Mari membangun Bangsa dengan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 08 Januari 2011

Linguistik Umum

Ditulis oleh Saif Al Hadi


 
  1. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi oral yang arbitrer yang digunakan oleh sekelompok manusia (masyarakat) sebagai alat komunikasi.
Bahasa juga merupakan bagian dari kebudayaan yang diperoleh manusia untuk mengkomunikasikan makna. Bahasa bekerja dalam cara yang teratur dan sistematis. Pada dasarnya bahasa adalah lisan, dan simbol-simbol oral itu mewakili makna karena simbol-simbol itu dihubungkan dengan situasi dan pengalaman kehidupan.
Bahasa memiliki fungsi sosial, dan tanpa fungsi itu masyarakat mungkin tidak ada.

  1. Karakteristik Bahasa
    1. Oral. Pada hakikatnya bahasa adalah lisan atau oral, yang mana ada kalanya tidak bisa diungkapkan secara sempurna dengan tulisan.
    2. Sistematis, Sistemis, dan Komplit. Sistematis berarti bahasa mempunyai aturan, kaidah, atau dapat diartikan mempunyai jumlah yang terbatas untuk bisa dikombinasikan. Sistemis berarti bahasa bekerja dalam sebuah sistem dan sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. Dan yang dimaksud komplit yaitu, dengan bahasa kita dapat mengungkapkan segala hal walaupun tentang sesuatu yang belum kita ketahui.
    3. Arbitrer dan Simbolis. Arbitrer artinya, bahasa yang kita gunakan tidak selalu logis atau punya alasan tertentu, sifat ini hanya berlaku dalam masyarakat bahasa dalam bentuk kesepakatan atau konvensi. Sifat simbolis yang dimiliki bahasa dapat mengabstraksikan ide-ide dan pengalaman, meskipun kita belum pernah mengalaminya secara langsung.
    4. Konvensional, berdasarkan kesepakatan tetapi bukan kesepakatan melalui rapat, dan pemakai bahasa harus tunduk pada kesepakatan itu. Karena jika tidak, maka bahasa tersebut tidak akan komunikatif.
    5. Unik dan Universal. Dalam beberapa bahasa tertentu ciri yang unik, namun tetap mempunyai ciri yang universal atau umum sebagaimana pada bahasa lainnya.
    6. Beragam. Bahasa tidaklah monolitik tapi mempunyai ragam yang bermacam-macan tergantung pada dasar klasifikasinya. Berdasarkan kebakuannya, bahasa dikategorikan menjadi dua, yaitu: ragam baku dan ragam subbaku. Berdasarkan formalitas pemakaiannyadigolongkan menjadi lima ragam, yaitu: ragam beku, ragam resmi, ragam usaha, ragam santai, dan ragam akrab.
    7. Berkembang. Seirng dengan berkembangnya teknologi maka bahasa pun ikut berkembang dengan menggunakan kata-kata yang berasal dari bahasa asing.
    8. Produktif dan Kreatif. Karakter ini tergantung pada pemakainya. Pemakai bahsa dengan pola-pola dan lambing-lambang yang terbatas dapat mengkreasikan hal-hal baru melalui bahasa.
    9. Merupakan Fenomena Sosial. Bahasa merefleksikan kebudayaan masyarakat pemakainya, karena bahasa merupakan bagian dari sistem nilai, kebiasaan dan keyakinan yang kompleks dalam membentuk suatu kebudayaan.
    10. Bersifat Insani. Hanya manusia yang mempunyai kemampuan berbahasa. Bahasa juga merupakan suatu aspek perilaku yang bisa dipelajari oleh manusia.

  1. Satuan-Satuan Bahasa
Satuan bahasa (linguistic unit) merupakan bentuk-bentuk lingual yang merupakan komponen pembentuk bahasa yang hanya mengacu pada unsur atau komponen bahasa. Jadi, harus disadari bahwa ada bentuk lingual dan nonlingual.
Adapun wujud satuan bahaa adalah sebagai berikut:
    1. Fon dan Fonem. Fon merupakan satuan bahasa yang bersifat konkret, dapat didengar dan diucapkan. Sedangkan fonem adalah abstraksi dari fon. Contoh fon: Panci, terdiri atas p/a/n/c/i. Lutut terdiri atas l/u/t.
    2. Morf dan Morfem. Morf terdapat dalam pelaksanaan bahasa, dapat diidentifikasi, diucapkan dan didengar. Sedangkan morfem bersifat abstrak. Contoh: bekerja dan berjalan mempunyai bentuk awalan yang berbeda, yaitu ber- dan be-. Namun keduanya tetap memiliki makna yang sama.
    3. Kata. Satuan bahasa yang terbentuk dari satu morfem atau lebih. Misalnya, kata melihat terdiri dari morfem me- dan lihat. Kata aku terdiri dari satu morfem.
    4. Frase. Satuan grmatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak terdiri atas subjek dan objek. Contoh: kaki saya, kaki meja kayu.
    5. Klausa. Satuan gramatikal unsure pembentuk kalimat yang berstruktur predikatif. Klausa bukanlah kalimat dan diakhiri dengan titik tiga (…). Contoh: dia telah berjalan…
    6. Kalimat. Ujaran yang berisi pikiran lengkap yang tersusun dari subjek dan predikat, dengan pengertian bahwa subjek adalah tentang apa yang dikatakan dan predikat adalah apa yang dikatakan tentang subjek.
    7. Gugus Kalimat. Satuan-satuan bahasa yang lebih kecil dari paragraf, karena gugus itu berada dalam paragraph.
    8. Paragraf. Terbentuk dari sejumlah kalimat, tapi lebih besar dari gugus kalimat. Jumlah kalimat dan paragraf juga bermacam-macam.
    9. Wacana. Wacana adalah satuan kalimat yang paling besar. Kridalaksana mengartikan wacana sebagai tujuan bahasa terlengkap. Wacana ada yang berbentuk lisan dan tulisan.

  1. Fungsi Bahasa
Berikut adalah beberapa fungsi bahasa:
    1. Fungsi personal, untuk menyatakan diri.
    2. Fungsi interpersonal, untuk menyatakan hubungan dengan orang lain.
    3. Fungsi direktif, untuk mengatur orang lain.
    4. Fungsi referensial, untuk menampilkan suatu referen (kabar, benda, dan lain sebagainya) dengan menggunakan lambang bahasa.
    5. Fungsi imajinatif, untuk nenciptakan sesuatu dengan berimajinasi.
    6. Fungsi fatik (phatic), untuk berbasa-basi.


  1. Teori Asal Mula Bahasa
Para ahli bahasa mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentng asal mula bahasa itu, antara lain adalah sebagai berikut:
    1. Teori tekanan sosial, manusia primitif dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami antara satu dengan yang lainnya.
    2. Teori ekoik (gema), objek diberi nama sesuai dengan bunyi yang dihasilkan.
    3. Teori interjeksi, manusia bersuara secara instingtif karena tekanan batin, rasa sakit, dan lain sebagainya.
    4. Teori isyarat, bahasa pertama kali dilakukan dengan isyarat.
    5. Bersumber dari Tuhan. Sebagaimana yang tersurat dalam Al-Quran (Ar-Rum: 22), Injil (Kejadian 2:19), dan Weda.

  1. Pilihan Dikotomis Bahasa
Bahasa sebagai objek kajian linguistik lazim dikaji secara dikotomis.
    1. Langue dan Parole. Langue adalah sistem bahasa yang dipakai untuk mengungkapkan gagasan, sedangkan parole adalah wujud bahasa seseorang (tiap orang berbeda).
Perbedaan antara langue dan parole:
  1. Parole bersifat perorangan, di dalamnya tidak terdapat sistem bahasa yang utuh.
  2. Parole jumlahnya tak terbatas, sedangkan langue terbatas.
  3. Parole bersifat sesaat dan langue berada dalam keseluruhan kesan yang tersimpan dalam otak setiap anggota masyarakat.
  4. Langue adalah abstraksi dari parole.
    1. Petanda dan penanda, petanda adalah konsep, sedangkan penanda yaitu ciri akuistik atau bunyi ujar.
    2. Relasi sintagmatis dan relasi paradigmatis
Relasi sintagmatis, relasi horizontal atau relasi antarunsur bahasa yang hadir dalam satu tuturan, disebut juga relasi inpraesentia.
Contoh : tetangga adik teman saya
adik teman tetangga saya
b-a-t-u pagi-tadi
b-a-u-t tadi-pagi
dan lain sebagainya.
Relasi paradigmatis, relasi antarunsur dalam tuturan dan unsur yang tidak hadir dalam tuturan. Unsur yang tidak hadir ini adalah unsur yang diasosiasikan (inabsentia).
Contoh : Ali mencium ibu s-a-r-i
Ali menggandeng ibu c-a-r-i
t-a-r-I,
dan lain sebagainya.
    1. Kompetensi dan Performansi
Kompetensi, pengetahuan seseorang tentang sistem bahasa, bersifat kumulatif, dan melalui proses belajar.
Performansi, pelaksanaan bahasa.
    1. Struktur batin dan struktur lahir
Struktur batin, gagasan yang mendasari kalimat, berbentuk abstrak, tak bisa dilihat dan didengar.
Struktur lahir, bahasa yang tampak, bisa didengar atau dibaca.

Selain bahasa dikaji secara dikotomis, kajian bahasa juga digunakan untuk kajian ilmiah. Yang dimaksud ilmiah adalah pengetahuan yang didapat melalui metodwe ilmiah. Ada pun berbagai macam dari metode ilmiah itu sendiri seperti, deduktif, induktif, dan logika-hipotetiko-verifikatif. Karakteristik ilmu yaitu, objektif, sistematis, logis, empiris, dan akumulatif (semakin bertambah atau berkembang).
Ciri khusus dari kajian bahasa ini adalah:
  1. Bahasa didekati secara deskriptif, apa adanya, bukan secara prespiktif.
  2. Tidak berusaha memaksakan satu kerangka bahasa ke dalam bahasa lain.
  3. Bahasa disikapi sebagai sistem dan bukan sesuatu yang lepas.
  4. Bahasa diperlukan sebagaisuatu yang dinamis.


  1. Dasar-Dasar Fonologi
Konsep dasar
FON : realisasi bunyi atau wujud bunyi. Fon berada dalam tataran parole
Contoh: [i], [I], [u], [U], [e], dan lain-lain.
FONEM : abstraksi bunyi atau bunyi yang membedakan makna, berada dalam tataran langue.
Contoh: /i/-/u/: kami-kamu, /c/-/t/: cari-tari.
ALOFON : anggota dari fonem yang sama.
Contoh: /i/, [i], [I], /u/, [u], [U], [k], [?], [Ø].
FONETIK : kajian fon. Ada tiga macam fonetik, yaitu:
  • Fonetik artikulatoris : bagaimana bunyi dihasilkan oleh alat ucap manusia.
  • Fonetik akustis : arus bunyi keluar dari rongga mulut berupa gelombang bunyi.
  • Fonetik artikulatoris : bagaimana bunyi diterima indra pendengar dan syaraf pendengar.
Prosedur penghasil bunyi
    • Alat wicara, terdiri atas sisten pernafasan (di rongga dada), sistem pembunyian (di tenggorokan), dan sistem pengucapan (di mulut).
    • Aliran udara, yaitu di paru-paru, di glottal (hidung / yang menghasilkan bunyi sengal), dan di langit-langit lunak.
    • Jenis bunyi
      • Vokal, bunyi bahasa yang ditandai dengan udara dari paru-paru tidak mendapat hambatan berarti.
        • Jenis vokal
          • Posisi bibir
            • Vokal bundar : o, u, a
            • Vokal rata : i, u
          • Tinggi rendahnya lidah
            • Vokal depan : i, e (ujung lidah dinaikan)
            • Vokal pusat : e (pepet, lidah rata)
            • Vokal belakang : u, o,a (belakang lidah dinaikan)
          • Maju mundurnya lidah
            • Vokal atas : i, e (dekat dengan alveolum)
            • Vokal tengah : e (pepet, lebih mundur lagi)
            • Vokal bawah : a (jauh dari alveolum)

Peta Vokal

Depan
Pusat
Belakang
Atas
i
-
u
Tengah
e
e (pepet)
o
Bawah


a

        • Diftong : vokal yang berubah kualitasnya.
Contoh: [balai], [surau]
        • Gugus konsonan (Cluster), dua atau lebih deret konsonan yang tergolong dalam satu suku kata. Contoh: ma-kan (dua suku kata), [praktik]
        • Fonotaktik, caramerangkai fonem untuk membentuk satuan fonologis. Contoh: i-bu (v-kv), ka-sur (kv-kvk)
      • Konsonan, bunyi bahasa yang ditandai dengan udara dari paru-paru mendapat hambatan. Jenis konsonan:
        • Berdasarkan artikulator (alat ucap yang dapat digerakan) atau titik artikulasi, yaitu: bilabial, labiodental, apikodental, laminoalveolar, laminopalatal, faringal, dan glotal.
        • Berdasarkan macam-macam halangan udara yang dijumpai:
          • Konsonan hanbat : stop
          • Konsonan frikatif : gesek
          • Konsonan spiran : sengauan
          • Konsonan likwida : luncur
          • Konsonan trill : getar
        • Berdasarkan turut tidaknya pita suara bergetar
          • Konsonan bersuara : z, o, l, m, g
          • Konsonan tidak bersuara : s, f, t, k
        • Berdasarkan jalan keluarnya
          • Konsonan hidung (nasal)
          • Konsonan mulut (oral)

Klasifikasi bunyi dan cara menghasilkannya
  1. Berdasarkan ronga yang dilewati udara
    1. Bunyi oral, bunyi Yang dihasilkan dengan udara lewat rongga mulut. Contoh: [b], [d]
    2. Bunyi nasal, bunyi yang dihasilkan dengan udara lewat rongga hidung. Contoh: [m], [n]
  1. Berdasarkan ada tidaknya hambatan udara
    1. Bunyi vokal, bunyi yang dihasilkan dengan udara tanpa hambatan.
Contoh: [a], [i]
    1. Bunyi konsonan, bunyi yang dihasilkan dengan udara mengalami hambatan. Contoh: [p], [c]
  1. Berdasarkan jenis hambatan
    1. Bunyi stop atau bunyi letus, bunyi yang dihasilkan dengan udara terhenti sama sekali dan dilepaskan dengan tiba-tiba.
Contoh: [p], [b]
    1. Bunyi geser atau frikatif, bunyi yang dihasilkan dengan udara yang mengalami geseran.
Contoh: [f], [s]
    1. Bunyi afrikat atau paduan, bunyi yang dihasilkan dengan udara yang tidak terhenti sama sekali dan juga tidak mengalami geseran.
Contoh: [c], [j]
    1. Bunyi lateral atau samping, bunyi yang dihasilkan dengan udara melalui sisi lidah yang menghalangi keluarnya udara.
Contoh: [l]
    1. Bunyi getar, bunyi yang dihasilkan dengan cara udara tergetar di dalam mulut yang disebabkan oleh getaran lidah.
Contoh: [r]
    1. Bunyi semi vokal atau luncur, bunyi yang dihasilkan dengan udara meluncur (bukannya tanpa hambatan sama sekali).
Contoh: [w], [y].
  1. Berdasarkan besar kecilnya getaran pita suara dan besarnya udara yang keluar dari paru-paru.
    1. Bunyi bersuara, bunyi yang dihasilkan dengan udara besar sehingga pita suara mengalami getaran besar.
Contoh: [b], [g].
    1. Bunyi tak bersuara, bunyi yang dihasilkan dengan udara kecil, sehingga pita tidak mengalami getaran besar.
Contoh: [p], [c].

  1. berdasarkan alat ucap yang menghasilkannya.
    1. Bunyi labial, bunyi yang dihasilkan bibir atas dan bawah.
Contoh: [w], [p].
    1. Bunyi labiodental, bunyi yang dihasilkan bibir bawah dan gigi atas.
Contoh: [f]
    1. Bunyi apikodental, bunyi yang dihasilkan gigi atas dan bawah serta ujung lidah.
Contoh: [t].
    1. Bunyi apikoalveolar, bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan pangkal gigi (alveolum).
Contoh: [n].
    1. Bunyi apikopalatal, bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan langit-langit keras. Bila ujung lidah itu membalik ke arah belakang, maka bunyi yang dihasilkan adalah bunyi retrofleks.
Contoh: [d].
    1. Bunyi laminoalveolar, bunyi yang dihasilkan oleh daun lidah (lamina) dan pangkal gigi (alveolum).
Contoh: [s].
    1. Bunyi laminopalatal, bunyi yang dihasilkan oleh lamina dan langit-langit keras.
Contoh: [c], [j].
    1. Bunyi dorsovelar, bunyi yang dihasilkan oleh punggung lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum).
Contoh: [k], [g].
    1. Bunyi uvula, bunyi yang dihasilkan oleh belakang lidah dan anak tekak (uvula).
Contoh: [q].
    1. Bunyi faringal, bunyi yang dihasilkan atau yang proses penghasilannya berada di dalam rongga faring.
Contoh: [h].
    1. Bunyi glotal, bunyi yang dihasilkan oleh pita suara dalam rongga antara kedua pita itu yang disebut glotis.
Contoh: [‘].

LABIAL DENTAL PLATAL VELAR
GLOTAL
ts
p
t
c
k

Hambatan
bs

b

d

j

g

ts
Geser
bs
f

w
0 s

z
S

z
x

y
h

L
Nasal

m
n

n n
Lateral

l

L

Getar

r


R



bilabial
Labio-dental
Dental
Alveoar
Post Alveolar
Palatal
Velar
Glottal
STOP
p, b


t, d


k, g

AFFRICATE






d

NASAL
m


n




LATERAL



I




FRICATIVE

f, v
o
s, z
r


h
SEMI-VOWEL
w








Semi-vokal
geletar
geseran
sampingan
sengau
paduan
letupan
Jenis konsonan


Tempat artikulasi
W



m

pb
Bilabial
W

v




Inbio-dental







Apiko-dental

r

l
n

td
Apiko-alveolar


r



td
Apiko-palatal (retrofleks)


sz




Lamino-alveolar
J



n
t d
td
Medio-laminal






kg
Dorso-velar

r (R)





Uvular


h




Faringal






?
Hamzah


  1. Morfologi
Morf : bentuk atau wujud yang bisa didengar, diucapkan, diujarkan. Morf ada pada tataran parole.
Morfem : abstraksi dari morf.
Alomorf : sejumlah morf yang menjadi anggota dari morfem yang sama.
Contoh: membakar bakar dibakar
menyapu sapu disapu
mencubit cubit dicubit
menggulai gulai digulai
melarang larang dilarang
Semua imbuhan yang bergaris bawa adalah anggota dari morfem yang sama, yaitu me(nasal) / me(N). artinyabisa ada, bisa tidak.
Morfologi dikaji untuk mengklasifikasi atau membeda-bedakan setiap jenis dan macam bahasa.
Jenis-jenis morfem
      • Morfem terikat, morfem yang harus digabung atau dirangkai dengan morfem lain, karena tidak dapat berdiri sendiri. Contoh: {di-}, {me-}, {juang}, dan lain-lain.
      • Morfem bebas, morfem yang dapat berdiri sendiri, walaupun tanpa harus digabung. Contoh :{pulang}, {cubit}
      • Morfem monofonemis, morfem yang terdiri dari satu fonem
Contoh : asusila-a (tidak), irasional-I (tidak), dan lain-lain.
      • Morfem polyfonemis, morfem yang terdiri dari lebih dari satu fonem. Contoh : {di-}, {-an}, {-kan}, dan lain-lain.
      • Morfem kosong (zero morfem). Contoh : makan (aktif)
      • Morfem bermakna leksikal, morfem yang mempunyai makna kamus. Contoh: {juli} (bulan ketujuh tahun masehi)
      • Morfem tidak bermakna leksikal, morfem yang tidak mempunyai makna dalam kamus.
      • Morfem segmental, morfem yang bisa dilafalkan, diujarkan dengan morfem ujaran. Contoh : {di-}-d+i
      • Morfem suprasegmental, morfem yang berintonasi (memiliki lagu-lagu). Biasanya terdapat pada bahasa yang menggunakan tone language / bahasa bunyi, seperti pada bahasa cina.
      • Morfem utuh, morfem yang tidak bisa dibelah dan tidak pernah disispi. Contoh : ibu, ayah (tidak pernah disisipi)
      • Morfem terbelah, morfem yang terbelah dan dapat disispi. Contoh : gerigi- asal katanya gigi dan dapat imbuhan –er di dalamya, gemetar-asal katanya getar dan dapat imbuhan-em di dalamnya.

  1. Proses Morfologi
Proses morfologi: proses penggabungan morfem menjadi kata.
Contoh : berlari-lari, terdiri atas morfem lari, ber-, dan R
Beberapa jenis proses morfologi:
  1. Afiksasi : penambahan afiks atau imbuhan
Contoh : di + makan = prefiks
makan + an = sufiks
gemetar = getar + em = infiks
ke + ada + an = ada + ke-an = konfiks
  1. Reduplukasi : pengulangan
Contoh : rumah-rumah = rumah, R
Kemerah-merahan = ke-an, merah, R
  1. Suplisi : perubahan morfem berdasarkan waktu (seperti dalam bahasa inggris misalnya)
Contoh : go – went (pergi)
good – best (baik)
  1. Modifikasi : berubah tapi kosong
Contoh : cut-cut, put-put, memukul, menjahit, mencuci, Ø makan.
  1. Komposisi : kemajemukan atau bergabungnya dua morfim dan menimbulkan makna baru.
Contoh : rumah sakit = rumah, sakit

  1. Dasar-Dasar Sintaksis
Sintaksis adalah penyusunan kata menjadi kalimat yang gramatikal.
Alat sintaksis adalah urutan kata (dalam bahasa latin tidak digunakan), bentuk kata, intonasi, dan kata tugas. Yang dimaksud dengan kata tugas adalah kata yang mempunyai makna gramatikal dan hanya bisa hidup hanya dalam kalimat yang gramatis.
Contoh : di, ke, dan, yang, dari, dan lain-lain.
Obyek kajian sintaksis
      • Frase, kelompok kata yang tidak membentuk hubungan predikatif dan tidak melebihi batas fungsi. Contoh : gedung baru itu(S) bagus(P) sekali.
      • Klausa, kelompok kata yang membangun hubungan predikatif yang berpotensi menjadi kalimat jika diberi intinasi akhir atau final. Klausa bersifat abstrak, tidak berwujud dan tidak dapat didengar. Contoh : saya makan (diawali dengan huruf kecil, tidak diberi intonasi akhir berupa titik, tanda seru, dan tanda tanya).
      • Kalimat, ujaran yang diapit oleh dua kesenyapan sedanglan intonasinya menunjukan bahwa ujaran tersebut telah selesai. Contoh : keluar! (termasuk dalam kalimat walaupun hanya terdiri dari satu kata, karena mempunyai intonasi akhir.
Analisis kalimat.
      • Analisis kategori, mengelompokkan kata-kata yang ada dalam kalimat berdasarkan bentuk dari perilaku kata-kata itu. Contoh : kuda tertawa (kalimat tersebut tidak dapat diterima karena kuda adalah non human), adik makan (diterima karena human).
      • Analisis fungsi, melihat kedudukan kata ini dengan kata lain. Contoh : Ali(S) makan(P) mie(O).
      • Analisis peran, contoh : Ali(S) makan(P) mie(O) – Mie(S, penderita) dimakan(P) Ali(O).

  1. Semantik
Berasal dari bahasa latin, sema berarti tanda, semaino berarti menandai atau berarti. jangkauan semantik meliputi seluruh aspek lunguistik kecuali fonologi.
Jenis makna.
    • Makna leksikal.
      • Denotatif, makna referensial atau makna yang sesungguhnya. Contoh : tikus (hewan).
      • Konotatif, makna perluasan yang menunjukkan pada sesuatu yang lain. Contoh : tikus (koruptor).
    • Makna idiomatik, kata-kata yang disusun menjadi makna yang berlainan. Contoh : rumah sakit, narapidana.
Mengkaji perubahan makna.
    • Makna peyoratif, perubahan makna jelek menjadi baik. Contoh : pelacur-WTS, PSK.
    • Hubungan antarmakna
Hiponim, sinonim, antonim, meronim.
Kajian bahasa meliputi fonologi, morfologi, sitaksis, wacana-pendekatan pragmatis (bahasa dan konteks), dan semantik.

  1. Wacana
Bergantung pada ciri konteks atau situasinya. Contoh : Aduh cantiknya! (kalimat tersebut akan menimbulkan reaksi yang berbeda jika diucapkan pada gadis usia 17 tahun dengan nenek yang berusia 80 tahun). Konteks dari wacana ini adalah berupa waktu, tempat, situasi, kondisi, dan topik.
tekstur juga menjadi kajian dari wacana. tekstur ini adalah hubungan yang logis, sistematis antara hubungan wacana.
Contoh : 1. Pak Joni membeli mobil baru.
2. Mazda itu berwarna merah.
3. Merah adalah warna favorit remaja sekarang.
(1) dan (2) masih berhubungan, tetapi (3) sudah lepas.
Penanda kohesi.
Contoh : Pak Joni membeli mobil baru, mazda itu berwarna merah.
Penanda koherensi.
Contoh : 1. Matahari Jakarta serasa di ubun-ubun.
2. Ratusan pemuda bergoyang dalam irama jazz.
membangun koherensi dengan syarat pembaca harus membayangkan mengenai maksud daru dua kalimat tersebut (ada konser musik jazz saat cuaca panas dan para penontonnya bergoyang).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar