Mari membangun Bangsa dengan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 05 Februari 2011

Model Pembelajaran Menyimak Puisi

Ditulis oleh Wahyudi Siswanto

Petunjuk praktis model pendidikan etika di SMA melalui pembelajaran sastra ini meliputi (1) pengertian, (2) langkah, (3) hal yang perlu diperhatikan, (4) contoh, (5) variasi. Berikut ini akan dikembangkan beberapa model yang akan digunakan.

Dalam kegiatan ini kompetensi dasar yang bisa dikembangkan adalah sebagai berikut.
1. Mengungkapkan isi suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman (Menyimak)
2. Membahas isi puisi berkenaan dengan gambaran penginderaan, perasaan, pikiran, dan imajinasi melalui diskusi (Berbicara)
3. Menghubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat melalui diskusi (Berbicara)


Pernahkah Anda mendengarkan pembacaan puisi Taufiq Ismail atau Tamara Blinsizky di televisi? Mereka begitu menjiwai puisi yang mereka bawakan. Ekspresi wajahnya sesuai dengan isi puisinya. Gerak kepala dan tubuh mereka begitu menawan. Kalau Anda menonton, bagaimana pendapat Anda tentang penjiwaan mereka ketika membacakan puisi?
Ada banyak hal yang bisa Anda peroleh ketika mendengarkan pembacaan puisi. Pertama, Anda bisa mempertajam dan mengembangkan rasa keindahan dalam diri Anda. Rasa keindahan itu bisa dihadirkan oleh bunyi-bunyi indah dan irama yang Anda dengar dari pembacaan puisi. Bisa juga, rasa keindahan itu hadir pada saat Anda mendengar peribahasa dan ungkapan-ungkapan indah yang ada dalam puisi. Lebih jauh lagi, keindahan itu timbul akibat isi puisi itu yang memang benar dan indah. Kedua, Anda bisa mengembangkan sikap berempati dan bersimpati terhadap orang lain dengan mencoba merasakan apa yang dirasakan penyair atau yang diceritakan penyairnya. Anda juga bisa memperluas pengetahuan dan pengalaman dengan mendengarkan pembacaan puisi. Keempat, Anda bisa merefleksikan hasil pembacaan itu dalam berbagai bentuk, seperti tanggapan, tulisan, diskusi. Refleksi itu juga bisa berbentuk penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang ada di dalam puisi. Kelima, membelajarkan tentang apa yang Anda alami dan rasakan ketika mendengarkan pembacaan puisi kepada siswa Anda.
Ada beberapa model pembelajaran mendengarkan dan merefleksikan pembacaan puisi. Berikut ini akan diberikan beberapa modelnya. Anda bisa mengembangkan sendiri. Yang perlu diingat, pembelajaran ini bersifat menyenangkan dan menantang siswa.

Model 1
5. Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan tema puisi yang akan diperdengarkan.
6. Siswa dengan cara tertentu membentuk kelompok
7. Guru membacakan puisi
8. Siswa berdiskusi untuk menentukan
e. tema puisi,
f. menunjukkan relevansi tema dengan situasi sekarang;
g. mengemukakan hal menarik dalam puisi yang diperdengarkan dengan alasan yang logis;
h. menyimpulkan pesan puisi dalam bentuk ungkapan.

Model 2
1. Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan tema puisi yang akan diperdengarkan.
2. Guru membacakan puisi
3. Siswa menirukan pembacaan puisi (bisa secara klasikal, bisa individual)
4. Siswa berdiskusi untuk menentukan
a. tema puisi,
b. menunjukkan relevansi tema dengan situasi sekarang;
c. mengemukakan hal menarik dalam puisi yang diperdengarkan dengan alasan yang logis;
d. menyimpulkan pesan puisi dalam bentuk ungkapan.
5. Siswa membuat puisi

Kali ini bagaimana kalau kita belajar salah satu model mendengarkan dan merefleksikan pembacaan puisi? Pembelajaran ini bisa kita tempuh dengan kegiatan sebagai berikut.
1) Mengemukakan hal menarik dalam puisi yang diperdengarkan dengan alasan yang logis.
2) Menyimpulkan pesan puisi dalam bentuk ungkapan
3) Menentukan tema puisi yang diperdengarkan.
4) Menunjukkan relevansi tema dengan situasi sekarang.

1. Mengemukakan Hal Menarik dalam Puisi yang Diperdengarkan dengan Alasan yang Logis

Ada banyak hal yang menarik dari pembacaan puisi. Hal yang menarik itu bisa berupa cara pembacaannya, bisa juga hal-hal yang ada di dalam puisi itu sendiri. Kali ini, mari kita belajar mengemukakan hal-hal yang menarik dalam puisi yang diperdengarkan dengan mengemukakan alasan yang logis.
Untuk menentukan hal yang menarik di dalam puisi yang diperdengarkan, kita bisa melakukan beberapa kegiatan yang menyenangkan. Kegiatan itu adalah (a) mendengarkan pembacaan puisi, (b) bermain menirukan dan menghafal puisi.


a. Mendengarkan Pembacaan Puisi
Adakah di antara Anda yang bisa membacakan puisi? Saya yakin bahwa sebenarnya semuanya bisa membacakan puisi. Kali ini akan dibacakan puisi di bawah ini!
Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang

“Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian
Halaman enam puluh sembilan

“Ini ada kalimat menarik hati, berbunyi
‘Mengeritik itu boleh, asal membangun’
Nah anak-anak, renungkanlah makna ungkapan itu
Kemudian buat kalimat baru dengan kata-katamu sendiri”

Demikianlah kelas itu sepuluh menit dimasuki sunyi
Murid-murid itu termenung sendiri-sendiri
Ada yang memutar-mutar pensil dan bolpoin
Ada yang meletakkan ibu jari di dahi
Ada yang salah tingkah, duduk gelisah
Memikirkan sejumlah kata yang bisa serasi
Menjawab pertanyaan Pak Guru ini

“Ayo siapa yang sudah siap?
Maka tak ada seorang mengacungkan tangan
Kalau tidak menunduk sembunyi dari incaran guru
Murid-murid itu saling berpandangan saja

Akhirnya ada seorang disuruh maju ke depan
Dan dia pun memberi jawaban

“Mengeritik itu boleh, asalh membangun
Membangun itu boleh, asal mengeritik
Mengeritik itu tidak boleh, asal tidak membangun
Membangun itu tidak asal, mengeritik itu boleh tidak
Membangun mengeritik itu boleh asal
Mengeritik membangun itu asal boleh
Mengeritik itu membangun
Membangun itu mengeritik
Asal boleh mengeritik, boleh itu asal
Asal boleh membangun, asal itu boleh
Asal boleh itu mengeritik boleh asal
Itu boleh asal membangun asal boleh
Boleh itu asal
Asal itu boleh
Boleh boleh
Asal asal
Itu itu
Itu.”

“Nah anak-anak, itulah karya temanmu
Sudah kalian dengarkan ‘kan
Apa komentar kamu tentang karyanya tadi?”

Kelas itu tiga menit dimasuki sunyi
Tak seorang mengangkat tngan
Kalau tidak menunduk di muka guru
Murid-Murid itu cuma berpandang-pandangan
Tapi tiba-tiba mereka bersama menyanyi:

“Mengeritik itu membangun boleh asal
Membangun itu mengeritik asal boleh
Bangun bangun membangun kritik mengeritik
Mengeritik membangun asal mengeritik

“Dang ding dung ding dang ding dung
Ding dang ding dung ding dang ding dung
Leh boleh boleh boleh boleh
Boleh boleh asalh boleh.”

“Anak-anak, bapak bilang tadi
Mengarang itu harus dengan kata-kata sendiri
Tapi tadi tidak ada kosa kata lain sama sekali
Kalian cuma mengulang bolak-balik yang itu-itu juga
Itu kelemahan kalian yang pertama
Dan kelemahan kalian yang kedua
Kalian anemi referensi dan melarat bahan perbandingan
Itu karena malas baca buku apalagi karya sastra.”

“Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami ‘kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama, dan rabun puisi
Tapi mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi.”


b. Bermain Puisi
Kali ini, kita akan mencoba bermain-main dengan puisi yang kita dengar. Sekarang tirukanlah kata, gabungan kata, baris dan bait puisi di bawah ini sepersis mungkin! Setelah saya ucapkan, Anda menirukannya!
(1) Murid-murid, (Tirukan!)

(2) Murid-murid, pada hari (Tirukan!)

(3) Murid-murid, pada hari Senin ini (Tirukan!)

(4) Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita (Tirukan!)

(5) Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa (Tirukan!)

(6) Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus (Tirukan!)

(7) Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang (Tirukan!)

(8) Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang
Bukalah buku (Tirukan!)

(9) Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian (Tirukan!)

(10) Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian
Halaman enam puluh sembilan (Tirukan!)

c. Membaca Puisi
Setelah saya membacakan puisi, kini giliran Anda. Silakan salah satu dari Anda membacakan puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang” di atas!
1. Bagaimanakah pembacaan puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang” oleh teman Anda?
2. Apakah puisi di atas menarik? Kemukakan pendapat Anda tentang hal-hal yang menarik dalam puisi yang diperdengarkan dengan mengemukakan alasan yang logis!
a. Puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang” menarik karena rimanya ….
b. Puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang” menarik karena lambang dan simbol yang digunakan adalah ….
c. Puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang” menarik karena gaya bahasa yang digunakan …..
d. Puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang” menarik karena berisi ….

2. Menyimpulkan Pesan Puisi dalam Bentuk Ungkapan
Penyair seringkali menyampaikan pesan dan ajaran moral melalui puisi yang diciptakan. Marilah kita mencoba mencari pesan-pesan yang ingin disampaikan Taufiq Ismail dalam puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang”.
Di bawah ini ada beberapa kutipan dari puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang”, dari kutipan tersebut, tentukanlah pesan-pesan yang ada di dalamnya!
“Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian
Halaman enam puluh sembilan

Dari kutipan di atas, pesan apakah yang bisa anda dapatkan? Bagaimanakah cara mengajar guru seperti yang digambarkan di atas? Pesan dan nilai apakah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut?

“Ini ada kalimat menarik hati, berbunyi
‘Mengeritik itu boleh, asal membangun’
Nah anak-anak, renungkanlah makna ungkapan itu
Kemudian buat kalimat baru dengan kata-katamu sendiri”

Bagaimanakah tugas guru seperti kutipan di atas? Di manakah letak kelebihan atau kelemahan tugas guru seperti di atas? Pesan dan nilai apakah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut?


Akhirnya ada seorang disuruh maju ke depan
Dan dia pun memberi jawaban

“Mengeritik itu boleh, asalh membangun
Membangun itu boleh, asal mengeritik
Mengeritik itu tidak boleh, asal tidak membangun
Membangun itu tidak asal, mengeritik itu boleh tidak
Membangun mengeritik itu boleh asal
Mengeritik membangun itu asal boleh
Mengeritik itu membangun
Membangun itu mengeritik
Asal boleh mengeritik, boleh itu asal
Asal boleh membangun, asal itu boleh
Asal boleh itu mengeritik boleh asal
Itu boleh asal membangun asal boleh
Boleh itu asal
Asal itu boleh
Boleh boleh
Asal asal
Itu itu
Itu.”

Bagaimana jawaban murid di atas? Pesan dan nilai apakah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut?

“Anak-anak, bapak bilang tadi
Mengarang itu harus dengan kata-kata sendiri
Tapi tadi tidak ada kosa kata lain sama sekali
Kalian cuma mengulang bolak-balik yang itu-itu juga
Itu kelemahan kalian yang pertama
Dan kelemahan kalian yang kedua
Kalian anemi referensi dan melarat bahan perbandingan
Itu karena malas baca buku apalagi karya sastra.”

Menurut Anda, bagaimanakah komentar guru terhadap jawaban siswanya? Pesan dan nilai apakah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut?

“Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami ‘kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama, dan rabun puisi
Tapi mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi.”

Menurut Anda, bagaimanakah komentar siswa terhadap pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia? Pesan dan nilai apakah yang bisa diambil dari fakta tersebut?

3. Menentukan Tema Puisi yang Diperdengarkan


a. Menentukan Tema
Tema puisi adalah gagasan utama atau gagasan pokok yang disampaikan penyair kepada pembacanya. Sebagai pembaca karya sastra, Anda bisa memahami dan menemukan tema ini. Sesuai dengan hakikat karya sastra yang kaya akan makna, maka tema dalam puisi tidak bersifat tunggal. Tema dalam karya sastra bisa diungkapkan dalam beberapa pernyataan. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah secara mutlak tentang tema suatu karya sastra, asalkan bisa dipertanggungjawabkan dengan kata, baris, bait, tipografi, dan makna yang ada di dalam puisi. Itulah sebabnya, bila Anda mengajar kepada siswa dan menanyakan tentang tema sebuah puisi, jawaban yang benar terhadap pertanyaan ini tidak hanya satu. Beberapa tema yang diajukan siswa mungkin saja benar.
Untuk menentukan tema puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang” di atas, kerjakanlah tugas-tugas di bawah ini.
1. Tulislah empat pernyataan kemungkinan tema puisi di atas!
2. Cermatilah, bagaimanakah hubungan keempat pernyataan tema yang telah Anda tentukan! Apakah keempatnya mempunyai (a) hubungan sejajar (sama pentingnya); (b) sebab akibat; (c) akibat sebab; (d) pernyataan dan contoh, atau mempunyai hubungan lainnya.
3. Dari hasil mencermati hubungan tema yang Anda buat tersebut, sekarang tentukanlah satu tema puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang”!
4. Apakah tema itu dinyatakan oleh penyairnya di awal, tengah, atau akhir puisi? Ataukah tema itu baru bisa disimpulkan dari keseluruhan puisi?

b. Menentukan Kembali Tema Puisi
Seringkali bekerja kelompok hasilnya lebih baik daripada kerja seindirian. Dengan bekerja kelompok, kita bisa mengungkapkan pikiran kta kepada orang lain. Kita bisa saling menghargai pikiran orang lain. Untuk itulah, bentuklah kelompok, masing-masing beranggotakan empat atau lima orang.
1. Tentukan kembali tema puisi di atas!
2. Laporkan hasil diskusi Anda di muka kelas!
3. Untuk kelompok yang tidak sedang melaporkan hasil diskusinya, tanggapilah pendapat kelompok lain!

4. Menunjukkan Relevansi Tema dengan Situasi Sekarang

Tema dalam puisi adalah hasil pemikiran dan perasaan penyair. Ini bisa merupakan hasil tanggapan atau perenungan dari situasi yang dirasakan, dihayati dan dialami penyair. Apakah puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang” juga mencerminkan hal yang sama. Untuk membuktikannya, kerjakanlah tugas-tugas di bawah ini!
1. Saat ini banyak dilakukan peningkatan mutu guru bahasa Indonesia. Bagaimanakah kinerja guru sebelum tahun 2000?
2. Bagaimanakah cara mereka mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia waktu itu?
3. Keadaan pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia yang manakah yang digambarkan Taufiq Ismail dalam puisi “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang”?

5. Merancang Model Kegiatan

Dari kegiatan yang telah Anda lakukan, sebagai guru, rancanglah sebuah kegiatan belajar mengajar mendengarkan dan merefleksikan puisi. Anda bisa menggunakan puisi di bawah ini sebagai bahannya. Usahakan kegiatan yang Anda rancang membuat siswa bergembira dan ingin belajar lagi tentang sastra!





D. Zawawi Imron
Ibu
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudra
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu, bidadari yang ebrselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku


Sapardi Djoko Damono
SEPASANG SEPATU TUA

sepasang sepatu tua tergeletak di sudut sebuah gudang,
berdebu
yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat
jalan berlumpur sehabis hujan—keduanya telah jatuh
cinta kepada sepasang telapak kaki itu
yang kiri menerka mungkin besok mereka dibawa ke tempat
sampah dibakar bersama seberkas surat cinta, yang
kanan mengira mungkin besok mereka diangkut truk
sampah itu dibuang dan dibiarkan membusuk bersama
makanan sisa
sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya
bisa mereka pahami berdua
(1973)


Zaen Kasturi
“SAJAK BUAT PENCURI KASUTKU”
suatu malam—ketika aku ingin pulang ke kamar asingku
di pinggir kota, kulihat kasut biruku di tangga masjid
sudah hilang. aku tidak tahu siapa yang mencurinya
kerana aku bukan seorang tuk nujum yang bisa mengenal
wajah sang pencuri, juga tidak ada sebarang isyarat
yang dapat ditangkap oleh mata lahirku untuk mengesan
siapakah gerangannya, tidak mengapa, kasut yang kubeli
sebelum hari raya itu, sudah bisa menghafal segenap
langkahku di lorong-lorong kota Kuala Lumpur. Ia telah
banyak menyimpan rahasia telapak kakiku yang ada
bekas luka ketika main perang di pinggir sungai, zaman kanak
dahulu. Aku tidak sedih kehilangan kasut biru itu. Cuma
aku harap kasutku itu tidak menjadi pelapik lastik
untuk melastik kawanan gagak yang terbang di antara
gedung-gedung pencakar langit. Aku tidak mahu kasut itu
bertukar menjadi merah, semerah warna darah

6. Refleksi Kegiatan

Dari kegiatan mendengarkan dan merefleksikan pembacaan puisi di atas, apakah yang dapat Anda rasakan dan Anda dapatkan? Tuliskanlah!
(1) Yang saya rasakan setelah mengikuti kegiatan ini
a. Saya merasakan ….
b. ……………………

(2) Yang saya dapatkan setelah mengikuti kegiatan ini.
a. Saya mendapatkan ….
b. ………………………

(3) Agar kegiatan ini lebih menarik dan menantang, saya mengusulkan
a. ………………………..
b …………………………

Mendengarkan
Memahami cerita rakyat yang dituturkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar