          • Konsonan trill : getar
        • Berdasarkan turut tidaknya pita suara bergetar
          • Konsonan bersuara : z, o, l, m, g
          • Konsonan tidak bersuara : s, f, t, k
        • Berdasarkan jalan keluarnya
          • Konsonan hidung (nasal)
          • Konsonan mulut (oral)

Klasifikasi bunyi dan cara menghasilkannya
  1. Berdasarkan ronga yang dilewati udara
    1. Bunyi oral, bunyi Yang dihasilkan dengan udara lewat rongga mulut. Contoh: [b], [d]
    2. Bunyi nasal, bunyi yang dihasilkan dengan udara lewat rongga hidung. Contoh: [m], [n]
  1. Berdasarkan ada tidaknya hambatan udara
    1. Bunyi vokal, bunyi yang dihasilkan dengan udara tanpa hambatan.
Contoh: [a], [i]
    1. Bunyi konsonan, bunyi yang dihasilkan dengan udara mengalami hambatan. Contoh: [p], [c]
  1. Berdasarkan jenis hambatan
    1. Bunyi stop atau bunyi letus, bunyi yang dihasilkan dengan udara terhenti sama sekali dan dilepaskan dengan tiba-tiba.
Contoh: [p], [b]
    1. Bunyi geser atau frikatif, bunyi yang dihasilkan dengan udara yang mengalami geseran.
Contoh: [f], [s]
    1. Bunyi afrikat atau paduan, bunyi yang dihasilkan dengan udara yang tidak terhenti sama sekali dan juga tidak mengalami geseran.
Contoh: [c], [j]
    1. Bunyi lateral atau samping, bunyi yang dihasilkan dengan udara melalui sisi lidah yang menghalangi keluarnya udara.
Contoh: [l]
    1. Bunyi getar, bunyi yang dihasilkan dengan cara udara tergetar di dalam mulut yang disebabkan oleh getaran lidah.
Contoh: [r]
    1. Bunyi semi vokal atau luncur, bunyi yang dihasilkan dengan udara meluncur (bukannya tanpa hambatan sama sekali).
Contoh: [w], [y].
  1. Berdasarkan besar kecilnya getaran pita suara dan besarnya udara yang keluar dari paru-paru.
    1. Bunyi bersuara, bunyi yang dihasilkan dengan udara besar sehingga pita suara mengalami getaran besar.
Contoh: [b], [g].
    1. Bunyi tak bersuara, bunyi yang dihasilkan dengan udara kecil, sehingga pita tidak mengalami getaran besar.
Contoh: [p], [c].

  1. berdasarkan alat ucap yang menghasilkannya.
    1. Bunyi labial, bunyi yang dihasilkan bibir atas dan bawah.
Contoh: [w], [p].
    1. Bunyi labiodental, bunyi yang dihasilkan bibir bawah dan gigi atas.
Contoh: [f]
    1. Bunyi apikodental, bunyi yang dihasilkan gigi atas dan bawah serta ujung lidah.
Contoh: [t].
    1. Bunyi apikoalveolar, bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan pangkal gigi (alveolum).
Contoh: [n].
    1. Bunyi apikopalatal, bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan langit-langit keras. Bila ujung lidah itu membalik ke arah belakang, maka bunyi yang dihasilkan adalah bunyi retrofleks.
Contoh: [d].
    1. Bunyi laminoalveolar, bunyi yang dihasilkan oleh daun lidah (lamina) dan pangkal gigi (alveolum).
Contoh: [s].
    1. Bunyi laminopalatal, bunyi yang dihasilkan oleh lamina dan langit-langit keras.
Contoh: [c], [j].
    1. Bunyi dorsovelar, bunyi yang dihasilkan oleh punggung lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum).
Contoh: [k], [g].
    1. Bunyi uvula, bunyi yang dihasilkan oleh belakang lidah dan anak tekak (uvula).
Contoh: [q].
    1. Bunyi faringal, bunyi yang dihasilkan atau yang proses penghasilannya berada di dalam rongga faring.
Contoh: [h].
    1. Bunyi glotal, bunyi yang dihasilkan oleh pita suara dalam rongga antara kedua pita itu yang disebut glotis.
Contoh: [‘].

LABIAL DENTAL PLATAL VELAR
GLOTAL
ts
p
t
c
k

Hambatan
bs

b

d

j

g

ts
Geser
bs
f

w
0 s

z
S

z
x

y
h

L
Nasal

m
n

n n
Lateral

l

L

Getar

r


R



bilabial
Labio-dental
Dental
Alveoar
Post Alveolar
Palatal
Velar
Glottal
STOP
p, b


t, d


k, g

AFFRICATE






d

NASAL
m


n




LATERAL



I




FRICATIVE

f, v
o
s, z
r


h
SEMI-VOWEL
w








Semi-vokal
geletar
geseran
sampingan
sengau
paduan
letupan
Jenis konsonan


Tempat artikulasi
W



m

pb
Bilabial
W

v




Inbio-dental







Apiko-dental

r

l
n

td
Apiko-alveolar


r



td
Apiko-palatal (retrofleks)


sz




Lamino-alveolar
J



n
t d
td
Medio-laminal






kg
Dorso-velar

r (R)





Uvular


h




Faringal






?
Hamzah


  1. Morfologi
Morf : bentuk atau wujud yang bisa didengar, diucapkan, diujarkan. Morf ada pada tataran parole.
Morfem : abstraksi dari morf.
Alomorf : sejumlah morf yang menjadi anggota dari morfem yang sama.
Contoh: membakar bakar dibakar
menyapu sapu disapu
mencubit cubit dicubit
menggulai gulai digulai
melarang larang dilarang
Semua imbuhan yang bergaris bawa adalah anggota dari morfem yang sama, yaitu me(nasal) / me(N). artinyabisa ada, bisa tidak.
Morfologi dikaji untuk mengklasifikasi atau membeda-bedakan setiap jenis dan macam bahasa.
Jenis-jenis morfem
      • Morfem terikat, morfem yang harus digabung atau dirangkai dengan morfem lain, karena tidak dapat berdiri sendiri. Contoh: {di-}, {me-}, {juang}, dan lain-lain.
      • Morfem bebas, morfem yang dapat berdiri sendiri, walaupun tanpa harus digabung. Contoh :{pulang}, {cubit}
      • Morfem monofonemis, morfem yang terdiri dari satu fonem
Contoh : asusila-a (tidak), irasional-I (tidak), dan lain-lain.
      • Morfem polyfonemis, morfem yang terdiri dari lebih dari satu fonem. Contoh : {di-}, {-an}, {-kan}, dan lain-lain.
      • Morfem kosong (zero morfem). Contoh : makan (aktif)
      • Morfem bermakna leksikal, morfem yang mempunyai makna kamus. Contoh: {juli} (bulan ketujuh tahun masehi)
      • Morfem tidak bermakna leksikal, morfem yang tidak mempunyai makna dalam kamus.
      • Morfem segmental, morfem yang bisa dilafalkan, diujarkan dengan morfem ujaran. Contoh : {di-}-d+i
      • Morfem suprasegmental, morfem yang berintonasi (memiliki lagu-lagu). Biasanya terdapat pada bahasa yang menggunakan tone language / bahasa bunyi, seperti pada bahasa cina.
      • Morfem utuh, morfem yang tidak bisa dibelah dan tidak pernah disispi. Contoh : ibu, ayah (tidak pernah disisipi)
      • Morfem terbelah, morfem yang terbelah dan dapat disispi. Contoh : gerigi- asal katanya gigi dan dapat imbuhan –er di dalamya, gemetar-asal katanya getar dan dapat imbuhan-em di dalamnya.

  1. Proses Morfologi
Proses morfologi: proses penggabungan morfem menjadi kata.
Contoh : berlari-lari, terdiri atas morfem lari, ber-, dan R
Beberapa jenis proses morfologi:
  1. Afiksasi : penambahan afiks atau imbuhan
Contoh : di + makan = prefiks
makan + an = sufiks
gemetar = getar + em = infiks
ke + ada + an = ada + ke-an = konfiks
  1. Reduplukasi : pengulangan
Contoh : rumah-rumah = rumah, R
Kemerah-merahan = ke-an, merah, R
  1. Suplisi : perubahan morfem berdasarkan waktu (seperti dalam bahasa inggris misalnya)
Contoh : go – went (pergi)
good – best (baik)
  1. Modifikasi : berubah tapi kosong
Contoh : cut-cut, put-put, memukul, menjahit, mencuci, Ø makan.
  1. Komposisi : kemajemukan atau bergabungnya dua morfim dan menimbulkan makna baru.
Contoh : rumah sakit = rumah, sakit

  1. Dasar-Dasar Sintaksis
Sintaksis adalah penyusunan kata menjadi kalimat yang gramatikal.
Alat sintaksis adalah urutan kata (dalam bahasa latin tidak digunakan), bentuk kata, intonasi, dan kata tugas. Yang dimaksud dengan kata tugas adalah kata yang mempunyai makna gramatikal dan hanya bisa hidup hanya dalam kalimat yang gramatis.
Contoh : di, ke, dan, yang, dari, dan lain-lain.
Obyek kajian sintaksis
      • Frase, kelompok kata yang tidak membentuk hubungan predikatif dan tidak melebihi batas fungsi. Contoh : gedung baru itu(S) bagus(P) sekali.
      • Klausa, kelompok kata yang membangun hubungan predikatif yang berpotensi menjadi kalimat jika diberi intinasi akhir atau final. Klausa bersifat abstrak, tidak berwujud dan tidak dapat didengar. Contoh : saya makan (diawali dengan huruf kecil, tidak diberi intonasi akhir berupa titik, tanda seru, dan tanda tanya).
      • Kalimat, ujaran yang diapit oleh dua kesenyapan sedanglan intonasinya menunjukan bahwa ujaran tersebut telah selesai. Contoh : keluar! (termasuk dalam kalimat walaupun hanya terdiri dari satu kata, karena mempunyai intonasi akhir.
Analisis kalimat.
      • Analisis kategori, mengelompokkan kata-kata yang ada dalam kalimat berdasarkan bentuk dari perilaku kata-kata itu. Contoh : kuda tertawa (kalimat tersebut tidak dapat diterima karena kuda adalah non human), adik makan (diterima karena human).
      • Analisis fungsi, melihat kedudukan kata ini dengan kata lain. Contoh : Ali(S) makan(P) mie(O).
      • Analisis peran, contoh : Ali(S) makan(P) mie(O) – Mie(S, penderita) dimakan(P) Ali(O).

  1. Semantik
Berasal dari bahasa latin, sema berarti tanda, semaino berarti menandai atau berarti. jangkauan semantik meliputi seluruh aspek lunguistik kecuali fonologi.
Jenis makna.
    • Makna leksikal.
      • Denotatif, makna referensial atau makna yang sesungguhnya. Contoh : tikus (hewan).
      • Konotatif, makna perluasan yang menunjukkan pada sesuatu yang lain. Contoh : tikus (koruptor).
    • Makna idiomatik, kata-kata yang disusun menjadi makna yang berlainan. Contoh : rumah sakit, narapidana.
Mengkaji perubahan makna.
    • Makna peyoratif, perubahan makna jelek menjadi baik. Contoh : pelacur-WTS, PSK.
    • Hubungan antarmakna
Hiponim, sinonim, antonim, meronim.
Kajian bahasa meliputi fonologi, morfologi, sitaksis, wacana-pendekatan pragmatis (bahasa dan konteks), dan semantik.

  1. Wacana
Bergantung pada ciri konteks atau situasinya. Contoh : Aduh cantiknya! (kalimat tersebut akan menimbulkan reaksi yang berbeda jika diucapkan pada gadis usia 17 tahun dengan nenek yang berusia 80 tahun). Konteks dari wacana ini adalah berupa waktu, tempat, situasi, kondisi, dan topik.
tekstur juga menjadi kajian dari wacana. tekstur ini adalah hubungan yang logis, sistematis antara hubungan wacana.
Contoh : 1. Pak Joni membeli mobil baru.
2. Mazda itu berwarna merah.
3. Merah adalah warna favorit remaja sekarang.
(1) dan (2) masih berhubungan, tetapi (3) sudah lepas.
Penanda kohesi.
Contoh : Pak Joni membeli mobil baru, mazda itu berwarna merah.
Penanda koherensi.
Contoh : 1. Matahari Jakarta serasa di ubun-ubun.
2. Ratusan pemuda bergoyang dalam irama jazz.
membangun koherensi dengan syarat pembaca harus membayangkan mengenai maksud daru dua kalimat tersebut (ada konser musik jazz saat cuaca panas dan para penontonnya bergoyang).